Selamat Tahun Baru 2016! Diantara sekian banyak resolusi tahun yang baru ini, mungkin ada diantara Ibu yang beharap untuk segera hamil. Memang tahun baru sering digunakan sebagai momentum merenungkan hidup menjadi lebih baik dan menggapai cita-cita yang belum kesampaian.

Bagi yang berencana hamil, pasti mulai menata pola makan, menghitung masa subur, check up ke dokter, mengonsumsi asam folat, dan sebagainya. Kali ini kita tidak membahas pola makan, olahraga dan istirahat deh. Pasti Ibu yang sering bergabung di Ibu Care sudah khatam dengan tiga elemen penting lifestyle tersebut. Kali ini kita akan membahas mengenai kebersihan area V dan kaitannya dengan perencanaan kehamilan.

Sebelumnya, mari bahas sedikit mengenai vagina atau yang sering disebut dengan sebutan “miss V”, yang merupakan area yang sangat penting terutama dengan perencanaan kehamilan. Vagina adalah rongga elastis dengan permukaan yang halus dan fleksibel yang sarat dengan saraf. Vagina adalah penghubung ke uterus (rahim) dengan urutan sebagai berikut: vulva – labia – serviks – uterus, sehingga kita bisa mengetahui kondisi rahim dengan melihat area V sebagai “pintu masuknya”.

Area V ini juga dipenuhi dengan bakteri baik yang tugasnya menjaga kebersihan dan kestabilan pH, sekaligus melindungi dari kuman-kuman yang mungkin masuk. Area V sangat sensitif terhadap perubahan suhu, kelembapan, pH dan kebersihan, apalagi posisinya yang berdekatan dengan pembuangan air kecil dan air besar. Salah-salah, bisa mengakibatkan UTI (urinary tracht infection atau infeksi saluran kemih), sariawan (genital warts – kebanyakan disebabkan oleh HPV atau human papillomavirus), trichomoniasis, vaginitis, dan BV (bacterial vaginosis).

Ada juga beberapa penyakit yang ditularkan dari pasangan seperti herpes simplex virus (HSV), gonorrhea dan chlamydia. Nah kalau ini selain harus segera diobati sampai tuntas, harus dicari penyebabnya. Karena bisa mengakibatkan sulit hamil bahkan kemandulan.

Cara mengetahui ada yang tidak beres di bawah sana biasanya ditandai dengan discharge atau cairan yang tidak seperti biasanya. Cairan yang normal adalah bening atau keputihan,tidak berbau dan tidak gatal. Dan cairan ini adalah bagian penting dari organ reproduksi, jadi jangan heran ya Ma, tidak semua keputihan menandakan ada masalah; apalagi kondisi seperti ectropion cervix yang sering terjadi bila menggunakan pil KB hormon untuk waktu lama. Waspada manakala keputihan tidak seperti biasanya (menjadi banyak, berwarna/keruh, kental, berbau, gatal), area sekitar vagina menjadi kemerahan, dan perih bila buang air kecil. Segera periksakan ke dokter. Kebanyakan dapat diobati dengan cepat dan mudah, seperti pemberian antibiotik manakala penyebabnya adalah bakteri.

Nah, saat hamil, Ibu akan mengalami keputihan yang menjadi semakin banyak seiring membesarnya usia kehamilan. Inipun normal Ma, karena perubahan hormonal, aliran darah yang meningkat termasuk ke daerah kewanitaan, dan juga untuk mencegah infeksi dari vagina menuju ke rahim.

Selama tidak gatal, berbau dan berwarna, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bisa Ibu atasi dengan sering mengganti celana dalam, dua hari sekali basuh dengan cairan kewanitaan, dan banyak minum yogurt atau minuman probiotik untuk memberi makanan bagi bakteri baik.

Nah kembali ke topik; apakah penggunaan panty liner aman? Bagaimana kaitannya penggunaan panty liner (pembalut yang tipis) dengan kesuburan? Sebenarnya tidak ada kaitan langsung, tetapi sebaiknya jangan terlalu bergantung dengan pemakaian panty liner setiap hari, apalagi digunakan saat tidur. Gunakanlah pada waktu-waktu yang dibutuhkan, yaitu menjelang akan haid dan sesudah haid, atau hendak pergi traveling. Sisanya lebih baik tidak mengenakannya. Kenapa? Karena selain mengandung bahan kimia (seperti pemutih dan pewangi), seringkali membuat Ibu menjadi malas kalau sudah lembab dan tidak langsung diganti. Sementara kalau menodai celana dalam, pasti Ibu akan merasa tidak nyaman dan segera menggantinya, sehingga juga menjadi lebih peka terhadap kondisi organ intim (keputihan).

Bila ada masalah keputihan berlebih, bisa jadi adalah indikasi infeksi seperti BV yang perlu segera ditangani. Menggunakan panty liner tidak akan mengobati, malah bisa memperparah bila Ibu alergi dengan kandungan kimianya. Apalagi Ibu hamil, dimana bisa mendadak menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Tetapi tentu saja, dengan kondisi Ibu hamil yang mengeluhkan sering ngompol, maka mau tidak mau, menjadi bergantung pada pembalut atau panty liner untuk menjaga kekeringan area V.

Untuk kondisi seperti ini, diperbolehkan kok Ma, asalkan menghindari panty liner yang mengandung pewangi, menggantinya setiap terasa lembab, dan membersihkan hingga kering dulu sebelum mengganti panty liner.

Selain itu pantau area V dengan menjaga kebersihannya (usai buang air, bersihkan dengan air dan lap hingga kering), gunting rambut pubis/kemaluan agar rapih dan bersih (atau bisa juga melakukan bikini wax), hindari douching (menyemprot liang vagina dengan cairan pembersih – sesekali membasuh di area luar dengan cairan kewanitaan ph balanced, masih diperbolehkan), banyak minum air putih dan makanan/minuman fermentasi (dengan bakteri baik atau makanan untuk bakteri baik), perhatikan pemilihan celana dalam (terbuat dari katun dan ukurannya pas; tidak terlalu ketat dan tidak longgar), hindari pemakaian baju yang terlalu ketat apalagi dari bahan yang tidak menyerap keringat seperti kulit, hindari berendam dengan sabun atau busa, hindari membersihkan dengan tisu basah yang ada pewanginya (gunakan air bersih dari sumber mengalir dan segera keringkan), dan bagi Ibu yang belum hamil, sesekali lakukan perawatan kewanitaan seperti ratus. Selain itu, sebaiknya Ibu juga melakukan pap smear secara rutin untuk memastikan kesehatan di area intim Ibu. Rahim adalah atau akan menjadi rumah untuk di kecil selama sembilan bulan, maka penting kita perhatikan kesehatannya. Setuju Ma?

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+