Panik! Hal inilah yang sering menghantui para Ibu, terutama bagi Ibu yang baru melahirkan anak pertama. Learning by doing, mungkin inilah cara menikmati tiap keajaiban yang terjadi menjadi Ibu "baru". Banyak peristiwa yang ternyata tak semudah itu diselesaikan, salah satunya adalah saat menyusui.

Semua Ibu pasti ingin pasokan ASI yang cukup secara kuantitas dan kualitas yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan si kecil. Tetapi bagaimana jika Ibu mengalami produksi ASI yang berlebihan (hiperlaktasi)? Kata "berlebihan" seringkali diasumsikan bahwa asupan makanan bayi pasti aman. Tetapi ternyata tidak semata-mata jumlah yang berlebih, menjamin Ibu untuk tenang.

Hiperlaktasi adalah ketika tubuh Ibu memproduksi ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh si kecil. ASI mengalir sangat cepat dan sangat deras sehingga membuat si kecil kewalahan ketika menghisap payudara Ibu. Hiperlaktasi bisa ditandai dengan keluarnya ASI dengan deras tanpa ada rangsangan, baik sengaja dipompa ataupun dihisap oleh si kecil. Hiperlaktasi bisa terjadi karena Ibu memiliki alveoli (kelenjar yang memproduksi ASI) di atas 100.000 - 300.000 per payudara.

Beberapa hal yang bisa Ibu lakukan ketika mengalami Hiperlaktasi :

  1. Temui konsultan Laktasi yang telah menjadi sahabat menyusui Ibu selama ini.
  2. Sesuai dengan cara kerja ASI yaitu semakin sering diperah akan semakin meningkat produksinya, ketika mengalami hiperlaktasi yang Ibu lakukan adalah mengurangi aliran deras keluarnya ASI. Jadi sebelum menyusui, pompa terlebih dahulu payudara Ibu dengan kecepatan yang rendah dan wadahi di botol untuk ASI yang disimpan. Jika aliran ASI mulai berkurang kecepatannya, maka mulailah untuk menyusui. Hal ini bisa mengurangi kemungkinan si kecil tersedak ketika menghisap puting Ibu.
  3. Cobalah untuk menyusui sebelum si kecil lapar atau sebelum waktu menyusui biasanya. Karena jika si kecil lapar, maka hisapannya akan lebih kuat dan cepat sehingga akan menstimulasi produksi ASI lebih cepat pula. Hisapan si kecil yang lembut dan pelan, bisa menstimulasi keluarnya ASI lebih pelan dan tidak tumpah dengan percuma.
  4. Posisi menyusui juga bisa membantu Ibu mengatasi hiperlaktasi. Cobalah posisi bayi yang duduk menghadap Ibu, dan Ibu bersandar agak miring ke belakang sehingga gravitasi dapat memperlambat aliran susu. Atau coba posisi menyusui dengan Ibu berbaring miring, dan meletakkan handuk atau kain di bawah payudara untuk menampung tetesan air susu.
  5. Hentikan menyusui jika si kecil mulai terlihat terlalu cepat menghisap puting Ibu. Biarkan si kecil bersendawa terlebih dahulu, baru kemudian lanjutkan menyusui.
  6. Untuk mengurangi produksi yang berlebihan, Ibu juga bisa melakukan pemompaan di kedua payudara hingga habis. ASI yang dihasilkan bisa disimpan untuk stock ASI ketika kelak dibutuhkan. Setelah proses pemompaan ini, Ibu cukup menyusui 2-4 kali dengan satu payudara saja, dan payudara yang lain khusus untuk dipompa tetapi jangan sampai habis. Teknik ini telah berhasil dibuktikan bisa mengurangi tekanan keluarnya ASI secara berlebihan. Cara ini biasanya berhasil mengurangi produksi air susu dalam 24-48 jam. Jika beberapa hal di atas ternyata tidak juga mengatasi Hiperlaktasi yang dialami Ibu, segeralah menemui dokter atau konsultan laktasi. Agar Ibu tetap bisa beraktivitas seperti biasa dan bepenampilan yang rapi, jangan lupa untuk memperhatikan pakaian. Jika sedang dalam masa Hiperlaktasi kenakan breast pads untuk mencegah merembesnya air susu ke pakaian Ibu.

?Sumber:

  • http://www.babycenter.com/0_hyperlactation-overabundant-milk-supply_8488.bc
  • http://www.breastfeeding-problems.com/hyperlactation.html
Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+