Hai Ibu yang tengah menanti, hamil, menyusui, ataupun yang anak-anaknya sudah lulus ASI. Apa kabar? Kalau aku Alhamdulillah masih menyusui baby Delmar yang sudah 15 bulan, walau sudah tidak seintensif dulu. Delmar lebih banyak menyusu di malam hari dan sebelum tidur siang, karena sekarang ia sangat lahap makan (dia suka makan sayuran lho seperti Ibunya) dan aktif. Akupun sudah aktif bekerja sejak Delmar berusia 2 minggu, dan berkat kerjasama dengan suami, ibu, mertua, ART, tim manajemen; proses menyusui lancar jaya. Dulu aku selalu membawa Delmar kemanapun aku pergi. Belum genap 1 tahun, Del sudah melanglang buana ke Bogor, Bandung, Bangkok, Bintan, Singapura, Surabaya, Makassar, Medan, Cirebon, dan London! Sekarang karena dia sudah berjalan dan enjoy main dengan mainannya di rumah, kalau aku bekerja, Delmar lebih senang di rumah dengan kakak-kakaknya dan tetangga. Tapi kalau harus bekerja keluar kota dan menginap, Delmar pasti ikut.

Kalau bekerja keluar kota, aku tidak membawa ART (yang selama ini membantuku mengasuh anak-anak. Mba Irma sudah ikut keluarga aku semenjak aku SMA lho!) jadi saat bertugas, Delmar akan digendong oleh asisten di manajemen aku, kadang sama crew, kadang bermain bersama client, hihihi. Beruntunglah Delmar itu anaknya mudah akrab dengan orang, dan menyukai keramaian. Mungkin karena anak ketiga, aku jadi jauh lebih santai sehingga Delmar pun sangat easy going. Nah aku ingin sharing dengan Ibu yang tengah hamil, take it easy ya Ma. Aku merasakan banget, selama kehamilan tidak high risk atau ada indikasi medis dimana harus berhati-hati, bawa santai saja. Ngaruh lho ke si kecil!

Bekerja membawa bayi/balita, apalagi tidak ada suster, repot sih pasti, tapi menyenangkan. Aku pernah mengalami sendiri saat harus meninggalkan Delmar seharian, yang ada aku menjadi kepikiran, tidak fokus kerja, dan merasa bersalah. Ujung-ujungnya malah stres.

Nah stres itu dapat dicetus oleh berbagai hal, dan bagi setiap orang pasti berbeda karena memiliki stresor (pemicu) serta ambang toleransi pada stres yang berbeda pula. Urusan nanny misalnya. Ada Ibu yang merasa dunianya runtuh saat nanny kesayangan anak semata wayangnya memutuskan untuk menikah dan tidak bekerja lagi. Ada Ibu yang punya anak banyak namun santai saja kalau nannynya pulang kampung. Ada yang stres kalau kelamaan tidak ketemu si kecil, ada yang stres kalau di rumah seharian mengasuh anak. Tidak ada yang salah, karena setiap orang itu berbeda. Hanya saja, Ibu harus tahu cara menenangkan diri dan mengelola stres. Jangan sampai stres itu take over sehingga berakhir dengan penyakit (psikosomatis) dan mengganggu hubungan ibu-anak.

Ibu perlu menyadari bahwa stres itu sangat normal dan diperlukan pada kadar tertentu. Menurut Walter Bradford Cannon, stres adalah mekanisme alami tubuh untuk melindungi diri dari ancaman yang dikenal dengan mekanisme fight or flight (bertarung atau melarikan diri.) Stres membuat kita terjaga misalnya kalau berada di pusat perbelanjaan ramai dan khawatir sesuatu terjadi pada anak-anak, sehingga panca indera kita menjadi lebih awas. Saat stres, tubuh mengeluarkan hormon kortisol dan adrenalin. Jantung berdetak lebih cepat, otot menegang, tekanan darah naik. Kalau terjadi sejenak, tidak masalah. Tetapi bila stres itu berlebih dan berlangsung untuk jangka waktu yang panjang, maka disebut stres kronis dan berdampak buruk bagi tubuh, seperti mengganggu sistem saraf, memicu masalah kejiwaan, imunitas tubuh menurun (mudah terkena berbagai penyakit,) meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, mengakibatkan penuaan dini, mengganggu organ pencernaan dan reproduksi (perempuan yang stres saat sedang masa subur, telurnya tidak matang atau tidak dapat dibuahi) dan pastinya mengganggu proses menyusui.

Saat tubuh memproduksi hormon kortisol, maka hormon oksitosin yang dihasilkan tubuh Ibu saat menyusui berkurang. Nah kurangnya oksitosin memperlambat let down atau turunnya ASI dari kelenjar susu ke puting. Jadi bila Ibu tengah mengalami stres berat, misal dengan kehilangan anggota keluarga atau masalah personal lainnya, jangan pesimis tidak bisa menyusui. Menyusui itu sangat dipengaruhi faktor supply-demand. Jadi selama si kecil menyusu, maka Ibu tetap akan memproduksi susu. Hanya saja tidak optimal manakala Ibu tidak mengelola stres.

 

Sumber:

  1. Baby Center Editorial team. Is it True that Stress can Cause Breastmilk to Dry Up? https://www.babycentre.co.uk/x1048246/is-it-true-that-stress-can-cause-breastmilk-to-dry-up
  2. Morag Martindale. Baby Center. Having A Baby Can Be Stressful, What Can I Do to Feel Better? https://www.babycentre.co.uk/x3828/having-a-baby-can-be-stressful-what-can-i-do-to-feel-better
  3. Heidi Murkoff, Sharon Mazel. 2008. What to Expect When You’re Expecting. All About Getting Started Breastfeeding. Page 435.
  4. Walter B Cannon. 2002. Stress & Fight or Flight Theories. http://study.com/academy/lesson/walter-cannon-stress-fight-or-flight-theories.html
Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+