Sejak kehamilan Ibu menginjak usia 22 minggu, sistem indera si Kecil sudah terbentuk sempurna dan mulai dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Organ-organ sistem inderanya seperti tangan, mata, telinga, hidung dan lidahnya akan berkembang seiring dengan stimulasi yang diberikan Ibu dan Ayah sejak masa kehamilan. Stimulasi ini juga akan mempengaruhi kemampuan motorik, kognitif dan juga kemampuan berbahasanya saat ia terlahir nanti.

Kemampuan berbahasa si Kecil bisa dilatih sedini mungkin, dimulai dari tahap menstimulasi kemampuan mendengarnya sejak usia 22 minggu. Di masa itu, telinga si Kecil dapat mendengar suara Ibu yang menggema di dalam rahim, suara degup jantung Ibu, suara aliran darah dari dalam pembuluh tubuh, suara kerucuk perut, bahkan suara dari luar rahim Ibu. Karena si Kecil sudah dapat mendengar begitu banyak macam suara tak terkecuali dari luar rahim Ibu, Ayah dapat membantu menstimulasi kemampuan mendengar dan kemampuan berbahasanya dengan cara berikut:

Mengajak si Kecil berbicara. Sering-seringlah mengajak si Kecil mengobrol meski kegiatan tersebut dapat terlihat lucu dan mengherankan. Di waktu senggang saat Ibu dan Ayah mengobrol, berbicaralah dekat dengan dengan perut Ibu agar si Kecil dapat mendengar dan mengenal suara Ayah.

Memperdengarkan musik. Selain mengajaknya mengobrol, Ayah bisa memperdengarkan sejumlah musik tertentu untuk si Kecil di dalam kandungan. Namun, perlu diingat bahwa suara musik yang dimainkan untuk si Kecil adalah musik yang intensitas suaranya tidak lebih dari 85-90 db ya, Yah. Musik atau suara apapun yang sangat keras (di atas 100 db hingga 155 db) dan diperdengarkan lebih dari delapan jam sehari dapat memberikan risiko gangguan pendengaran baginya. Agar aman, Ayah sebaiknya menyanyikan sendiri lagu untuknya dengan volume yang tidak terlalu keras.

Membacakan dongeng. Cara melatih kemampuan bahasa si Kecil juga bisa Ayah lakukan dengan membacakan dongeng. Sebelum tidur atau saat sedang santai, bacakanlah si Kecil di dalam perut Ibu dongeng atau cerita anak, di mana Ayah bisa membacakannya dengan tiruan nada dan intonasi yang bervariasi. Stimulasi ini juga dapat berdampak pada kemampuan motoriknya. Saat janin telah berusia 24 minggu atau lebih, ia dapat merespon suara Ayah yang membacakan dongeng dengan gerakan dan tendangan kecil. Bahkan, menurut sebuah penelitian, Ayah yang rutin membacakan si Kecil suatu dongeng tertentu sejak 6,5 minggu sebelum kelahiran akan menyusu lebih banyak jika Ayah membacakannya dongeng yang sama.

 

Sumber:

Maternal and Early Years. Hearing and Listening in The Womb. http://www.maternal-and-early-years.org.uk/hearing-and-listening-in-the-womb  

Heidi Murkoff, Sharon Mazel. 2008. What To Expect When You’re Expecting. Chapter8: The Third Month: Quiet, Please. Page 193. Workman Publishing Company, Inc:New York.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+