Siapakah inspirasi (atau inspirator) Mama dalam memberi ASI?

Inspirasi itu perlu, agar kita memiliki panutan yang memacu menjadi lebih baik. Bisa Mama kita, mertua, kakak/adik, sahabat, artis, konselor ASI… bagi aku adalah Mama. Klise memang, tapi kini baru kusadari bahwa aku begini karena Mama.

Mama sedari dulu mencekoki cerita tentang aku dan adikku disusui hingga dua tahun. “Kalau Mama bisa, kamu pasti bisa,” ujar beliau berkali-kali. Dan semuanya disampaikan dengan nada normal, seperti seharusnya. Sehingga ketiba tiba giliran aku menjadi Mama, bagi aku yang normal, ya seperti demikian. Di otakku, menyusui dua tahun itu bukan masalah bisa atau enggak, melainkan mau apa tidak.

Berbekal kepedean dan keyakinan bahwa menyusui itu adalah kodrat setiap wanita, Alhamdulillah sukses menyusui Nadine selama dua tahun korting satu bulan (mendadak saja di usia 23 bulan ia tertawa geli setiap disodori payudara. Nak, nak, cepat sekali sih kamu besarnya), sementara Nuala bercokol di dua tahun sembilan bulan (atau sepuluh bulan? Rasanya lama sekali sampai sudah give up ini anak kapan bosen menyusu).

Hore! Memang pekerjaan aku yang fleksibel memungkinkan untuk menyusui anak-anak kapan saja, tetapi ASI-ku tidak berlimpah ruah. Tidak seperti temanku yang bisa menyetok berpuluh-puluh botol ASI perah. ASI-ku ala kadarnya, cukup untuk seorang buah hati. Ada momen kok dimana aku merasa minder apalagi melihat Nuala yang berat badannya di range bawah. Ternyata dokter mengkonfirmasi Nuala kurus bukanlah karena kurang gizi melainkan karena sangat aktif dan memiliki metabolisme tinggi. Kata-kata dokter cukup untuk meningkatkan kepedean-ku dan lanjut terus memberi ASI.

Alhamdulillah Nuala sekarang montok, dan kedua putriku jarang sakit. Eh Mama, kalau bicara ASI juga bicara investasi lho. Nanti kalau sudah memasuki usia sekolah, dimana mudah terjangkit berbagai virus, Mama akan mendapati buah hati yang minum ASI jauh lebih kebal terhadap penyakit. Nadine Nuala paling banter hidungnya meler kalau sedang ada wabah flu menimpa.

Alhasil, mereka jarang bolos dan tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk bolak balik konsultasi ke dokter dan menebus obat. Hidup ASI! Mungkin bagi beberapa Mama yang saat ini sedang merasa keribetan mengatur nutrisi dan waktu demi ASI, ketahuilah bahwa semua upaya tersebut akan membuahkan hasil manis. Repot-repot di awal, tetapi hasilnya seumur hidup; anak sehat, cerdas dan memiliki bonding erat dengan Mama.

Dan Mama-lah yang akan menjadi inspirASI anak tercinta tatkala waktunya ia menjadi orang tua.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+