Ditulis Oleh: Novita Tandry, M.Psi, Ahli Psikologi Anak Lactamil Ibu Care

Bila ditanyakan kepada orangtua, apa yang dapat diberikan sebagai bekal kepada anak-anak mereka, maka jawaban yang terbanyak adalah: ilmu pengetahuan, dan bekal itu hanya dapat diberikan kepada anak apabila anak mampu dan mau belajar. Sehubungan dengan itu, masalah anak dan belajar akhir-akhir ini banyak dibicarakan masyarakat kita. Berbagai metode baru dalam pendidikan anak bermunculan, beraneka buku diterbitkan, dan begitu banyak seminar diselenggarkan yang kesemuanya menunjukkan betapa besar perhatian Orangtua masa kini terhadap proses belajar anak-anak mereka. Dibandingkan dengan Orangtua dari era sebelum ini, Orangtua muda masa kini lebih aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka agar dapat menjadi pendidik anak yang berhasil. Banyak di antara para hadirin yang telah belajar bagaimana menjadi Orangtua jauh sebelum anak lahir: dengan membaca buku-buku, berdiskusi dengan sesama Orangtua, atau ikut menghadiri seminar – seminar seperti ini.

Yang menjadi pokok pembahasan kita hari ini adalah masalah belajar pada anak-anak yang berusia  mulai dari sekitar 6 tahun ke atas. Pada masa ini pengalaman bersekolah merupakan pengalaman hidup yang begitu penting dalam perkembangan anak sehingga masa ini dinamakan Masa Anak Sekolah. Lebih rinci lagi, karena fokus pembicaraan adalah anak – anak yang baru saja lepas dari usia balita, maka tulisan ini khusus membicarakan belajar dan anak Masa Sekolah Dasar (Kelas Rendah) yang berusia antara 6 hingga 9 tahun. Pada usia ini sebagian besar anak mulai menapak pendidikan dasar yang menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya.

Dalam artikel ini, mula – mula akan dibahas mengenai perkembangan anak yang berada di dalam Masa Sekolah Dasar Kelas Rendah, seperti ciri-ciri dan sifat anak seusia ini, segi-segi apa yang berkembang, dan tugas perkembangan tahap Masa Sekolah Dasar ini. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai belajar pada anak, hubungan antara maturasi dan belajar, kematangan sekolah dan efektifitas belajar, serta apa yang dapat menyebabkan anak tak mau belajar. Makalah ini diakhiri  dengan kesimpulan singkat.

 

Masa Anak Sekolah

Masa Anak Sekolah adalah masa di mana anak mulai mendapat pendidikan formal di sekolah yaitu mulai usia 6 tahun sampai 12-13 tahun. Masa ini diawali dengan tercapainya kematangan sekolah anak yaitu masa di mana anak sudah siap untuk masuk ke sekolah formal (school readiness). Anak diharapkan mempelajari keterampilan – keterampilan tertentu, baik kurikuler, maupun ekstra kurikuler. Keterampilan – keterampilan mengurusi dirinya sendiri tanpa dibantu orang dewasa, keterampilan sosial, baik di lingkungan rumah maupun di kelas, keterampilan sekolah seperti membaca, berhitung, menggambar, menulis, dan lain-lain, serta keterampilan bermain, baik sendiri maupun dengan kelompok teman sebaya.

Masa ini juga disebut gang age atau masa suka berkelompok karena bagi anak usia ini peran kelompok sebaya sangat berarti. Ia mendambakan penerimaan oleh kelompoknya dan cenderung meniru perilaku maupun pengungkapan diri teman sebaya. Sebenarnya anak usia sekolah dasar ini lebih mudah diasuh daripada anaka-anak usia balita maupun usia remaja. Masa sekolah dasar juga disebut masa intelektual karena keterbukaan dan keinginan anak yang sangat besar untuk mendapat pengetahuan dan pengalaman.

