Bagi setiap calon Ibu, kehamilan dan menantikan si kecil adalah “life changing experience” alias perubahan besar. Selain perubahan fisik, kondisi psikologis Ibu juga akan mengubah keseharian dan interaksi dengan lingkungan.

Contohnya, bila dulu Ibu bebas mengatur jadwal ngopi dengan teman-teman, Ibu kini harus mempertimbangkan kondisi Ibu hamil yang tidak boleh terlalu capek. Apalagi nanti saat si kecil sudah lahir. Atau, Ibu yang aktif bekerja harus membiasakan diri dengan ritme yang berbeda.

Sama halnya dengan segala sesuatu dalam hidup, perubahan tersebut dapat disambut dengan pandangan positif atau negatif. Istilah londo-nya “glass half empty or half full.” Oleh karena itu, Ibu sebaiknya menyadari dan menerima semua perubahan dengan lapang dada agar terbiasa melihat segala sesuatu dari sisi yang positif.

Ibu yang bekerja di kantor akan merasakan sekali perubahan dalam rutinitas, terutama saat mengambil cuti hamil. Sebelumnya, menurut Undang-Undang pasal 13 ayat 2 dan 3, cuti hamil diberikan satu setengah bulan sebelum melahirkan dan satu setengah bulan sesudah melahirkan atau mengalami keguguran. Cuti ini harus melalui pemberitahuan selambatnya 10 hari sebelum cuti. Cuti pun bersifat paid leave atau pegawai menerima gaji penuh.

Menarik untuk dibaca : 7 Tips Persiapkan Dana Kelahiran

Nah, mari membandingkan cuti hamil ini dengan negara Barat yang jarang memiliki pembantu atau baby sitter. Cuti hamil di sana lebih beragam dan dapat diperpanjang dengan unpaid leave. Bahkan, ada juga cuti untuk Ayah (paternity leave) dan cuti untuk mengadopsi.

Di Australia, Ibu mendapatkan paid leave selama 18 minggu. Namun, dapat mengambil unpaid leave selama total 1 tahun! Unpaid leave ini juga bisa dibagi dengan cuti untuk suami. Jadi, mau pindah ke Negeri Kanguru? Tunggu dulu, di Kanada lebih mengasyikkan lagi. Ibu dan Ayah dapat mengatur total cuti 50 minggu dan digaji penuh! Di Swedia, cuti hamil adalah 16 bulan paid leave dan Ayah “dipaksa” mengambil cuti minimum 2 bulan.

Di antara negara-negara tersebut, Lithuania adalah juaranya. Di sana, cuti diberikan 8 minggu sebelum due date dan 1 tahun sesudah melahirkan dengan gaji dibayar penuh. Pada cuti tahun kedua, gaji dibayar 85 persen dan satu tahun unpaid leave untuk perpanjangan. Cuti ini bisa dibagi antara Ibu dan Ayah. Kalau peraturan Lithuania diterapkan dengan budaya “banyak anak, banyak rezeki”, maka pekerjaan paling menguntungkan adalah… melahirkan!

Baca Juga : 5 Sarapan Untuk Meningkatkan Mood Selama Kehamilan

Kembali ke Tanah Air. Kebanyakan Ibu memilih memanfaatkan cutinya setelah melahirkan. Tetapi bagi yang berencana mengambil unpaid leave lebih lama lagi, atau memang ingin bersantai di minggu-minggu terakhir kehamilan, harus pintar-pintar memanfaatkan cuti hamil ini.

Lalu, apa yang sebaiknya Ibu lakukan selama cuti hamil?

- Tetap pertahankan ritme bangun pagi. Ibu boleh sesekali bangun siang, tetapi biasakan mengatur pola tidur. Daripada bangun kesiangan, lebih baik biasakan tidur di siang dan sore hari. Pasalnya, setelah melahirkan, Ibu harus dapat memanfaatkan waktu tidur bayi yang belum teratur agar tidak lelah dan memiliki energi.

- Isilah waktu dengan mempersiapkan segala persiapan untuk si kecil. Jadi jangan hanya mentengin infotainment saja, ya J! Siapkanlah kamar tidur bayi berikut segala perlengkapannya seperti tempat tidur, kasur, baby bouncer, stroller, diaper, baju bayi, perlengkapan mandi, perlengkapan memerah ASI, dan banyak lagi.

- Rutin browsing di internet untuk mengetahui apa saja perlengkapan yang dibutuhkan. Siapa tahu ada penawaran menarik!

- Momen cuti hamil tepat digunakan untuk rutin prenatal yoga, senam hamil, atau kelas hipnoterapi. Selain memperlancar persalinan, olahraga juga terbukti akan mempercepat Ibu pulih dan kembali ke kondisi semula pasca persalinan.

- Bila Ibu berencana menggunakan jasa suster, carilah dari sekarang. Mulailah browsing yayasan dan temukan kandidat yang cocok.

- Jika Ibu memutuskan menggunakan bantuan mbak di rumah, mulailah latih dia untuk berbagi tugas yang perlu dilakukan saat si kecil sudah lahir. Bila perlu, ikutkanlah ia pada kursus merawat bayi yang diselenggarakan yayasan ataupun RS bersalin.

- Jangan lupa mendelegasikan tugas rumah kepada ART agar kegiatan rumah tangga tetap berjalan sebagaimana mestinya, terutama bila ada anak. Pastikan selama beberapa hari ke depan saat Ibu di rumah sakit, si kakak tetap bersekolah dan beraktivitas serta makanan tersedia.

- Selain itu, manfaatkanlah waktu istimewa ini untuk bersenang-senang dengan suami, teman-teman, atau memanjakan diri sendiri. Nanti kalau bayi sudah lahir, Ibu akan kesusahan mencari me-time. Misalnya, ke salon, membaca buku, memasak, nonton film favorit, belanja baju nursing (atau baju yang bisa dipakai saat tubuh mulai singset kembali), browsing liburan bersama suami dan si kecil enam bulan dari sekarang (kalau booking jauh-jauh hari bisa dapat harga yang OK).

Intinya, lakukanlah apapun yang membuat Ibu senang. Bila Ibu merasa sedih, kembalilah ke konsep awal yaitu selalu jalani dengan positif dan bersyukur supaya menurunkan risiko Ibu terkena baby blues.

Menarik untuk dibaca : Aktif Saat Hamil Membuat Bayi Cerdas

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+