“Everyone says, ‘You give birth, you go home, and you have this amazing baby and it’s just beautiful.’ And I walked in and just started sobbing.” (Semua orang bilang, ‘kau melahirkan, kau pulang ke rumah, dan kau punya bayi yang luar biasa dan itu adalah hal yang begitu indah’. Kemudian saya masuk ke rumah dan mulai menangis tersedu-sedu)

Pernyataan itu dilontarkan oleh Bridget Moynahan, seorang model sekaligus aktris terkenal asal Amerika, saat diwawancarai oleh majalah Harper’s Bazaar tentang kelahiran anak pertamanya. Kok malah menangis? Bukankah menjadi Ibu adalah hal yang membahagiakan? Dalam pemahaman umum, kehamilan dan kelahiran adalah masa yang paling menggembirakan dalam hidup seorang perempuan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak sedikit Ibu yang mengalami masa kurang menyenangkan. Mereka merasa cemas, mudah marah, cepat lelah dan bisa tiba-tiba menangis (Reid, 2013).

Apa yang terjadi?

Lebih dari 50% Ibu mengalami perubahan emosi langsung sejak melahirkan hingga kurun waktu dua minggu. Gejalanya seperti mood swings, mudah menangis ataupun marah, sakit kepala, dan muncul perasaan tidak suka terhadap bayinya atau anggota keluarga lain. Ini yang disebut Baby Blues (Postpartum Blues) (Olds, S.W, dkk, 2010).

Jika perubahan emosi ini berlangsung lebih lama, mulai dari dua minggu hingga enam bulan, bahkan satu tahun setelah melahirkan, Ibu mungkin mengalami gangguan emosi yang lebih serius, namanya Postpartum Depression. Ada 10 hingga 40% Ibu yang mengalaminya. Gejala yang timbul sama dengan Baby Blues, ditambah dengan gejala lain seperti kecemasan, putus asa, merasa tidak berdaya, sulit tidur, tidak nafsu makan, muncul ketakutan yang berlebihan terhadap diri sendiri dan bayinya – termasuk di antaranya takut melukai si Kecil.

Mengapa terjadi? Salah satunya karena perubahan hormon yang luar biasa. Pada saat hamil, level hormon estrogen dan progesteron meningkat. Setelah melahirkan, level kedua hormon itu menurun drastis sehingga memicu insomnia, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, yang bisa berujung pada depresi. (Howard, 2009; dalam Banks, 2002). Pada saat yang sama, hormon prolaktin yang mendorong produksi ASI meningkat pesat. Rendahnya hormon tiroid juga dapat menimbulkan gangguan fisik dan emosional bagi Ibu yang baru melahirkan.

Apa yang bisa dilakukan?

Ada berbagai hal yang bisa Ibu lakukan:

  • Makan makanan bergizi. Kebutuhan nutrisi anda meningkat karena Ibu sedang menyusui. Hindari makanan berpengawet, perbanyak makan sayur dan buah.  
  • Istirahat yang cukup. Walaupun sulit, cobalah tidur ketika si kecil tidur. Minta Ayah bergantian menjaga si kecil.
  • Bergaul, jangan mengisolasi diri. Bercakap-cakaplah dengan Ayah, orangtua dan teman-teman Ibu. Ceritakan perasaan kepada mereka.
  • Minta bantuan dari orang lain. Menjadi orang tua akan membuat tanggung jawab Ibu berlipat ganda. Ibu tidak perlu menanggung semua hal sendirian. Jangan tunggu sampai Ibu kewalahan baru anda minta bantuan dari orang lain.
  • Berolahraga. Lakukan olahraga sesuai dengan kondisi tubuh Ibu, misalnya berjalan, lari, yoga, aerobik, dan lain-lain. Usahakan rutin melakukannya.
  • Bermainlah dengan si kecil. Buat kontak mata, bicaralah padanya, nyanyikan lagu dan tertawa bersama. Si kecil memang belum mengerti, tetapi ia dapat melihat, mendengar dan merasakan cinta Ibu.
  • Berlatihlah mengendalikan diri. Ketika si kecil mulai menangis tak henti dan Ibu kelelahan, tarik napas dalam dan tenangkan diri. Bayi dapat merasakan kegelisahan Ibu dan itu dapat menular padanya. Oleh karena itu, kendalikan diri Ibu.
  • Me-Time. Alokasikan waktu untuk melakukan hal-hal yang Ibu sukai. Ibu bisa berjalan-jalan sendiri, merawat diri, menonton film, membaca, meditasi, bermain  musik, atau melakukan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan si kecil.

Selamat menikmati peran sebagai Ibu.

 

Sumber referensi:

  • Banks, Rebecca. (2002). Why are New Moms So Moody. Diakses tanggal 23 Agustus 2016 dari http://www.parents.com/baby/new-parent/motherhood/moody/
  • Heyman, Marshall. (2008). Ibu’s Boy. Diakses tanggal 23 Agustus 2016 dari http://www.harpersbazaar.com/celebrity/latest/news/a302/bridget-moynahan-interview- 0708/
  • Howard, Margaret, dkk. (2009). Postpartum Depression. Diakses tanggal 23 Agustus 2016 dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3918890/
  • Olds, S.W., Marks, L., Eiger, M.S. (2010). The Complete Book of Breastfeeding. New York: Workman Publishing
  • Paul, J. & Castanon, C. Postpartum Emotional Adjustment. Diakses tanggal 23 Agustus 2016 dari http://www.nantolbert.org/postpartum-emotional- adjustment/
  • Reid, Keshia M. (2013). The Association Between Social SupportStress Exposure and Maternal Postpartum Depression: A Stress Process Approach. Disertasi. The Florida State University. Published by Proquest.
Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+