Kehamilan adalah momen yang cukup membingungkan bahkan bagi mereka yang sudah hamil kesekian kalinya, terutama menyangkut dos and don’ts. Rasanya di setiap masa ada penemuan baru atau petuah baru yang membuat kita berpikir dua kali sebelum mengonsumsi sesuatu. Mitos mengenai makanan akan selalu ada, makanya aku sempat merangkumnya dalam buku 505 Kamus Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan dan Menyusui. 505? Banyak juga ya! Itupun karena deadline terpaksa aku batasi, kalau dilanjutkan lagi, bisa ribuan hal yang perlu kita pastikan kebenarannya apakah aman atau tidak.

Namun, dari ratusan yang masih berada di area abu-abu, ada 6 makanan yang terbukti harus dihindari Ibu hamil, yaitu:

  1. Daging mentah

Tahukah Ibu bahwa kemungkinan terkena infeksi parasit toksoplasma gondi yang menyebabkan toksoplasmosis itu lebih tinggi pada daging yang tidak matang dibanding dari memelihara burung dan kucing? Belum lagi kemungkinan terkena bakteri salmonela dan listeria yang dapat membahayakan si Kecil.

Tidak hanya daging steak saja, semua jenis daging yang tidak matang berisiko. Jadi, sementara waktu hindarilah sashimi. Demikian dengan barbecue, ayam bakar, sate atau daging-dagingan yang dibakar, pastikan tengahnya matang. Tetapi ini tidak berarti Ibu harus menghindari daging secara keseluruhan. Justru, Ibu hamil membutuhkan zat besi, vitamin B kompleks dari daging sebagai sumber protein yang baik. Maka makanlah daging yang aman, seperti oseng daging, spageti bolognaise dan steak yang dimasak hingga matang.

  1. Produk susu yang tidak terpasteurisasi

Kalsium sangat penting untuk perkembangan tulang Ibu dan si Kecil. Seperti kita ketahui, susu dan produk olahan susu adalah sumber kalsium yang baik. Namun, susu yang tidak dipersiapkan dengan benar (dipasteurisasi atau dipanaskan pada suhu tertentu sehingga segala bakteri jahat mati) justru dapat berakibat buruk pada Ibu, seperti diare hingga keracunan. Pastikan meminum susu UHT (ultra heated treatment) atau bubuk yang menggunakan air matang yang panas dari sumber air yang bersih.

Produk olahan susu, seperti keju dan yoghurt juga perlu dipastikan telah diproses dengan sempurna. Sama halnya dengan daging, Ibu tidak boleh memakan keju yang masih “mentah” atau sering disebut keju lembek seperti brie, camembert, blue cheese, dan lain-lain. Keju yang “keras” seperti cheddar dan parmesan aman, bahkan dapat menjadi alternatif garam dan penyedap.

  1. Ikan dan seafood

Banyak Ibu suka bingung di sini. Ikan dikatakan baik untuk perkembangan otak si kecil karena kandungan omega, tetapi di sisi lain khawatir keracunan logam berat.

Logam berat lebih banyak ditemukan pada ikan laut dalam seperti hiu dan swordfish, dan juga makanan laut seperti kerang dan tiram. Jangan terlau sering makan tuna kaleng, cukup satu kali seminggu. Jadi makanlah ikan air tawar seperti salmon dan pastikan berasal dari sumber terpercaya, bersih, dan dimasak dengan sempurna. Salmon yang matang itu sangat baik, tetapi bagi yang suka sashimi sebaiknya tahan sedikit lagi sampai si Kecil sudah lahir.

Saat hamil, aku mulai makan ikan laut pada trimester kedua untuk memastikan semua organ vital janin sudah terbentuk (sebelumnya makan ikan air tawar) dan aku pastikan kualitas ikannya terjaga dengan makan di restoran yang terpercaya di mana ikannya dipajang di aquarium dan langsung dimasak. Memang tidak murah, tetapi nutrisi yang berkualitas adalah investasi pada tubuh yang tak ternilai.

  1. Telur mentah

Sama seperti daging dan keju, telur yang tidak dimasak sempurna beresiko memiliki bakteri atau kuman yang dapat menyerang pencernaan dan membuat diare hingga dehidrasi, atau lebih parah lagi, keracunan. Oleh karena itu, hindari konsumsi telur setengah matang.

  1. Makanan dengan kimia

Tanpa kita sadari, hampir semua makanan olahan mengandung zat kimia yang dalam jangka panjang, tidak baik untuk diri kita dan si Kecil. Sayur dan buah dapat mengandung insektisida, olahan makanan banyak menggunakan penyedap, makanan dalam kaleng memiliki garam yang tinggi, dan seterusnya.

Biasakanlah selama hamil memasak makanan sendiri sehingga terbiasa hingga masa MPASI si Kecil.

  1. Rumput Fatimah

Rumput Fatimah (Labisa pumila) dipercaya dapat mempercepat proses persalinan, maka air rendaman rumput Fatimah ini diminum pada pembukaan awal. Memang bisa mengakibatkan kontraksi yang lebih dahsyat karena mengandung oksitoksin yaitu zat yang dihasilkan tubuh untuk merangsang kontraksi rahim, sama seperti dalam induksi. Tetapi beda dengan cairan induksi, rumput Fatimah tidak dapat diketahui dosis dan reaksinya pada Ibu, sehingga bisa kebablasan. Jika mulut rahim belum terbuka, efek kuat kontraksi ini bisa menyebabkan pecahnya pembuluh-pembuluh darah, stres otot, pendarahan, hingga kemungkinan rahim robek.

Kehamilan bahkan dapat membuat Ibu mendadak menjadi alergi terhadap sesuatu. Aneh ya, sebelum hamil sepertinya baik-baik saja makan apapun, tapi kok mendadak timbul reaksi.

Memang demikian bagi sebagian Ibu, jadi berhati-hatilah terhadap makanan yang sering masuk ke kategori allergen, seperti seafood, tomat, kacang-kacangan (terutama kacang tanah), dan strawberry. Bila sekitar 30 menit setelah makan Ibu merasa gatal-gatal, sesak nafas, atau reaksi lain yang tidak biasanya, jangan konsumsi lagi makanan tersebut. Setidaknya sampai setelah melahirkan.

 

 

Sumber:

Zulianti, Eka. 2014. Keajaiban 9 Bulan 10 Hari. Yogyakarta; Penerbit Cakrawala.

306/5/2017

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+