“Banyak anak banyak rejeki.” Setuju sih Bu, anak itu adalah karunia dan harus percaya rejeki sudah diatur, tapi rasanya lebih bijak bila diubah menjadi “banyak anak banyak pertanggungan”. Bukan berarti kalau ekonomi sedang sulit tidak bisa punya anak, yang penting adalah: perencanaan!

Sebagai orang tua yang smart, saat membuat perencanaan keluarga, Ibu perlu mempertimbangkan segala aspek: kesehatan, gaya hidup, termasuk keuangan. Untuk keuangan, ada yang menggunakan jasa financial planner, tapi Ibu dan Ayah bisa membuat anggaran sendiri. Mulai dengan menulis jumlah penghasilan Ibu dan Ayah saat ini di satu kolom, kemudian pada kolom selanjutnya jabarkan daftar pengeluaran yang perlu dipersiapkan, lengkap dengan angka sesuai dengan harga/standar kebutuhan Ibu, seperti:

1) Biaya persiapan kehamilan

Sebagai bagian dari perencanaan kehamilan, Ibu mungkin perlu melakukan tes seperti TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes) atau periksa darah untuk mengetahui hipertensi, diabetes, dan lain-lain.

2) Biaya periksa kehamilan

Begitu sudah positif hamil, Ibu perlu menjadwalkan pemeriksaan rutin sekaligus mencari dokter Obgyn yang paling cocok. WHO menyarankan pemeriksaan kehamilan sebanyak 15 kali, yaitu

  • setiap 4 minggu sekali hingga usia kehamilan 28 minggu,
  • setiap 2 minggu sekali dari usia kehamilan 28-36 minggu,
  • dan setiap satu minggu sekali dari usia kehamilan 36 minggu hingga waktunya melahirkan

Selain biaya pemeriksaan hamil, Ibu perlu memperhitungan biaya USG 4D, suplemen nutrisi, senam hamil, dan kebutuhan lain semasa hamil.

3) Biaya melahirkan

Walau merencanakan persalinan normal, persiapkan dana untuk persalinan Caesar yang bisa tiga kali lebih mahal. Syukur-syukur Ibu dan Ayah punya asuransi yang bisa cover hal ini. Untuk itu, pastikan Ibu sudah mencari tahu segala informasi seperti rumah sakit mana saja yang rekanan dengan perusahaan asuransi Ibu dan Ayah.

4) Biaya perlengkapan bayi

Kalau masih anak pertama, maka akan cukup besar karena perlu mempersiapkan perabotan besar seperti tempat tidur, baby tafel, stroller, car seat, dan lain-lain. Ibu bisa membuat baby registry di toko perlengkapan bayi. Jadi kalau ada keluarga atau teman yang ingin membelikan sesuatu, bisa diarahkan membelikan yang memang dibutuhkan. Beberapa barang juga bisa disewa. Banyak berkonsultasi dengan sesama Ibu perihal hal ini.

Jangan lupa juga menghitung kebutuhan bulanan si kecil, seperti diaper, perlengkapan mandi, dan lain-lain.

5) Biaya kesehatan si kecil pasca melahirkan

Terutama biaya vaksinasi dan biaya Ibu kontrol post-natal.

6) Biaya masa depan seperti asuransi pendidikan

Walau rasanya masih jauh, biaya pendidikan adalah komponen yang sangat penting dalam perencanaan finansial. Apalagi pendidikan mengalami kenaikan antara 5-15%! Jauh di atas inflasi. Alangkah baiknya bila dicicil dari sekarang dalam bentuk tabungan atau asuransi. Selain asuransi pendidikan, coba Ibu dan Papa diskusikan asuransi lain seperti kesehatan. Syukur-syukur kalau pekerjaan Ibu dan Papa punya asuransi kesehatan dan cover biaya pemeriksaan, rawat jalan, rawat inap dan lain-lain

7) Biaya hal lain

Biaya tambahan lain seperti mengganti atau mencicil mobil dengan SUV atau MPV yang lebih mudah mengangkut si kecil dan stroller, menggaji jasa seorang suster, dan lain-lain.

