Anna O, nama samaran dari Bertha Pappenheim (1859-1936), adalah pasien dari Josef Breuer, seorang dokter dari Austria yang mengembangkan metode katarsis, dasar dari ilmu psikoanalisis Freud. Anna O awalnya dirawat oleh Breuer karena mengalami kelumpuhan ekstrim di sisi kanan tubuhnya, batuk berat, mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran, serta berulangkali mengalami halusinasi dan kehilangan kesadaran, terkait kebencian luar biasa pada kondisi ayahnya.

Setelah Breuer menghentikan terapinya, ternyata kondisi Anna O menjadi semakin parah. Ia bahkan mengalami ‘kehamilan’ yang diakui sebagai anak Breuer. Ia mengalami berbagai kondisi mirip seperti kehamilan, namun tanpa adanya bayi di dalam kandungannya. Kehamilan palsu ini disebut pseudocyesis, sejenis gangguan psikosomatis yang dapat dialami seorang wanita.

Gangguan psikosomatis maksudnya adalah kondisi sakit fisik yang disebabkan oleh kondisi psikologis. Di dalam DSM (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ‘kitab’ yang digunakan oleh para psikolog dan psikiater sebagai pedoman melakukan diagnosis) terbaru, gangguan ini kini disebut sebagai Somatic Symptom and Related Disorders, mencakup semua gangguan yang terjadi pada tubuh akibat distress (stres negatif) yang luar biasa besar.

 Pseudocyesis, Kehamilan Palsu

Kadang seorang Ibu mengalami ‘kehamilan khayalan’ (phantom pregnancy). Misalnya merasa mengalami kondisi kehamilan, sampai kemudian dibuktikan tidak hamil lewat tes kehamilan. Baru setelahnya kondisi terasa normal kembali. Namun ada kondisi ekstrim yang disebut pseudocyesis.

Pseudocyesis adalah keyakinan seorang wanita bahwa ia hamil, padahal sesungguhnya ia tidak mengandung bayi. Pseudocyesis adalah salah satu gejala yang menyatakan bahwa kondisi psikologis ternyata dapat berpengaruh besar ke tubuh, menjadikan seorang Ibu yang sangat ingin hamil mengalami beberapa kondisi hamil.

Kondisi hamil tersebut dapat berupa mengalami mual, payudara membesar, tidak menstruasi selama beberapa bulan, lebih sering buang air kecil, berat badan bertambah, seperti mengalami gerakan janin, bahkan ada yang mengalami perutnya betul-betul membesar sampai mengalami kontraksi seperti akan melahirkan. Bedanya hanya: Tidak ada bayi di dalam kandungannya! 

Walaupun disebut kehamilan palsu, tidak berarti Ibu yang mengalami sedang berusaha menipu orang lain. Ia betul-betul merasa bahwa dirinya hamil.

 Bagaimana Mengecek Kehamilan Palsu?

Bagaimana cara mengecek apakah kehamilan yang dialami Ibu adalah pseudocyesis atau kehamilan sesungguhnya? Mudah saja. Gunakan alat tes kehamilan. Jika perlu, periksakan pada dokter kandungan dengan USG untuk membuktikannya.

Walaupun mudah, ternyata tidak semua Ibu paham lho. Penelitian di Nigeria bahkan menyebutkan bahwa 1 dari 344 Ibu di daerah pedesaan mereka mengalami pseudocyesis (Ouj, 2009), dan angka ini dinyatakan lebih tinggi dibandingkan negara-negara berkembang lain.

Bagaimana bisa kondisi psikologis memicu kehamilan? Ternyata pada Ibu-Ibu tersebut, keinginan kuat untuk hamil dikombinasikan dengan stres karena mengalami ketidaksuburan, memicu kelenjar pituitari untuk mensekresikan hormon tinggi, meniru perubahan hormonal kehamilan sungguhan (Makhal, dkk., 2013).

Ibu yang lebih rentan mengalami pseudocyesis adalah Ibu yang mengalami keguguran berulangkali, ketidaksuburan, meninggalnya anak, mengalami gangguan jiwa, dan mengalami tuntutan yang sangat besar untuk punya anak. Namun jangan terlalu khawatir. Ibu bisa mencegah dan mengatasi ini kok!

Bagaimana Mencegah dan Mengatasinya?

Karena pseudocyesis merupakan gangguan mental/psikologis, maka cara mencegahnya adalah dengan memastikan kondisi mental Ibu sehat. Seperti apa kondisi mental yang sehat?

Kondisi sehat mental adalah saat Ibu tidak mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan berlebihan, stres berat, dan gangguan-gangguan psikologis lain. Ibu juga merasa bahagia, terampil dalam menghadapi sumber stres, dan bisa berhubungan secara baik dengan orang lain.

Ibu yang mengalami pseudocyesis bisa jadi tidak begitu saja menerima ketika hasil tes kehamilan menyatakan ia tak hamil. Ia mungkin juga akan marah kalau dibilang mengalami gangguan psikologis. Jadi apa yang bisa dilakukan?

Ibu yang mengalami pseudocyesis perlu didampingi dan didengarkan ceritanya. Dengan demikian, Ibu tersebut merasa mendapatkan dukungan emosional. Sangat mungkin, ketika ia merasa didengarkan, ia bercerita tentang berbagai kesulitan hidupnya. Bantulah ia semampunya.

Bantuan lain yang perlu didapatkan oleh Ibu yang mengalami pseudocyesis adalah berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater. Ibu akan mendapat beberapa jenis psikoterapi yang akan membantunya lebih tangguh menghadapi masalah-masalahnya.

 

Referensi

  • “Anna O”. https://en.wikipedia.org/wiki/Anna_O.
  • Makhal, M., Majumder, U., & Bandyopadhyay, GK. (2013). “Psychodinamic and Socio-Cultural Perspective of Pseudocyesis in a Non-Infertile Indian Woman: A Case Report”. MJP Online Early.
  • Oui, Umeora. (2009). “Pseudocyesis in a rural southeast Nigerian community”. The Journal of Obstetric and Gynaecology Research. https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1447-0756.2008.00997.x
  • Picton, Terence W. “Story of Anna O” http://creatureandcreator.ca/?p=424
  • Pseudocyesis: What’s A False Pregnancy or Phantom Pregnancy? http://americanpregnancy.org/getting-pregnant/pseudocyesis-false-pregnancy/

 

CVM: 02-529/8/2018

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+