Sebagian Ibu mengalami kesulitan untuk hamil karena mengalami masalah kesuburan. Menariknya, tak semua masalah kesuburan dapat dijelaskan secara medis sehingga Ibu kerap disarankan untuk ‘jangan stres’. Apakah ada pengaruh kondisi psikologis terhadap kesuburan Ibu? Apa yang bisa dilakukan?

Stres dan Kesuburan

Stres bisa menjadi penyebab Ibu sulit hamil. Apa sih stres itu? Stres adalah respon kita terhadap tekanan atau ancaman. Saat stres, jantung akan berdetak lebih cepat, napas menjadi lebih tersengal-sengal, telapak tangan berkeringat atau lutut bergetar.

Kenyataannya, penyebab stres tidak selalu karena hal-hal seperti kemacetan jalan atau bertengkar dengan anggota keluarga. Kenangan tentang ketidaknyamanan yang terjadi di masa lalu juga dapat menyebabkan stres. Stres yang tidak terolah dan tidak terselesaikan (misalnya karena berusaha dilupakan atau dibiarkan saja) dalam jangka waktu lama dapat menjadi stes kronis dan memengaruhi tubuh. Misalnya membuat susah tidur, pencernaan bermasalah, imunitas melemah, bahkan berpengaruh pada kesuburan.

Apabila kita stres, tubuh akan memproduksi hormon kortisol. Hormon ini mengakibatkan level gula darah meningkat sementara kadar insulin berkurang. Produksi hormon testosteron pun dapat meningkat. Salah satu efek dari perubahan kadar hormon tubuh ini adalah sindrom ovarium polikistik yang dapat membuat seorang wanita sulit hamil.

Kondisi Psikologis Bukan Hanya Stres

Stres memang jadi satu masalah besar. Namun selain stres, ada banyak kondisi psikologis lain yang juga dapat memengaruhi kesuburan. Ibu bisa memerhatikan emosi yang dirasakan (apakah lebih banyak emosi positif seperti senang dan semangat atau emosi negatif seperti sedih dan kecewa), trauma, ketakutan, kecemasan, frustrasi, dll. Ibu dapat memperhatikan bagaimana pola pikir, keyakinan, atau sikap dalam keseharian dapat memengaruhi emosi Ibu.

Beberapa masalah pemicu stres contohnya adalah adanya trauma di masa lalu, mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau ketakutan berhubungan seksual. Beberapa kondisi pemicu stres yang juga kerap terjadi misalnya terdapat perbedaan antara Ibu dan Ayah (salah satunya sangat ingin Ibu hamil sementara yang lain tidak berminat memiliki anak lagi), adanya kekhawatiran terhadap kondisi rumah tangga di masa depan (misalnya tidak yakin perkawinan bertahan lama), kekhawatiran bahwa kehadiran anak akan memengaruhi karir Ibu atau Ayah, atau hal-hal lainnya. Berbagai alasan tersebut secara tidak disadari menghasilkan hambatan psikologis yang akhirnya berpengaruh pada kesuburan Ibu.

Apa yang Dapat Ibu Lakukan?

Apabila Ibu mengalami berbagai masalah di atas dan karenanya menjadi sulit hamil, apa yang bisa dilakukan?

  • Sadari dan cari apa sesungguhnya yang menjadi masalah pemicu stres. Contohnya, jika dalam hati kecil Ibu sebenarnya belum ingin atau tidak siap untuk hamil maka Ibu sebaiknya jujur terhadap diri sendiri terlebih dulu.
  • Bicara dari hati ke hati bersama Ayah. Baik Ayah dan Ibu perlu usaha yang selaras untuk menginginkan kehamilan. Jadi, selesaikan dulu semua masalah antara Ayah dan Ibu sehingga energi Ayah dan Ibu dapat berfokus pada usaha untuk hamil.
  • Jika ada masalah rumah tangga yang sepertinya sulit dibicarakan bersama Ayah sementara masalah itu sangat mengganggu pikiran Ibu, maka Ibu bisa mengobrol terlebih dulu pada keluarga yang dapat dipercaya. Mengeluarkan pikiran dan perasaan kepada orang lain bisa membantu mengurangi beban Ibu. Jika Ibu tidak nyaman bicara dengan keluarga atau sahabat karib, Ibu bisa berkonsultasi dengan psikolog klinis dewasa.
  • Kelola stres Ibu. Jika Ibu stres, aturlah agar kondisi Ibu tak terganggu dengan stres tersebut. Tetaplah memikirkan hal-hal positif, carilah hal-hal yang bisa disyukuri dari peristiwa yang sedang Ibu hadapi.
  • Jaga tubuh agar tetap Ibu harus makan dan minum asupan bernutrisi, tidur cukup, berolahraga dan selalu melatih diri untuk berpikir positif. Bukankah jiwa yang sehat ada di dalam tubuh yang kuat?

 

Sumber:

Deka, P.K. & Sarma, S. (2010). “Psychological Aspects of Infertility.” British Journal of Medical Practitioners, September 2010, Volume 3, number 3.

Schwartz, James. (2008) The Mind-Body Fertility Connection: The True Pathway to Conception. (Kindle Location 9). Kindle Edition.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+