Mama hamil moody, mudah cemas, pemarah, atau sebaliknya ceria dan periang, semua itu bisa jadi karena perubahan hormon selama kehamilan terjadi. Masa sih? Coba kita cek beberapa hormon dalam tubuh mama.

  • HCG (Human Chorionic Gonadotropin)

Belum pernah tahu hormon ini? Ini adalah hormon yang muncul dalam hitungan hari setelah sel telur mama dan sel sperma papa bersatu. Keberadaan hormon inilah yang kemudian mengonfirmasi kehamilan mama. Bagaimana caranya? Mama ingat saat mengetes kehamilan dengan alat tes kehamilan? Jika HCG muncul, maka alat tes kehamilan akan menunjukkan tanda (+) dan jika HCG tak ada (kehamilan tak terjadi), maka alat tes kehamilan menunjukkan tanda (-).

Hormon HCG meningkat pesat dalam trimester pertama, kemudian menurun levelnya pada trimester kedua. Inilah alasan mengapa mama di trimester pertama mengalami morning sickness alias mual-muntah di pagi hari, juga menjadi sering buang air kecil. Hormon HCG menekan sistem imunitas mama agar tubuh mama lebih toleran pada si Kecil. Akibatnya mama lebih mudah terkena penyakit, misalnya flu.

Perubahan kondisi di trimester pertama akibat hadirnya hormon HCG sering membuat mama terganggu. Mama jadi kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari di pagi hari karena mual dan muntah. Mama juga tak bisa sembarang minum obat, padahal lebih mudah terserang pilek. Perubahan ini tentu memusingkan mama.

  • Estrogen dan Progesteron

Hormon ini sungguh penting dalam kehamilan, karena akan membantu perkembangan organ-organ bayi. Hormon ini juga membantu menumbuhkan plasenta dan mengatur hormon kehamilan yang lain. Hormon estrogen meningkat pesat dipicu oleh HCG, kemudian secara bertahap meningkat dan mencapai puncaknya di trimester ketiga.

Seperti estrogen, progesteron juga meningkat pesat dipicu oleh HCG. Manfaat progesteron adalah menjaga endometrium, yaitu lapisan tebal di dinding rahim yang berfungsi untuk tempat plasenta. Oleh karena itu, si Kecil tetap aman di dalam rahim mama, tidak terancam lahir sebelum waktunya. Progesteron juga penting untuk transformasi rahim mulai dari ukuran buah pir saat belum hamil menjadi cukup besar untuk menampung bayi siap lahir.


Adanya kenaikan hormon estrogen dan progesteron memiliki efek positif juga lho buat mama. Kulit mama cenderung jadi lebih mulus dan halus. Rambutpun terlihat lebih sehat berkilau. Ada sih mama yang mengalami kerontokan bulu di kaki dan tangan, sehingga terlihat lebih mulus.

Di sisi lain, sebagian mama mengalami beberapa ketidaknyamanan akibat meningkatnya hormon estrogen dan progesteron ini. Salah satu efek yang paling terasa adalah adanya mood swing alias perubahan suasana hati. Sebentar senang, tiba-tiba sedih, lalu jadi takut dan khawatir, kemudian tahu-tahu menangis. Papa mungkin jadi bingung menghadapi mama, padahal mama tak kalah bingungnya menghadapi perubahan ini.

  • Kortisol

Sesungguhnya hormon kortisol bukan hormon khusus kehamilan, seperti ketiga hormon di atas. Namun terkait kondisi psikologis, pengaruh hormon kortisol cukup banyak diteliti. Hormon kortisol muncul saat seorang mama mengalami stres alias tertekan, baik oleh diri sendiri ataupun orang lain. Ada 2 jenis stres, yaitu eustres (stres positif) dan distres (stres negatif). Tentu saja hormon ini muncul lebih banyak saat mama mengalami distres.

Penelitian membuktikan bahwa level kortisol mama yang meningkat selama kehamilan, akibat distres yang dialami, berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang lebih rendah (Diego, dkk., 2006). Distres juga terkait dengan periode kehamilan lebih singkat, alias resiko kelahiran prematur lebih besar. Kondisi-kondisi ini meningkatkan resiko pada bayi.

Adanya perubahan hormon dalam tubuh mama memang dapat menjadikan kehamilan lebih sulit dijalani. Namun perubahan hormon tersebut penting demi terjaganya si Kecil dalam kandungan mama. Oleh karena itu mama perlu sekali menjaga vitalitas tubuh dan berpikir positif untuk mengurangi ketidaknyamanan selama hamil. Selamat mencoba, Ma!

  

 

Sumber:

Diego, M.A.,

Jones, N.A., Field, T., Hernandez-Reif, M., Schanberg, S., Kuhn, C., &

Gonzales-Garcia, A. (2006). Psychosom

Med.
 2006 Sep-Oct; 68(5):747-753. 

045/2/2017

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+