“Merencanakan kehamikan kan berdua, ya mengurusnya berdua juga dong,” itulah hal yang kerap aku dengar saat melihat pasangan yang jomplang dalam mengasuh anak. Memang di budaya kita yang mayoritas patriarki, faham bapak bekerja mencari nafkah sementara ibu di rumah mengurus anak, masih kental. Semua urusan rumah tangga dibebankan pada ibu, termasuk membesarkan dan mendidik si kecil. Padahal zaman telah berubah, tidak sedikit Ibu yang bekerja atau berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga; seharusnya berlaku sebaliknya juga dong. Selain itu, pentingnya kehadiran si Ayah terhadap perkembangan anak telah dibuktikan oleh berbagai penelitian.

 

Contohnya, yang banyak menjadi referensi, adalah studi yang dilakukan FIRA (Father Involvement Research Alliance) oleh Sarah Allen, PhD dan Kerry Daly, PhD, yaitu “The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of The Evidence.” Salah satu hal yang ditemukan adalah bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil, saat dewasa lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.

 

Penelitian lain oleh Fantuzzo, Tighe, dan Childs (1999) menyatakan bahwa Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak berdampak pada prestasinya di sekolah, menurunkan angka putus sekolah, dan membantu transisi dari rumah ke sekolah sehingga anak mudah beradaptasi,

 

Tidak hanya bagi si kecil. Kehadiran Ayah sangat dibutuhkan oleh Ibu, agar tidak merasa “tenggelam” dalam kewajiban sebagai ibu. Baby blues hingga post-partum depression dapat berawal dan diperparah manakala Ibu merasa tidak mendapatkan support dari Ayah.

 

Aku cukup beruntung bahwa suamiku, Dastin, sangat terlibat. Mungkin karena pernah sekolah di luar sama sepertiku, maka sudah terbiasa mandiri dan mengurus rumah. Maka ketika menikah, kami insiatif berbagi tugas seperti membersihkan rumah hingga membayar tagihan. Kebiasaan ini makin lama menjadi makin alamiah. Tidak lagi membahas dan bagi-bagi tugas, semua berjalan secara otomatis. Misal saat Delmar terbangun tengah malam (ya, di usianya yang memasuk empat bulan, masih terbangun untuk menyusu setiap jam 1, 3 dan 5!) Dastin kadang ikut terbangun dan menawarkan memeriksa diapernya atau mengambilkan aku minum. Sehari-hari juga kalau aku harus bekerja atau ingin sekedar kumpul dengan teman-teman, Dastin langsung mengatur jadwalnya agar ia bisa lebih cepat pulang kantor untuk menjaga Delmar.

 

Dan supportnya konsisten. Pada setiap kehamilan, ia akan menemaniku saat terbangun tengah malam ingin nyemil, mendampingi olahraga (walau banyak yang bertanya-tanya kok membiarkan istri hamil besar angkat beban), dan membuatkan segelas susu Lactamil Pregnasis hangat rasa coklat setiap malam sebelum tidur.

 

Ohya, Dastin tahu bahwa aku menyimpan cita-cita menjadi seorang ahli nutrisi. Maka ia menunjukkan ketertarikan untuk berdiskusi mengenai makanan apa saja yang bagus untuk kehamilan dan menyusui, dan tak segan-segan menemaniku berburu makanan tertentu. Saat ini, iapun mendukung dietku untuk menurunkan berat badan dengan (berupaya) mengikuti pola makanku yang banyak sayuran.

 

Jujur saja, hal-hal seperti ini yang membuat aku merasa mendapat dukungan penuh dan yakin everything will be OK. Kadang ada masanya merasa penat, tetapi aku menanggapinya dengan santai karena tahu bahwa aku memiliki seorang partner dengan komitmen sama.

 

Nah, karena dukungan dari suami, otomatis ketergantungan pada bantuan luar berkurang. Kami tidak menggunakan jasa baby sitter baik untuk Nadine, Nuala, maupun Delmar. Selama ini kami mengerahkan jasa Mima (Mba Irma – ART yang sudah ikut dengan keluargaku semenjak aku SMA) untuk memegang anak-anak saat aku harus shooting atau MC. Urusan ganti diaper, mandi, memberi makan, semua tetap menjadi tanggung jawab aku dan suami. Ada yang mengatakan “repot-repot amat sih,” tapi kami sungguh enjoy, dan ketiga anak kami sangat manis dan kooperatif, terutama bila diajak jalan-jalan.

 

Kemandirian dan bonding ini teruji terlebih di bulan Ramadhan. Saat ART pulang kampung, santai saja. Sehari-hari sudah terbiasa kok. Justru hal ini menjadi contoh bagi kakak Nadine dan teteh Nuala yang sigap membantuku mengurus Delmar. Seperti menemaninya bermain saat aku harus mandi, atau mengambil segelas air saat aku sedang menyusui.

 

Tentu kondisi setiap rumah tangga berbeda. Namun alangkah baiknya bahwa apapun yang berlaku antara Ibu dan Ayah tidak berat sebelah, dan disepakati secara sepenuh hati. Bila Ayah masih enggan untuk membantu, jangan patah arang Ma. Berilah kesempatan sedikit demi sedikit dan jelaskan manfaatnya bila Ayah kian terlibat. Mantra yang selalu aku katakan adalah: happy wife, happy life!

 

 

461/12/2016

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+