 

Jika seandainya angka antara pemasukan saat ini dan prediksi pengeluaran tidak match, jangan khawatir. Itulah pentingnya perencanaan. Lihat gaya hidup Ibu dan Ayah saat ini, apa yang bisa dikurangi? Mungkin pengeluaran selama ini untuk senang-senang bisa dikurangi dan dialokasikan ke tabungan atau investasi? Mungkin ada beberapa barang yang sudah tidak digunakan dan bisa dijual? Merencanakan punya anak adalah keputusan finansial yang sangat besar, maka jangan heran bila Ibu dan Ayah sampai perlu merelakan tabungan/investasi/asset dicairkan untuk membiayai prediksi pengeluaran. Tenang saja Bu, akan selalu ada acara lain untuk mengumpulkan dana dan kembali membeli asset. Aku sering menjadi moderator untuk diskusi seputar perencanaan finansial dengan pakar keuangan. Berikut aku kutip beberapa tips yang bisa Ibu dan Ayah terapkan dalam rangka persiapan kehamilan:

  • MBA

Bukan married by accident ya Bu, melainkan “manajemen by amplop”. Maksudnya adalah metode yang sering dilakukan orang tua kita, yakni setiap gajian langsung memposkan uang tersebut dalam “amplop” sesuai prioritas dan porsi. Biasanya urutan pertama adalah kewajiban, kemudian kebutuhan sehari-hari, sisanya adalah pos terakhir untuk liburan, beli tas, atau hal yang tidak mendesak.

Misal, “amplop” pertama adalah “kewajiban utama” seperti cicilan KPR, kredit mobil, atau KTA. “Amplop” kedua adalah “kewajiban” lain seperti uang sekolah anak (kalau sudah ada anak) atau tabungan/asuransi pendidikan (bagi yang merencanakan kehamilan) dan asuransi lainnya, bayar kartu kredit, arisan. “Amplop” ketiga adalah kebutuhan sehari-hari seperti makanan, bensin, listrik, dll. “Amplop” keempat adalah dana darurat. Ada yang menyarankan dana darurat adalah 6-9x pengeluaran bulanan. Pelan-pelan saja Bu untuk menyusihkannya setiap bulan. Karena dana darurat juga bisa digunakan sepanjang kehamilan/persalinan kalau ada kebutuhan biaya mendadak. “Amplop” terakhir adalah untuk senang-senang,seperti merencanakan liburan.

  • Paksakan investasi

Kalau dilihat catatan, banyak sekali yang perlu dipersiapkan, mana ada dana untuk investasi? Ada kok Bu, dimulai dengan penghematan harian. Kalau perlu buatlah semacam celengan. Setiap hari sisihkan 50 sampai 100 ribu, tahu-tahunya Ibu ada kelebihan beberapa juta yang bisa Ibu investasikan. Membeli reksadana saja minimumnya adalah 100 ribu lho Bu.

  • Mulai cari sekolah.

Memang masih jauh sih Bu, tapi jangan salah lho, ada beberapa playgrup/TK/SD yang favorit, sudah ada waiting list semenjak si kecil dalam kandungan! Dengan melihat target nyata, Ibu akan semakin terpacu merencanakan keuangan.

  • Hadiah asuransi.

Ini adalah yang Ibuku berikan kepada cucu-cucunya. Saat aku melahirkan Nadine, Ibu menanyakan mau apa? Tercetuslah ide asuransi pendidikan! Orang tua atau anggota keluarga lain yang mapan mungkin bingung ingin memberikan apa. Daripada stroller mewah atau boks bayi yang hanya terpakai di tahun awal saja, asuransi akan sangat bermanfaat untuk masa depannya.

  • Rencanakan segala sesuatu untuk mendapatkan harga terbaik.

Merencanakan kehamilan tidak berarti Ibu tidak bisa lagi senang-senang. Misal liburan, ikutilah travel fair guna mendapatkan tiket promo atau booking hotel jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga early bird. Atau bila ingin beli tas, manfaatkan fasilitas cicilan.

  • Spring cleaning.

Kehadiran anggota keluarga baru akan membutuhkan tempat banyak untuk kamarnya dan segala keperluannya. Lakukanlah spring cleaning atau berbenah dan juallah perabotan/isi rumah yang tidak dipakai. Bisa menggelar garage sale atau menjualnya di media sosial ataupun aplikasi jualan barang bekas.

  • Cari sumber penghasilan tambahan.

Era digital menciptakan banyak peluang bagi yang kreatif. Ibu dan Papa bisa merintis usaha sampingan, siapa tahu saat si kecil lahir, usaha Ibu dan Ayah sudah stabil dan bahkan bisa menjadi sumber penghasilan utama saat Ibu memutuskan berhenti kerja kantoran agar bisa lebih fleksibel mengurus anak.

Merencanakan keuangan itu amat sangat penting, dan akan semakin mantap dilakukan bila ada motivasi kuat seperti menjamin masa depan yang nyaman untuk si Kecil. Juga bisa menjadi pemacu Ibu dan Ayah bekerja lebih giat dan jeli melihat peluang sumber penghasilan lain. Di awal mungkin agak berat karena perlu melakukan beberapa penyesuaian, tetapi pada akhirnya akan terbiasa.

Segala sesuatu bisa dilakukan kok Bu dengan perencanaan dan kerjasama antara Ibu dan Ayah. Terakhir adalah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa telah mengatur rizki yang terbaik untuk kita.

 

CVM 02-505/8/2018

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+