Khawatir pada kondisi bayi, bingung memikirkan biaya persalinan, dan cemas terhadap banyak hal. Ibu yang hampir melahirkan jadi mengalami stres? Adakah efeknya?

Sepanjang proses kehamilan, sesungguhnya ada banyak hal yang rentan menjadi stressor alias sumber stres. Stressor yang berasal dari luar diri mama misalnya adalah tuntutan keluarga besar tentang proses melahirkan atau harapan akan jenis kelamin bayi, jalan yang macet, papa yang tak bisa menemani untuk melahirkan, dan berbagai kejadian tak direncanakan yang mungkin terjadi.

Mendekati proses persalinan, berbagai stressor tersebut dapat berpengaruh kepada mama. Ada beberapa hal yang sering dikeluhkan. Apa sajakah itu?

  • Takut mengalami sakitnya melahirkan. Apalagi ketika beredar cerita dari orang lain tentang pengalamannya melahirkan.
  • Khawatir kalau suntikan epidural berpengaruh terhadap kondisi bayi.
  • Khawatir diharuskan operasi Caesar. Kekhawatiran bisa meliputi biaya yang lebih tinggi, ataupun perasaan tidak menjadi wanita sejati karena bukan melahirkan lewat vagina.
  • Takut kesulitan menuju rumah sakit, misalnya khawatir tidak mendapatkan kendaraan, atau kesulitan sampai ke rumah sakit tepat waktu karena harus melewati jalan macet.
  • Takut tidak didampingi dokter pada saat melahirkan, misalnya karena dokter belum sampai di rumah sakit atau karena dokter sedang cuti.

Itulah beberapa jenis kekhawatiran para mama, menurut Colette Bouchez dari webmd.com. Selain itu, ada pula mama yang khawatir kalau papa tak bisa mendampingi pada saat melahirkan, misalnya karena harus berdinas keluar kota.

Semua hal di atas memang rentan membuat mama stres. Ibu yang terlalu cemas pada saat akan melahirkan dapat mengalami ‘serangan panik’ (panic attack), misalnya jadi mengalami hal-hal berikut ini:

  • Jantung berdebar cepat
  • Gemetaran
  • Sakit kepala ringan atau pusing
  • Perasaan tersedak
  • Sangat ketakutan
  • Merasa ingin pingsan
  • Sakit di bagian dada
  • Otot terasa lemah atau kesemutan
  • Sulit berpikir
  • Sesak napas

 

Serangan panik kadang jadi mempersulit proses kelahiran. Contohnya, mama jadi kesulitan memahami instruksi dokter, atau justru mengalami hal-hal yang tak diinginkan saat bersalin.

Bagaimana mencegah stres sebelum melahirkan?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan mama untuk dapat mencegah stres berlebihan sebelum melahirkan:

  • Menjauhlah dari orang-orang yang senang menakut-nakuti dengan cerita-cerita tentang kesulitan melahirkan. Jika tak bisa menjauhi, tersenyum saja mendengar ceritanya, lalu lupakan.
  • Jauh-jauh hari sebelum melahirkan, siapkan semua peralatan yang harus dibawa untuk si Kecil dan untuk mama sendiri di dalam 1-2 tas. Letakkan tas di tempat yang mudah dijangkau. Jika perlu, berikan tulisan seperti ‘Yang dibawa untuk melahirkan’, sehingga orang lain bisa membantu jika mama lupa.
  • Ceritakan kekhawatiran dan ketakutan mama kepada papa, orangtua, atau sahabat-sahabat mama. Jika perlu, menangislah agar ketegangan mama bisa berkurang.
  • Ikuti senam hamil, dan pelajari sungguh-sungguh teknik bernapas pada saat melahirkan.
  • Berkonsultasilah sungguh-sungguh dengan dokter yang akan membantu proses melahirkan, sehingga dapat mengantisipasi berbagai perubahan yang mungkin terjadi.
  • Banyaklah berdoa dan berserah kepada Tuhan.

Ibu mungkin akan mengalami stres dan kekhawatiran sebelum dan selama proses melahirkan, bahkan setelahnya. Namun ingatlah, setakut apapun mama, itu semua perlu dilewati kan. Fokuslah pada akhir yang membahagiakan, yaitu si Kecil dalam pelukan. Selamat melahirkan dengan bahagia!

 

Sumber:

Nolen-Hoeksema, Susan. (2014). Abnormal Psychology, 6th ed. New York: McGraw-Hill Education.

Taylor, Shelley E. (2015). Health Psychology, 9th ed. New York: Mc-Graw-Hill Education.

 

CVM: 680/10/2017 

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+