Hai Ibu, saya ingin sedikit berbagi pengalaman ketika melahirkan anak saya yang pertama.

Buat saya kehamilan saya benar-benar merupakan anugerah Tuhan yang sangat luar biasa, setelah selama hampir 2 tahun kami menantikannya. Namun ternyata menjalani kehamilan itu bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi kehamilan yang pertama. Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman yang juga pernah hamil. Membaca artikel di majalah dan tabloid kehamilan dan buku-buku seputar kehamilan, serta aktif searching di internet untuk mendapatkan informasi seputar kehamilan.

Satu hal yang sangat saya yakini pada waktu itu adalah apapun keadaan emosi saya pasti akan berakibat juga terhadap perkembangan janin saya. Dan apapun juga yang saya makan akan di rasakan juga oleh bayi yang saya kandung. Termasuk juga apapun yang saya dengarkan akan didengarkan juga okeh bayi saya. Oleh sebab itu, sejak bayi saya berumur 3 bulan saya rajin mengajak dia bicara, mendengarkan music klasik dan makan-makanan yang sehat, seperti salmon, minum susu hamil, dan banyak makan makanan yang tinggi asam folat untuk kecerdasan dan tumbuh kembang janin saya secara optimal.

Ketika janin saya berumur 5 bulan, saya sudah memberinya nama dan mulai berkomunikasi dengan menyebut namanya. Menurut perkiraan dokter, anak saya akan lahir tanggal 2 Mei. “Wah, kan pernikahan saya tanggal 30 April, kenapa gak lahir tanggal yang sama aja ya,” begitu pikir saya. Akhirnya karena saya terlalu yakin bahwa janin di dalam perut saya sudah bisa mendengar setiap kali saya ajak berkomunikasi, maka setiap hari saya selalu bilang kepadanya “Sayang, kamu keluar dari perut mama tanggal 30 April saja ya, biar ulang tahunnya barengan dengan hari pernikahan mama dan papa”.

Banyak sekali sharing dari teman-teman yang tentang kehamilan dan persiapan ASI. Dari awal kehamilan saya berniat untuk melahirkan normal. Namun saya dengar dari teman-teman bahwa melahirkan normal itu sakit. Mendengar itu saya berpikir bahwa saya bisa mengajak bayi saya untuk bekerjasama ketika lahir agar tidak perlu sakit. Dan setiap hari saya pun berkata kepadanya, “Sayang, nanti kalau mau keluar dari perut Ibu gak usah ragu-ragu ya, langsung keluar aja, jadi Ibu gak kesakitan, dan kamu juga enak langsung melihat dunia.” Dan begitulah, setiap hari saya mengajak bayi dalam kandungan saya itu berkomunikasi untuk persiapan kelahiran dia.

Sampailah tanggal 29 April malam, setelah pulang dari senam hamil sore harinya, saya merasakan mules-mules yang semakin sering. Wah, ini pertanda anak saya mau lahir nih. Saya tunggu sampai mules-mulesnya 5 menit sekali untuk ke rumah sakit. Ketika jam 12 malam mules-mules itu semakin berasa, dan saya putuskan untuk ke rumah sakit saja. Suami saya yang memang sudah selalu siap untuk mengantar saya ke rumah sakit kalau anak kami lahir sibuk membawa tas yang berisi perlengkapan melahirkkan yang memang sudah saya siapkan sebelumnya. Akhirnya berangkatlah kami ke rumah sakit. Tetapi kata suster yang memeriksa saya, jalan lahir belum terbuka semua, masih bukaan 2. Menjelang pagi saya jalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mempercepat proses pembukaannya.

Pukul 6 pagi saya sudah mulai kelelahan berjalan-jalan, akhirnya suster membawa saya masuk ke ruang bersalin dan tidak berapa lama kemudian dokter kandungan saya pun datanglah. “Wah, kepalanya sudah kelihatan tuh, ayo Bu kita mulai ya”, kata sang dokter. Dan tidak berapa lama kemudian terdengarlah suara tangis bayi. Oh betapa bahagianya aku dokter bilang “Selamat dan lengkap Bu, laki-laki,” tepat di tanggal 30 April.

Dan kebahagiaan itu semakin lengkap ketika anakku menempel di dada untuk inisiasi menyusui dini. “Selamat datang anakku, terima kasih sudah mendengarkan Ibu dan bekerjasama untuk kelahiranmu,” bisikku padanya.

Jadi, kalau boleh saya simpulkan dan berbagi beberapa tips untuk melahirkan secara normal adalah :

  1. Melahirkan normal itu memang sakit dan perlu tenaga. Namun kita bisa membuat proses itu menjadi lebih smooth dan nyaman dengan mengajak bayi di dalam kandungan kita untuk bekerjasama. Hal ini harus selalu dikomunikasikan setiap hari kepada bayi yang ada di dalam kandungan kita.
  2. Persiapan fisik sangat diperlukan. Istirahat dan makan yang cukup akan sangat membantu proses persalinan lancar, karena melahirkan normal itu perlu tenaga yang luar biasa.
  3. Bawalah dan dengarkanlah music dan lagu-lagu yang Ibu suka, sehingga bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakit.
  4. Jangan panik, tetap tenang dan ingatlah setiap latihan senam yang kita pelajari selama kita mengikuti senam hamil, terutama cara mengejan, karena itu sangat membantu untuk memperlancar proses kelahiran.
  5. Berdoa dan berserah kepadaNya untuk kelancaran proses kelahiran.

Nah Ibu, semoga sharing saya bermanfaat ya, dan nikmati serta syukuri setiap hal yang boleh Ibu rasakan selama kehamilan Ibu. Semoga semua lancar ya Ibu.

 

Diceritakan oleh Ibu Dewi Indah kepada Lactamil Ibu Care

 

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+