Boros memiliki arti: berlebihan. Jadi boros dalam konteks keuangan, berarti ada pembelanjaan yang melebihi porsi yang seharusnya. Merasa punya problem seperti ini? Ayo baca terus.

Setiap hal yang berlebihan tentu kurang baik dan tidak memiliki manfaat, karena ada sumber daya seperti dana, tenaga, atau waktu yang terbuang percuma, yang sebenarnya bisa ditujukan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Banyak problem keuangan keluarga berawal dari masalah pemborosan. Adanya pembengkakan di pos-pos pembelanjaan tertentu membuat tidak ada dana untuk pos-pos lain yang lebih penting, seperti: menabung atau investasi. Efek samping pemborosan tidak bisa dianggap remeh karena bisa mengorbankan masa depan anak-anak dan keluarga.

Mengapa kita cenderung boros? Berikut ini ada 10 hal yang kerap menjadi penyebabnya:

1.   Ingin menjaga image

Keinginan untuk tampil lebih “wah” dibanding orang lain adalah keinginan yang manusiawi. Sayangnya, banyak orang yang menjadikan ini sebagai fokus utama dalam hidupnya. Tetangga beli kulkas, kita ingin kulkas yang lebih besar lagi, padahal belum tentu membutuhkannya.

2.   Tidak jujur pada diri sendiri

Ini sering terjadi pada saat kita bersosialisasi. Ikut ngopi-ngopi dengan teman-teman padahal secara keuangan, kita sedang tidak ada dana untuk menikmati secangkir kopi mahal di café ternama. Membohongi diri sendiri demi gaya hidup.

3.   Nanti akan ada rejeki kok

Banyak orang membelanjakan uang padahal uang tersebut ada di tangan. Honor pekerjaan akan ditransfer akhir bulan, tapi sebelum uang tersedia, kok sudah berbelanja menikmati Great Sale di mall? Saat uang tersedia, kita baru menyadari bahwa uang yang dibelanjakan melebihi uang yang diterima (karena bunga kartu kredit)

4.   Pakai kartu kredit lebih asyik sih

Kartu kredit memang membuat berbelanja dengan uang tunai terasa kuno dan usang. Padahal dengan uang tunai kita bisa melihat langsung berapa sisa uang yang kita miliki, sehingga bisa mengukur kemampuan finansial kita di saat itu juga.

5.   Pemuasan diri instan

Fasilitas kartu kredit atau debit menjadikan proses belanja jadi jauh lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini sering membuyarkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Kita bisa membeli hal yang disuka dalam waktu kurang dari 5 menit, padahal setelah membeli kita baru menyadari bahwa barang tersebut kurang dibutuhkan

6.   Menjaga gaya hidup

Ini sering terjadi pada mereka yang dulunya menjalani gaya hidup mewah tapi kini mengalami kemunduran finansial. Pendapatan menurun tapi gaya hidup masih tetap sama.

7.   Masa kecil yang sulit

Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang dahulu semasa kecil berada pada kesulitan ekonomi, cenderung lebih mudah menjadi “shopaholic” alias pecandu belanja. Apa yang dimiliki harus segera dibelanjakan, mungkin karena takut jika tidak dibelanjakan uang akan hilang secara percuma.

8.   Memiliki kekuatan tersendiri

Membelanjakan uang membuat banyak orang merasa berkuasa, baik membayar tunai atau menggesek kartu kredit gold atau platinum. Padahal perasaan berkuasa itu hanya sementara dan semu (berbelanja jutaan tapi lewat hutang kartu kredit)

9.   Meningkatkan harga diri

Membeli pakaian desainer ternama seharga jutaan rupiah, biaya ke salon ratusan ribu setiap minggu dan hal mewah lainnya dianggap mampu meningkatkan nilai diri mereka

10.  Tidak bisa berkata “tidak!”

Banyak orang tua tidak  bisa menolak permintaan anak, apa pun yang diminta anak pasti dipenuhi padahal secara keuangan tidak mampu, sehingga menggunakan kartu kredit semata-mata untuk menyenangkan anak. Ini juga menjadi tugas penting para orang tua, untuk mengajar anak mereka bahwa tidak semua yang diminta harus dipenuhi.

 

 

Sumber: http://www.stretcher.com/stories/01/010917c.cfm#.UWaFrSvDkjc

50 Financial Wisdom, Eko P. Pratomo, Kontan Publishing.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+