Khusus anak yang berada dalam Masa Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah, ada beberapa sifat khas mereka yang perlu kita ketahui, seperti:

  • Adanya korelasi positif antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah, yaitu makin baik keadaan jasmani anak, makin baik pula prestasinya.
  • Sikap tunduk pada peraturan permaianan secara ketat
  • Kecenderungan untuk memuji diri sendiri
  • Suka membandingkan diri dengan anak lain kalau ini menguntungkan
  • Kalau tak dapat menyelesaikan suatu soal maka soal itu dianggapnya tidak penting
  • Menginginkan nilai tinggi tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas mendapat nilai tinggi atau tidak

 

Tugas – tugas Perkembangan Masa Anak Sekolah

Menurut Havighurst (1952), pada setiap tahap perkembangan manusia, ada tugas – tugas tertentu yang oleh lingkungan masyarakat diharapkan dapat dilaksanakan oleh manusia ybs. Pada tahap anak sekolah tugas – tugas perkembangan adalah sebagai berikut:

  • Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
  • Mengembangkan berbagai konsep yang perlu dalam kehidupan sehari – hari
  • Belajar bergaul dengan kelompok sebaya, belajar bekerja dengan kelompok sebaya
  • Mempelajari peran jenis kelamin yang sesuai
  • Belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri
  • Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan
  • Mengembankan hati nurani dan sistim nilai sebagai pedoman berperilaku
  • Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga – lembaga sosial
  • Mengembangan konsep diri yang sehat

Orangtua, guru bahkan kelompok sebaya anak turut bertanggung jawab dalam membina anak agar mampu menjalankan tugas – tugas perkembangannya dengan baik.

Pada tahap perkembangan Masa Anak Sekolah Dasar ini terjadi perkembangan, fisik, emosi, sosial, mental intelektual, moral, minat dan kepribadian pada anak. Perkembangan fisik anak usia sekolah berjalan sejajar dengan perkembangan mentalnya. Sejalan dengan meluas dunia anak – anak ketika mulai masuk T.K., minat dan pengalaman merekapun bertambah, sehingga mereka dapat lebih memahami segala situasi disekitarnya. Menurut pakar psikologi perkembangan dunia, Jean Piaget, anak usia sekolah dasar memasuki tahap berfikir yang disebutnya Tahap Operasi Kongkret. Cara berfikir anak – anak ini tidak lagi kabur seperti masa balita, tetapi mulai menjadi lebih spesifik dan kongkret. Berdasarkan apa yang dipelajarinya di sekolah, serta informasi – informasi baru yang diperolehnya dari media masa seperti TV, radio dan film, anak belajar menghubungkan konsep – konsep baru dengan konsep – konsep lama, membentuk konsep – konsep tentang angka, ruang, waktu fungsi – fungsi tubuh, soal hidup dan mati, konsep dirinya, peran sosial dan peran jenis kelamin, tentang moral, dan sebagainya.

Kalau pada usia prasekolah mereka masih cenderung egosentris dan mengikuti dorongan emosi sesaat, maka pada Masa Sekolah anak sudah mulai mempertimbangkan lingkungannya dalam mengungkapkan perasaannya. Pertumbuhan kesadaran untuk belajar mengungkapkan persaan dalam perilaku yang dapat diterima lingkungan sosial ini tergantung pada Orangtua mendisiplinkan anak. Selain itu,  melalui bermain dan berolahraga anak dimungkinkan menyalurkan emosi secara wajar.

Pada masa ini dunia anak menjadi luas lagi, dan mereka tidak puas hanya bermain sendiri di rumah. Mereka mulai ingin main bersama teman sebaya yang mereka kenal di sekolah. Dari pergaulan dengan kelompok sebaya, anak belajar berbagai aspek penting dalam proses sosialisasi seperti belajar mematuhi aturan kelompok, setia kawan, bekerja sama bersaing dengan sportif. Bertanggung jawab, belajar berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan, dan belajar untuk tidak tergantung kepada orang dewasa.

