Merencanakan kehamilan, lalu jadi banyak bertengkar dengan pasangan? Ini kisah yang banyak dialami mereka yang mencoba melakukan program hamil lebih intensif. Apa yang bisa dilakukan agar pasangan tetap kompak selama merencanakan kehamilan?

Program kehamilan memang jadi salah satu solusi saat pasangan yang ingin berketurunan sudah menunggu begitu lama untuk mendapatkan anak. Selain itu, bisa juga pasangan yang baru saja menikah melakukan perencanaan kehamilan dengan lebih serius. Mulai dari berkonsultasi kepada dokter kandungan, menjalani berbagai macam pemeriksaan, sampai menjalani berbagai penanganan obat atau terapi tertentu.

Menanti kehamilan adalah perjalanan tanpa kepastian. Waktu tak bisa diperkirakan, bisa sebentar ataupun lama sekali. Apa yang terjadi dalam penantian itu juga tak dapat diperkirakan. Banyak Ibu Ayah menjadi jauh lebih mesra hubungannya selama proses perencanaan kehamilan. Namun ada juga yang hubungannya semakin renggang bahkan jadi bermasalah. Tabungan semakin menipis, kebosanan menjalani program hamil, tekanan dari keluarga besar lewat pertanyaan ‘Kapan hamil?’, semua membuat romantisme pasangan menjadi berkurang.

Menurunnya romantisme seringkali jadi masaalah tambahan. Hidup berumah-tangga terasa lebih monoton. Komunikasi semakin tak ‘nyambung’. Banyak masalah yang jadi tak terpecahkan, pertengkaran jadi tak terbantahkan. Kalau sudah demikian, sulit deh buat kompak untuk merencanakan kehamilan.

 

Biar tetap kompak

Perencanaan kehamilan kemudian menjadi momok buat keharmonisan perkawinan. Padahal sesungguhnya banyak lho yang bisa dilakukan agar tetap kompak saat merencanakan kehamilan. Apa sajakah itu?

Mulailah dari mengevaluasi perkawinan. Sudahkah Ibu dan Ayah saling nyaman dalam berkomunikasi satu sama lain? Apakah semua hal yang ingin disampaikan sudah tersampaikan, dan sudah ditangkap secara benar? Apakah penyebab pertengkaran sudah betul-betul dituntaskan? Sudahkah disepakati apa yang akan dilakukan jika penyebab pertengkaran berulang? Jika masih bermasalah, cobalah untuk memperbaiki cara mengatasi masalah selama ini. Kalau Ibu dan Ayah masih saling berkata kasar, menyalahkan satu sama lain, memberikan sindiran tak mengenakkan, dan kesulitan mengatasi banyak masalah perkawinan, cobalah berkonsultasi dengan psikolog keluarga atau konselor perkawinan.

Berikutnya, renungkan apakah Ibu dan Ayah memang sungguh sudah siap memiliki anak? Pada beberapa kasus, jika kita belum siap menambah keturunan, tubuh kita bereaksi sedemikian rupa sehingga kehamilan lebih sulit terwujud. Mungkin selama ini masih ada ganjalan, entah dalam rumah tangga ataupun diri sendiri. Beberapa contoh pertanyaan yang dapat dipikirkan: Jika memiliki anak, apa saja kenikmatan saat ini yang harus dikorbankan? Tanggung jawab apa yang saat ini belum siap dilepaskan? Tanda apa yang ditunggu untuk mendapatkan keyakinan bahwa saya siap? Cobalah renungkan dulu, lalu bicarakan bersama pasangan.

Keluarga besar seringkali bertanya, “Kapan hamil?” Entah pertanyaan serius atau tidak, tapi itu kadang membingungkan untuk dijawab. Jangan sampai jawaban Anda membuat pasangan tersinggung. Bagaimana kalau Ibu dan Ayah menyepakati jawaban macam apa yang akan diberikan. Apakah jawaban serius semacam ‘Kami sedang berusaha, doakan ya,’ atau jawaban santai seperti, ‘Belum dapat undian nih,’ mana yang enak buat Anda berdua.

Mengenai gaya hidup, sudahkah Ibu dan Ayah menjalani gaya hidup yang sehat? Periksa diri, apakah masih ada kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan sampai saat ini. Apakah Ibu dan Ayah masih merokok atau minum minuman beralkohol? Sudahkah terbiasa untuk makan makanan sehat secara teratur? Bagaimana dengan kebiasaan berolahraga? Sudah cukupkah waktu istirahat? Gaya hidup sehat mempertinggi kesempatan hamil. Walaupun begitu, kelak ketika sudah memiliki anak, penting lho gaya hidup sehat tetap dilanjutkan.

Sudah punya perencanaan keuangan untuk keluarga dalam beberapa tahun ke depan? Segera pikirkan rencananya bersama, dan jalankan. Anda bisa berkonsultasi kepada ahli perencana keuangan.

Terakhir, jangan lupa tetap memiliki waktu berdua yang romantis. Sesekali berlibur atau bersantai berdua tanpa membicarakan rencana hamil, fokusnya hanya pada diri dan pasangan Anda. Memiliki anak atau tidak, kebahagiaan sebagai pasangan suami-istri tetap perlu dirasakan kan.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+