Pernahkah Mama-Papa melihat beberapa anak usia 3-4 tahun mengerubuti seseorang dan salah satu anak memberondongnya dengan berbagai pertanyaan? Kemudian muncul pertanyaan berikutnya, apakah anak itu cerdas? Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Personality Development, anak yang memiliki kecerdasan tinggi akan belajar berbicara lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya lebih rendah.

Kalau boleh menyimpulkan apa yang ditulis oleh Elizabeth dalam bukunya tersebut, anak yang memiliki intelegensi tinggi berbicara lebih awal sedangkan anak yang memiliki intelegensi rendah kemampuan berbahasa dan berbicaranya akan terlambat.

Nah, jika kebetulan Si Kecil mendapat anugerah tersebut, Mama-Papa boleh berbangga. Akan tetapi bangga saja tidak akan cukup karena membuat Si Kecil untuk tetap memiliki kemampuan bertanya bukanlah pekerjaan yang mudah. Sering sekali Mama atau Papa merasa frustasi karena tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Si Kecil.

Barbara's Mailbag, seorang konsultan dan penulis buku Put Yourself in Their Shoes: Understanding How Your Children See the World, mengatakan bahwa Si Kecil yang banyak bertanya itu tidak sedang membutuhkan jawaban seorang professor dengan dasar teori yang lengkap. Jawablah pertanyaan itu sebisa Mama. Misalnya jika muncul pertanyaan, “Kenapa Elmo tidak punya gigi? Jawab saja dengan, “Karena Elmo adalah sebuah boneka.”

Dengan menjawab pertanyaan Si Kecil dengan perhatian dan kesungguhan, tanpa ada rasa pretend atau meremehkan, maka secara tidak langsung Mama telah mendorong perkembangan intelektualnya. Tidak itu saja, kepercayaan diri juga kredibilitasnya akan meningkat.

Saat menjawab pertanyaan Si Kecil hindari situasi menyalahkan, hindari kalimat “Itu pertanyaan bodoh, Nak!” Atau kalimat yang meremehkan seperti, “Kau belum cukup umur untuk bertanya tentang hal itu.”  Atau yang paling parah adalah “ Stttt, diam. Jangan banyak tanya!”

Banyaknya pertanyaan Si Kecil memang bisa menjadi salah satu indikasi kecerdasan anak. Namun yang menjadi kata kunci utama selain jawaban Mama dan Papa adalah saat Si Kecil tidak mendapat jawababan yang memuaskan, sehingga Si Kecil tidak akan belajar dan mempelajari pertanyaannya.

Namun bukan Si Kecil kalau tidak mendapat pelajaran dari sebuah peristiwa. Jika jawaban tidak memuaskan diterima, maka Si Kecil akan mempelajari sikap Mama-Papa dalam menjawab pertanyaan. Jika Mama-Papa menjawab pertanyaan Si Kecil dengan tak acuh, bersiaplah untuk menerima jawaban tak acuh dari anak.

Satu hal lagi sebagai penutup, anak yang suka bertanya biasanya juga suka jika tantang untuk memberi jawaban. Cobalah untuk membuat pertanyaan yang sederhana seperti: “Kenapa langit biru?” Atau “Kenapa Mama melarang kamu untuk tidak banyak-banyak minum es krim?” Memancing Si Kecil untuk menjawab sama dengan membantu dia untuk belajar berpikir tentang hal-hal yang berbeda dengan sudut pandang yang berbeda pula. Nah, Mama selamat berinteraksi dengan Si Cerdas, ingat, jawaban atau pertanyaan yang Mama-Papa berikan akan bermanfaat di seumur hidupnya.

 

Sumber:

http://www.psychologymania.com/2012/12/faktor-yang-mempengaruhi-keterampilan.html

http://www.boston.com/community/moms/blogs/child_caring/2009/05/why_oh_why_todd.html

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+