Hai Ibu, akhirnya keluarga kecilku menyambut kehadiran seorang bayi melalui persalinan normal pada hari Minggu 26 Juni 2016, pukul 2.37 pagi, yang langsung disusul oleh Inisiasi Menyusui Dini. Selama kehamilan, aku sengaja tidak mencari tahu jenis kelaminnya, sehingga begitu ia keluar dan dokter memberitahukan bahwa adalah laki-laki, aku menamainya Delmar Bevandimulya Mudijana. Delmar adalah nama yang dari dulu ingin aku berikan untuk anak laki, yaitu bahasa Spanyol untuk di tepi laut atau dari laut; tempat favorit aku dan suami. Sementara Bevandi adalah singkatan dari tiga pria hebat yang telah mendahului kami yang kini menjadi malaikat pelindung Delmar, yaitu Benny (almarhum adikku tercinta), Yovan (almarhum adik ipar), dan Muchdi (almarhum kakekku yang memperingati 40 harian meninggalnya tepat saat Delmar lahir.) Semoga Delmar memiliki sifat cinta keluarga seperti Benny, lembut seperti Yovan, dan pejuang seperti kakekku. Amin.

Selama di rumah sakit, kami melakukan rooming in, yaitu bayi tidur sekamar denganku agar dapat menyusui kapan saja. Pada hari Selasa, 48 jam usai lahiran, ternyata bilirubin Delmar 12 (idealnya adalah dibawah 10) sehingga dokter menyarankan Delmar disinar selama setidaknya 1 hari di ruang khusus di nursery. Sedih juga harus dipisah. Dokter juga mengatakan bahwa aku harus standby menyusui dia setiap haus, atau setidaknya setiap dua jam, karena ASI membantu mengeluarkan bilirubin melalui urin. Alhasil aku dan suami menanti panggilan suster termasuk di tengah malam dan dini hari. Pengalaman yang melelahkan namun cukup unik. Setiap 1-2 jam, aku turun ke ruang nursery untuk menyusui. Dan benar kata orang-orang, anak lelaki lebih kuat menyusunya! Sekali menyusu bisa 30 menit hingga mendekati 1 jam, aku sangat bersyukur produksi ASIku sudah ada walau di hari-hari pertama harusnya baru tersedia kolostrum dalam jumlah sedikit. Tapi nyatanya semakin banyak bayi minum, semakin banyak tubuh memproduksi ASI. Hal ini terbukti ketika memeriksakan Delmar ke dokter, berat badannya berhasil naik 300 gram dalam seminggu! Thanks to ASI! Dan setelah seharian disinari dan disusui, bilirubin Delmar turun ke 9 dan diizinkan pulang. Hore!

Selain hukum supply-demand (menyusui bayi sesering mungkin), tentunya nutrisi memegang peranan penting dalam memastikan ASI banyak dan kental. Yang paling dibutuhkan untuk produksi ASI adalah protein dan cairan. Maka para Ibu (seperti aku yang naik 14 kg selama kehamilan) yang ingin berat badan susut seperti semula, boleh mengurangi konsumsi karbohidrat seperti nasi, mie, roti dan kentang (atau mengganti dengan sumber energi yang lebih baik seperti ubi, pisang, kurma), dan memastikan asupan protein (seperti lauk, tempe, tahu), serat (sayuran berdaun hijau seperti katuk, bayam, selada), lemak baik (ikan salmon, kacang-kacangan), mikronutrisi (kalsium, zat besi), dan tentunya banyak minum air mineral.

Perawatan payudara juga membantu kelancaran menyusui, seperti memijat dan mengompres payudara. Pijatan akan membantu melancarkan ASI terutama ASI yang menumpuk di saluran (ductus lactiferous) dan membuat bengkak (mastitis.) Kompres hangat sebelum menyusui akan membantu “mencairkan” ASI yang mampet, sementara usai menyusui bila terasa perih, Ibu dapat melakukan kompres dingin dengan meletakkan daun kol di kulkas. Bentuknya yang menyerupai mangkok pas menutupi payudara dan memberikan sensasi dingin menyegarkan.