Dalam perkembangan moral, pengertian mereka tentang baik dan buruk tidak lagi sekaku masa sebelumnya. Mereka mulai mempertimbangkan dampak dari situasi – situasi khusus, dan memahami bahwa penilaian baik dan buruk tergantung dari keadaan atau situasi saat munculnya perilaku tersebut.

Dengan meluasnya cakrawala mental anak, maka minat mereka pun berkembang. Ini mempunyai dampak terhadap bentuk dan intensitas aspirasi mereka. Anak yang berminat terhadap fungsi tubuh, misalnya mungkin ingin menjadi dokter. Minat ini juga menjadi motivasi anak yang berminat pada matematika akan berusaha keras agar dapat mencapai perstasi tinggi dalam mata pelajaran itu. Minta yang menimbulkan kepuasan akan menyebabkan anak mengulang – ulang tindakannya.

Di segi kepribadian, kehidupan sosial yang meluas dan hal-hal baru yang ditemuinya juga mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Kalau tadinya ia hanya melihat dirinya melalui Orangtuanya, sekarang ia juga melihat dirinya melalui kacamata guru dan kelompok sebayanya. Anak mulai membentuk diri idealnya yang akan menjadi patokan umum baik perilakunya. Hal-hal yang menentukan perkembangan kepribadian anak usia sekolah antara lain adalah sejauh mana ia memperoleh kasih sayang di rumah, sejauh mana ia merasa diterima oleh orang lain seperti guru – guru dan teman sebayanya, sejauh mana ia mampu melakukan tugas – tugasnya perkembangannya, dan juga bagaimana prestasinya di sekolah.

 

Belajar Pada Anak

Bagi manusia, belajar sesuatu yang baru adalah suatu proses menerima informasi baru, menalarkannya, dan kemudian mempergunakan informasi itu agar bermakna. Belajar adalah suatu proses yang bekelanjutan, tidak terbatas pada sekedar memperoleh informasi atau menguasai keterampilan semata, tetapi juga berarti proses menemukan, merangsang kreativitas dan menggelitik imajinasi, untuk dapat mengerti dunia sekitar. Belajar adalah suatu kebutuhan, suatu sifat dasar manusia. Kita mulai belajar sejak lahir, dan kita selalu belajar sepanjang kehidupan kita. Pada setiap anak terdapat kapasitas untuk belajar namun kapasitas di dalam diri anak itu harus di rangsang oleh faktor-faktor yang ada di lingkungannya. Sama seperti tanaman, benih yang bagus bila ditanam pada tanah yang jelek, maka yang tumbuh adalah tanaman yang buruk, bagai tumbuhan mati tak hendak hidup tak mau. Begitu pula anak-anak, bila mereka tumbuh dalam lingkungan yang miskin pendidikan dan miskin budaya, perkembangan fisik dan mental merekapun akan terhambat. Pengalaman belajar yang berhasil untuk pertama kalinya kebanyakan dialami anak di rumah. Kalau lingkungan rumah menyenangkan, penuh kasih sayang, dan penuh perangsangan, potensi belajar anak akan tinggi, karena anak terangsang untuk mempergunakan sumber alaminya yaitu panca inderanya sepenuhnya. Sebaliknya, kalau lingkungan rumah kacau, kaku serba dibatasi, dingin, tanpa perangsangan belajar, anak tidak akan punya kebebasan untuk mengembangkan potensi belajarnya secara optimal.

 

Belajar dan Maturasi : Saling Tergantung

Sejak anak dilahirkan, ia mengalami perubahan dan perubahan adalah hasil kerjasama antara maturasi atau kematangan, dengan belajar. Perkembangan sifat-sifat fisik dan mental anak sebagian datang dari maturasi intrinsik sifat-sifat itu dan sebagian lagi berasal dari latihan dan pengalaman anak di lingkungannya. Yang dikatakan maturasi atau kematangan adalah munculnya sifat-sifat yang secara potensial memang terberi dalam diri anak. Sebaliknya belajar adalah perkembangan yang datang melalui latihan dan usaha anak. Dengan belajar, anak membawa perubahan struktur fisik dan perilakunya, serta memperoleh komptensi dalam mempergunakan sumber-sumber yang terberi tersebut.

