Plasenta adalah organ yang paling vital dalam masa kehamilan karena fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dari Ibu ke si Kecil. Namun, gangguan pada plasenta bisa saja terjadi di masa kehamilan. Berikut adalah lima gangguan plasenta yang bisa terjadi:

Disfungsi plasenta

Disfungsi plasenta adalah ketidakmampuan plasenta untuk menyalurkan nutrisi untuk si Kecil di dalam rahim Ibu. Disfungsi plasenta bisa menyebabkan komplikasi serius pada si Kecil, seperti pertumbuhan yang terhambat dan berat badan lahir yang rendah.

Infark pada plasenta

Gangguan pada plasenta juga bisa disebabkan oleh infark, jaringan mati dalam plasenta sehingga berdampak pada berkurangnya aliran darah menuju bagian tersebut. Munculnya infark bisa dipicu dari pembuluh darah yang rusak akibat hipertensi. Ibu yang menderita hipertensi dan juga mengalami gangguan infark plasenta akan berisiko tinggi melahirkan si Kecil yang gagal tumbuh atau bahkan mengalami kematian mendadak (SIDS) saat lahir kelak.

Plasenta previa

Plasenta previa merupakan gangguan di mana plasenta tidak tumbuh di bagian atas rahim, melainkan di sisi bawah sehingga memblokir jalan menuju leher rahim atau serviks. Jika kondisi ini terus terjadi hingga akhir masa kehamilan, Ibu harus melahirkan si Kecil melalui proses Caesar karena jalur menuju serviks dan vagina terhalang plasenta.

Abrupsi plasenta

Abrupsi plasenta adalah kondisi terlepasnya sebagian plasenta dari rahim Ibu. Terputusnya plasenta ini akan mengakibatkan aliran darah yang mengantarkan nutrisi dan oksigen dari Ibu ke janin turut terputus, sehingga janin berisiko tinggi mengalami kematian. Jika mengalami abrupsi plasenta, Ibu akan merasakan gejala seperti sakit di bagian rahim, pendarahan, kontraksi pada rahim secara terus menerus, dan denyut jantung janin menjadi tidak teratur. Salah satu faktor pemicu abrupsi plasenta adalah merokok. Oleh karena itu, hentikan kebiasaan Ibu untuk merokok mulai dari sekarang, ya.

Plasenta akreta

Plasenta akreta adalah kondisi saat plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim. Jika Ibu mengalami kondisi ini, saat si Kecil lahir plasenta yang tertanam di dinding rahim bisa menyakiti Ibu dan menyebabkan pendarahan hebat saat proses persalinan selesai. Penanganan yang diberikan untuk menghentikan pendarahan pasca persalinan adalah dengan mengangkat plasenta melalui proses operasi. Apabila pendarahan masih terus terjadi, Ibu akan disarankan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim.

 

Sumber:

Hill, M.A. 2018 Embryology Placenta - Abnormalities. Retrieved February 5, 2018, from https://embryology.med.unsw.edu.au/embryology/index.php/Placenta_-_Abnormalities

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+