Tidak kalah penting adalah mind set atau pola pikir. Produksi ASI sangat dipengaruhi hormon yang ditentukan oleh sinyal dari otak. Bila kita meragukan kemampuan memberi ASI, maka tubuhpun akan mendapatkan sinyal negatif. Sebaliknya, bila kita memberi sugesti positif bahwa menyusui itu proses alamiah tubuh yang pasti bisa Ibu lakukan, maka tubuhpun akan mengikuti. Maka Ibu harus bolak balik membatin bahwa mampu memberi ASI dan meminta agar lingkungan sekitar juga memberikan dukungan yang sama.

Meyakinkan diri itu susah-susah-gampang. Akupun sempat meragukan diri saat pertama kali menyusui sepuluh tahun lalu. Apalagi melihat hasil ASI yang dipompa. Kok sedikit sekali? Apa iya cukup? Nyatanya cukup kok. Jangan sampai kita jadi down melihat ASI perah yang tidak sesuai harapan atau membandingkan dengan teman yang ASInya berlimpah ruah. Setiap Ibu diciptakan untuk menghasilkan ASI sesuai kebutuhan anaknya. Dengan pengetahuan itu, aku tidak lagi mematok ukuran mililiter di mesin breast pump. Bagi aku, memompa mesin atau tangan jauh lebih sedikit dibanding bayi menyusu langsung. Proses lidah bayi memijat puting (mekanisme mulut bayi bukan menyedot melainkan memijat, maka penting memastikan bayi latch on dengan sempurna. Posisi yang benar tidak akan menyebabkan puting nyeri) merangsang Milk Ejection Reflex (MER atau let down atau turunnya susu dari saluran ke puting) dan produksi ASI yang sesuai dengan kebutuhan bayi, termasuk komposisi fore milk dan hind milk. Ibu tahu pastinya ya kedua istilah ini. Fore milk adalah ASI yang keluar pertama yang banyak mengandung protein tinggi, sementara hind milk adalah ASI yang keluar berikutnya yang lebih kental, tinggi kandungan lemak dan mengenyangkan. Maka penting menyusui hingga tuntas agar si kecil mendapatkan semua kandungan ASI.

Kembali ke mind set, lingkungan sekitar sangat membantu proses menyusui. Ibuku juga sangat membantu dalam membangun rasa percaya diri. Ibu mengatakan bahwa ia mampu menyusui aku dan adikku selama dua tahun, pasti aku bisa. “Doktrinasi” tersebut berhasil! Akupun terprogram dan sukses menyusui Nadine 1 tahun 11 bulan (gemes deh Nadine berhenti sendiri, jadi Ibunya tidak bisa klaim menyusui dua tahun, hihihi) dan menyusui Nuala 2 tahun 10 bulan. Insya Allah aku akan memberikan Delmar kesempatan yang sama seperti kakak-kakaknya. Amin. Karena aku merasakan sendiri manfaat ASI pada daya tahan tubuh dan intelejensia anak, serta bonding antara anak dengan orang tua. Nadine Nuala jarang sekali sakit. Kalau sedang ada wabah penyakit di sekolah, mereka palingan hanya batuk pilek ringan. Prestasi akademik mereka juga di atas rata-rata, dan sangat dekat dengan aku dan suami. Alhamdulillah.

Semoga dengan sharing dari aku ini, proses menyusui Ibu menjadi sebuah momen yang menyenangkan dan bukan pengalaman yang menyakitkan. Sakit sedikit, mengantuk, lelah, bahkan sesekali sedikit frustrasi itu normal; tapi tidak sebanding dengan kenangan yang terukir dalam jiwa Ibu dan bayi tercinta. Karena saat si kecil sudah tidak kecil lagi, kita akan merindukan momen mesra saat ia menyusu dan jari-jari kecilnya menggenggam tangan kita, dan mata kecilnya menatap kita penuh cinta seakan dunia milik berdua. Ah jadi mellow ingin menangis deh, hihihi. Maklum, Ibu baru masih sangat hormonal. Dan dengan ini, aku mendoakan agar semua Ibu yang baru melahirkan dilancarkan proses menyusui, sama halnya dengan aku.

 

Source:

Testimoni Nadia Mulya

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+