Belajar sering dikatakan sebagai perubahan pada perlaku yang relatif permanen sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungannya. Belajarnya itu sendiri tak terlihat, tetapi orang lain dapat menyimpulkan adanya proses belajar dari perubahan perilaku. Bila anak minggu lalu belum dapat menulis namanya dan hari ini ia memperlihatkan tulisan namanya yang ia kerjakan sendiri, dari situlah orangtua tahu bahwa anaknya sudah berhasil belajar menulis namanya.

Sebagian anak belajar melalui latihan, atau pengulangan-pengulangan suatu tindakan yang pada saatnya membawa perubahan perilaku. Belajar juga dapat dilakukan melalui imitasi, di mana anak dengan sadari meniru apa yang dilakukan orang lain. Belajar dapat pula terjadi melalui identifikasi, dimana anak berusaha mengadopsi nilai, sikap, motif, dan perilaku orang yang dikagumi atau yang dekat dengannya secara emosional. Belajar muncul pula dalam bentuk pelatihan, suatu kegiatan yang selektif, terarah, dan mempunyai tujuan. Anak diarahkan dalam perilakunya oleh orang dewasa dalam usaha membentuk perilakunya menjadi terpola yang sesuai dan diterima oleh kelompok sosialnya.

Pada umumnya anak gemar belajar karena belajar itu adalah suatu sifat dasar manusia. Anak-anak terutama suka mempelajari sesuatu yang baru. Coba perhatikan bagaimana bergairahnya anak  yang menemukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya dan bagaimana ia mengembangkan informasi baru itu menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupannya.

Pengertian yang dibawa oleh pengetahuan baru memberi anak kepuasan yang luar biasa. Semua anak suka menjadi lebih pintar dan senang merasa “aku sudah besar”, suatu perasaan yang muncul ketika ia masuk ke sekolah dasar. Jadi, pada dasarnya anak punya keinginan untuk berprestasi baik disekolah.

Sekolah adalah tempat “kerja” (baca: belajar) anak-anak. Memang sekolah bukanlah satu-satunya tempat anak belajar, akan tetapi karena anak wajib belajar di sekolah, maka anak harus belajar untuk merasa senang dan berhasil di lingkungan sekolah. Untuk itu keterampilan yang diajarkan di sekolah harus bersifat merangsang dan menantang keinginan anak untuk belajar. Mereka tak boleh dibiarkan mengembangkan perasaan bahwa keterampilan yang baru mereka pelajari itu tidak relevan, membosankan, ataupun menghabiskan waktu saja.

 

Kematangan Sekolah Dan Hubungannya Dengan Efektifitas Belajar

Hal yang paling penting untuk ditekankan mengenai hubungan antara maturasi dan belajar adalah bahwa efektifitas belajar tergantug pada timing yang tepat. Anak tak akan mampu belajar sebelum ia siap untuk belajar. Ini berarti bahwa pondasi fisik dan mental yang diperlukan harus sudah ada sebelum kemampuan atau keterampilan baru dapat berkembang di atasnya. Sebagai contoh, sebelum anak mampu memegang pinsil dengan mantap, anak tak akan dapat belajar menulis.

Kesiapan maturasi menjadi pegangan praktis dalam menetukan pendidikan anak, karena hal ini menentukan di usia berapa anak sebaiknya mulai sekolah, dan bagaimana urut-urutan pelajarannya. Belajar, baik dalam ruang lingkup intelektual, sosial maupun motorik, akan berhasil bila apa yang diberikan dalam pendidikan di sekolah diselaraskan saatnya dengan kematangan atau kesiapan sekolah anak. Bila anak belum cukup matang untuk mendapat manfaat pendidikan di sekolah, maka ini sama dengan membuang waktu dan tenaga dan dampaknya ke anak adalah munculnya perilaku menolak belajar. Sebaliknya, bila anak yang sudah mencapai taraf kematangan sekolah tidak mendapat kesempatan belajar, minatnya mungkin akan sangat menurun sehingga ia tak mau berusaha yang dibutuhkan kelak untuk berhasil dalam belajar.

