Preeklampsia merupakan salah satu kelainan atau gangguan kesehatan yang bisa dialami Ibu saat sedang hamil. Awalnya, preeklampsia disebabkan oleh menyempitnya pembuluh darah dalam tubuh, sehingga tekanan darah meninggi sementara aliran darah menuju organ-organ vital tubuh (hati, ginjal dan otak) menurun.

Kondisi tekanan darah tinggi di masa kehamilan jika terjadi dalam waktu lama akan berdampak pada bocornya pembuluh darah kecil yang biasanya terdapat pada ginjal dan jaringan sel tubuh. Pembuluh darah yang bocor akan mengeluarkan cairan ke jaringan tubuh dan mengakibatkan bengkak. Selain pembuluh darah yang bocor, preeklampsia juga menyebabkan pembuluh darah pada ginjal ikut bocor sehingga mengeluarkan kadar protein berlebih ke dalam ginjal. Itu sebabnya, Ibu yang didiagnosa menderita preeklampsia biasanya mengalami gejala pembengkakan di beberapa area pada tubuh dan adanya kadar tinggi protein dalam urin. Menurut Kementerian Kesehatan RI, Mama terindikasi mengalami preeklampsia ringan jika tekanan darah Ibu lebih dari 140/90 mmHg atau preeklampsia berat jika tekanan darah lebih dari 160/110 mmHg saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Selain itu, Ibu yang mengidap preeklampsia juga dapat mengalami gejala seperti pusing hebat, gangguan penglihatan (pandangan terlihat kabur, sensitif terhadap cahaya, atau kebutaan sementara), nyeri di perut bagian atas, mual, muntah dan kesusahan bernapas.

Ibu memiliki risiko tinggi mengidap preeklampsia saat hamil jika Ibu mengidap obesitas, mengandung bayi kembar, berusia kurang dari 20 tahun atau lebih tua dari 35 tahun, pernah memiliki riwayat preeklampsia di kehamilan sebelumnya, riwayat penyakit diabetes, hipertensi kronik, penyakit ginjal atau autoimun. Jika Ibu memiliki salah satu dari faktor risiko tersebut, ketahui cara mencegah datangnya preeklampsia dengan tips berikut:

Mengonsumsi aspirin dengan dosis rendah

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengonsumsi aspirin berdosis rendah mampu secara efektif mengurangi risiko Ibu hamil terserang preeklampsiahingga 90%. Aspirin mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah dalam tubuh Ibu, faktor yang memicu terjadinya preklampsia. WHO menyarankan dosis aspirin sebanyak 75 mg untuk Ibu konsumsi setiap hari, dimulai sejak usia kehamilan 20 minggu hingga akhir masa kehamilan. Meski begitu, sebelum mengonsumsi aspirin Ibu harus berkonsultasi lebih dulu dengan dokter untuk mendapat rekomendasi dosis yang tepat.

Mengonsumsi susu dan makanan sumber kalsium

Mengonsumsi susu dan makanan yang kaya akan kalsium (seperti keju, ikan salmon, kacang almond, sayuran hijau) bisa jadi cara paling ampuh untuk menjauhkan Ibu dari risiko terserang preeklampsia, terutama bagi Ibu dengan risiko tinggi. Penuhi asupan kalsium Ibu sedikitnya 1,5-2 gram per hari ya, Bu.

Jika Ibu mengalami gejala preeklampsia dan sudah didiagnosa mengidap preeklampsia berat, pemberian magnesium sulfat oleh tim medis diperlukan untuk mencegah Ibu mengalami kejang, juga obat anti hipertensi untuk mengembalikan tekanan darah menjadi normal.

 

Sumber:

World Health Organization. Recommendations for Prevention and Treatment of Pre-Eclampsia and Eclampsia. http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44703/1/9789241548335_eng.pdf

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. http://www.searo.who.int/indonesia/documents/976-602-235-265-5-buku-saku-pelayanan-kesehatan-ibu.pdf?ua=1

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+