Hai Ibu,

Ah berbicara kembar aku menjadi sangat bersemangat. Apalagi seorang sahabat aku sesama presenter baru saja mengabari dirinya hamil kembar. But still top secret, sssstt. Dari dulu aku bercita-cita banget punya anak kembar. Sampai waktu sedang merencanakan kehamilan kedua, aku menjalani program terapi hormon agar sel telur banyak sehingga semakin tinggi kemungkinan pembuahan ganda. Program tersebut aku jalani selama enam bulan, dengan rajin berkonsultasi, USG melihat apakah sel telur sudah banyak dan matang, dan menjadwalkan waktu berhubungan. Namun karena tidak rejeki, tidak ada satupun yang jadi. Eh, begitu sudah berhenti program, langsung hamil dan jadilah Nuala! Masih penasaran, program bayi tabung (IVF) pun aku coba ketika berencana hamil keempat (aku sempat hamil ketiga tetapi keguguran di 10 minggu.) Sepertinya rejeki aku berbeda, sebelum pertemuan untuk mengekstraksi sel telur, positif hamil dengan Delmar! Hehehe.

Tapi aku masih menyimpan cita-cita untuk mencoba lagi. Setelah Delmar lebih besar lagi, why not? Upaya terakhir sebelum tutup pabrik hehehe. Anyway, setiap aku mengutarakan keinginanku ke dokter, pasti mereka kurang setuju. “Untuk apa? Kamu tidak ada masalah hamil. Terapi kembar apalagi bayi tabung itu diperuntukkan mereka yang punya masalah hamil secara alamiah,” atau, “Kembar itu resiko tinggi!” Nah yang kedua itu memang benar. Kehamilan ganda dikenal sebagai istilah high risk pregnancy. Berikut beberapa pengetahuan mengenai kembar.

Tipe bayi kembar

Ada dua tipe kembar: kembar identik dan kembar non-identik.

  1. Kembar identik atau monozygotic adalah pembelahan dari sel telur dan sperma yang sama (satu zygote yang membelah menjadi dua embrio, namun berbagi satu plasenta)
  2. Kembar non-identik atau dizygotic atau fraternal, yang berasal dari dua sel telur yang dibuahi sel sperma berbeda. Makanya kembar beda telur tidak mirip. Ibaratnya mereka adalah kakak dan adik yang tumbuh secara bersamaan di rahim.

Kembar bisa terjadi secara alamiah (kemungkinan identik bila ada keturunan, atau non-identik bila pembuahan terjadi berbarengan) dan secara inseminasi dan bayi tabung (non-identik).

Risiko kehamilan kembar

Kenapa hamil kembar dianggap sebagai high risk? Karena biasanya kembar itu akan lahir sebelum 40 minggu atau prematur, biasanya pada minggu ke 37. Di bulan-bulan terakhir, dokter akan memantau kematangan organ vital mereka, dan bila memungkinkan akan dilahirkan secara caesar. Alasannya, terlalu riskan membiarkannya lama di dalam rahim apalagi kembar identik yang “berebut” makanan melalui satu plasenta. Ada juga sindrom twin-to-twin transfusion dan berbagai kemungkinan komplikasi lain, sehingga bila ada indikasi, dokter merasa lebih aman mengeluarkannya dan memantau perkembangannya di NICU. Selain itu, kehamilan kembar perlu diawasi sebagai salah satu pemicu Preeklamsia (toksemia gravidarum/keracunan kehamilan.) Maka Ibu yang hamil kembar perlu rajin mengukur tensi darah, terlebih setelah kehamilan berusia 20 minggu.

Nah bagi Ibu yang (beruntung) hamil kembar, selama dokter mengatakan kehamilan Ibu sehat, silakan beraktivitas layaknya hamil biasa. Yaitu tetap berolahraga ringan, istirahat setidaknya 6 jam setiap hari (kehamilan manapun membuat lelah, biasakan tidur siang atau nap setiap ada kesempatan,) dan makan yang begizi. Tentunya karena kembar, Ibu membutuhkan lebih banyak nutrisi. Tidak berarti porsi makannya diperbanyak tiga kali lipat! Tapi pastikan semua yang Ibu konsumsi itu padat mikronutrisi terutama zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin mineral lain. Konsultasikan dengan dokter (atau ahli gizi) terkait kebiasaan makan Ibu, sehingga Ibu dapat mengetahui sumber makanan apa saja yang perlu ditambah untuk memastikan kehamilan yang sehat, dan mendapatkan tambahan suplemen manakala dibutuhkan. Olahraga juga sama pentingnya Bu, tetapi karena perut lebih besar, gunakanlah korset khusus untuk menopang perut. Banyak gerakan olahraga yang bisa Ibu lakukan dari posisi duduk seperti upper body exercise dan stretching kaki, atau bisa juga berenang, dimana massa air menyanggah perut Ibu.

Walau kembar, tidak berarti Ibu dijatah kenaikan berat badan dobel. Kenaikan berat badan kembar tidak berbeda jauh dengan kehamilan biasa. Misal untuk seorang Ibu dengan BMI normal (berat badan sebelum kehamilan normal) untuk kehamilan tunggal disarankan naik 12-16 kg. Untuk kembar sekitar 14-24 kg. Karena resiko diabetes semakin tinggi bila kenaikan berat badan juga terlalu besar.

Selain memantau kenaikan berat badan, perlu memantau tensi darah, dan posisi janin dalam rahim. Berkonsultasi intensif dengan dokter terlebih mengenai metode persalinan dan waktunya. Kebanyakan Ibu memilih persalinan sesar sehingga perlu dilakukan sebelum mendekati 37 minggu (momen kembar biasa lahir normal) namun harus menunggu sampai semua organnya sudah matang, terlebih paru-paru. Siapkan juga fasilitas NICU manakala si kembar lahir dan diperlukan. Bagi yang ingin persalinan normal, pantau posisi kepala janin. Untuk mempermudah persalinan normal, baiknya keduanya dengan posisi kepala di bawah. Biasanya ada jarak 13-15 menit antar kelahiran bayi pertama dan kedua.

Jadi sekali lagi, selamat bagi Ibu yang hamil kembar. Sedikit repot di awal tapi terbayang serunya saat si kecil sudah tumbuh besar dan punya sahabat abadi yang mendampingi sejak di rahim. Pantau dan konsultasi terus dengan dokter, banyak mencari informasi, persiapkanlah semua kebutuhan serba dobel, dan banyak membaca kisah kembar yang sukses untuk memberi sugesti positif kepada Ibu mengenai kehamilan dan persalinan yang lancar.

 

Sumber:

Heidi Murkoff, Sharon Mazel. What To Expect When You’re Expecting.  Chapter 16: Expecting More Than One. New York: Workman Publishing, 2008.

Irina Burd, MD, PhD and Jennifer Kanipe, RN, BSN. University of Rochester Medical Center. Complications of Multiple Pregnancy. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=85&ContentID=P08021

 

CVM: 02-226/4/2018

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+