Kalau disebutkan IVF atau In Vitro Fertilization, Ibu mungkin bingung. Namun kalau disebut ‘bayi tabung’, Ibu paham kan. Sesuai dengan namanya, bayi tabung memang ‘dihasilkan’ dari pertemuan antara sel telur dan sel sperma di dalam tabung, dalam setting laboratorium. Cara ini dipilih bila berbagai cara lain untuk mengatasi infertilitas alias ketidaksuburan gagal dilakukan.

Sejauh ini IVF adalah salah satu teknologi paling efektif untuk membantu keberhasilan hamil. Namun tidak berarti semua orang akan berhasil dengan teknologi ini. Keberhasilan memiliki si Kecil yang lucu akan tergantung dari usia, gaya hidup, penyebab ketidaksuburan, dll. Contohnya, Ibu yang mencoba teknologi ini sebelum usia 35 tahun punya tingkat keberhasilan jauh lebih besar dibandingkan Ibu yang mencoba setelah usia 40 tahun. Untuk tahu seberapa tingkat keberhasilan dan risikonya, Ibu bisa berkonsultasi kepada dokter spesialis kandungan.

Sisi Psikologis IVF

Sudah rahasia umum bahwa usaha memiliki bayi lewat teknologi IVF akan membutuhkan biaya sangat besar. Bukan hanya biaya, Ibu dan Ayah juga harus meluangkan begitu banyak waktu. Teknologi ini juga meningkatkan tingkat stres Ibu dan Ayah karena begitu banyak syarat yang harus dilakukan.

Apa saja yang mungkin menjadi sumber stres bagi pasangan yang menjalani prosedur IVF?

  • Sudah lama mengalami berbagai emosi negatif (marah, depresi, malu, merasa bersalah, cemas, dll) akibat ketidaksuburan yang dialami.
  • Merasa lelah dengan segala program kehamilan yang selama ini dijalani.
  • Bingung dengan istilah-istilah medis, takut menjalani proses medis yang terasa asing, khawatir pula tentang efek dari proses tersebut.
  • Harus berhadapan dengan begitu banyak orang yang tak pernah ditemui, misalnya para tenaga kesehatan yang berbeda-beda, padahal belum tentu Ibu dan Ayah nyaman untuk bertemu orang baru.
  • Ketegangan dan kecemasan akibat berbagai keharusan yang dijalani. Contohnya ada waktu-waktu yang sangat disarankan untuk berhubungan, padahal pada saat itu sedang tidak di kota yang sama, atau sedang sangat kelelahan.
  • Adanya tuntutan dari orang lain maupun dari diri sendiri agar program ini berhasil, dan tuntutan ini meningkatkan kecemasan.
  • Stres dengan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan.

Penelitian membuktikan bahwa Ibu seringkali mengalami distress (stres negatif) yang lebih besar dibandingkan Ayah (Wichman, dkk., 2011). Bagaimanapun perlu diakui bahwa perjalanan menuju keberhasilan bayi tabung memberikan tekanan kepada Ibu dan Ayah sebagai individu maupun sebagai pasangan (Malina & Pooley, 2017). Akibat menjalani proses bayi tabung, cukup sering Ibu dan Ayah jadi saling kesal satu sama lain, dan hal ini bisa meningkatkan pertengkaran. Walaupun demikian, karena teknologi ini sesungguhnya efektif, maka saat melakukannya, Ibu dan Ayah perlu tahu cara paling nyaman untuk melakukannya. Jika Ibu dan Ayah merasa lebih nyaman, maka tingkat keberhasilan program ini juga cenderung lebih tinggi.

Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan Ibu dan Ayah agar dapat saling mendukung dan meningkatkan keberhasilan.

  • Saling menunjukkan keinginan untuk berusaha (lewat raut muka dan gerak tubuh, juga lewat kata-kata).
  • Usahakan pergi bersama saat berkonsultasi dengan dokter.
  • Lakukan perubahan yang disarankan (diet, kurangi rokok, perbanyak nutrisi, dll).
  • Cari segala informasi, diskusikan bersama, ambil keputusan bersama.
  • Hadapi kegagalan bersama, misalnya dengan menangis berdua dan saling menghibur.
  • Pahami kesedihan satu sama lain, kadang cara mengekspresikan kesedihan tersamar dengan ekspresi kemarahan.
  • Berpegangan tangan, saling menatap mata dengan tatapan penuh cinta.
  • Katakan, “Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi, mari kita hadapi bersama.”
  • Saling memeluk satu sama lain, terutama di saat-saat yang tak nyaman.

Jika ini semua sulit dilakukan, bukan berarti program kehamilan bayi tabung dijamin gagal. Namun Ibu dan Ayah mungkin jadi kurang nyaman satu sama lain. Oleh karena itu akan sangat membantu jika Ayah dan Ibu memperbaiki relasi dalam perkawinan saat menjalankan program kehamilan bayi tabung. Jika sulit, buatlah janji dengan psikolog perkawinan atau psikolog keluarga.

Sumber:

 Malina, Alicja & Pooley, Julie Ann. 2017. “Psychological consequences of IVF fertilization – Review of research”. The Annals of Agricultural and Environmental Medicine, February 2017.

Wichman, C.L., Ehlers., S.L., Wichman, S.E., Weaver, A.L., Coddington, C. (2011). “Comparison of multiple psychological distress measures between men and women preparing for in vitro fertilization”. Fertility and Sterility, vol 95, issue 2, pages 717-721, February 2011.

CVM: 02-226/4/2018

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+