Lalu bagaimana menentukan bahwa anak sudah siap bersekolah atau belum? Perhatikan tanda-tandanya pada anak. Anak yang sudah siap bersekolah biasanya akan mengatakan bahwa mereka ingin sekolah, kadang-kadang tampak tak sabar, antusias dan menunjukkan keingin tahu yang besar dan kuat mengenai subyek yang mereka ingin pelajari. Beberapa sekolah di Indonesia memakai jasa psikolog pendidikan untuk memberikan tes standar kematangan sekolah. Selain itu, para psikolog biasanya menerapkan tiga kriteria praktis untuk melihat kematangan sekolah pada anak yaitu minat untuk belajar yang tampil dalam keinginan anak untuk bersekolah atau belajar sendiri, bertahannya minat tersebut untuk waktu yang cukup lama, dan kemajuan yang dicapai anak melalui latihan.

Pada umumnya, diantaranya usia 5 dan 7 tahun, anak mulai masuk sekolah dasar. Saat itu merupakan suatu tonggak dalam hidup anak, ditandai oleh banyak perubahan dalam sikap dan perilaku. Dari banyak penelitian tampak, bahwa perubahan fisik pada anak berusia sekitar 6 tahun berkorelasi nyata dengan perkembangan jiwa, sehingga tingkat perkembangan fisik anak merupakan patokan bagi kematangan jiwanya untuk mulai bersekolah. Kematangan sekolah secara psikologis mengandung arti lebih dari sekedar kesiapan untuk menangkap pelajaran di sekolah.

Kematangan sekolah berarti anak secara fisik mampu untuk tidak tergantung pada bantuan orangtuanya, bahwa anak mampu menyesuaikan diri dengan orang yang asing baginya seperti guru dan teman-teman sekelasnya, bahwa anak secara emosional mampu menerima peraturan-peraturan sekolah tanpa terasa terganggu, dan bahwa anak mampu menerima kenyataan bahwa ada suatu hiraki prestasi di antara teman sekelasnya dan belum tentu ia menduduki status yang ia inginkan.

 

Mengapa Anak Tak Mau Belajar?

Menjadi orangtua tidaklah mudah. Banyak orangtua masa kini berpendidikan tinggi dan melihat bahwa kesuksesan yang mereka raih di dalam kehidupan mereka adalah hasil dari prestasi akademis. Karena mereka sukses (atau mungkin justru karena mereka takut gagal), banyak orangtua masa kini mengharap anak-anak mereka memiliki semua yang terbaik: pandai, cantik, gagah dan sehat, atletis, dan gemar belajar. Untuk mencapai harapan itu secara sadar ataupun tidak, banyak orangtua yang berusaha “mendorong” anak terlalu keras dan terlalu cepat, dengan konsekuensi anak menjadi tidak was-was, panik, merasa tidak nyaman, dan lelah fisik dan psikologis. Singkatnya, anak mengalami stress di usia begitu muda dengan tanda-tanda antara lain perubahan emosi (sedih atau marah), perubahan perilaku (temper  tantrum, berkelahi, mogok) atau perubahan fisik seperti sakit perut, pusing, gangguan makan dan tidur. Anak-anak mengalami hal ini kemudian mempersepsi bahwa belajar adalah sesuatu yang tidak enak sehingga kemudian mereka tak mau belajar lagi pada usia di mana seharusnya belajar merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan!

Dalam menghadapi anak yang mengalami kesulitan belajar seperti di atas, akan sangat membantu bila ia diberi dorongan untuk mulai belajar pada tingkat dimana ia dapat mengalami suatu keberhasilan dahulu, baru setelah itu naik ke tahap berikutnya yang lebih tinggi. Dengan pendekatan yang demikian, disertai pula dengan kesabaran, perhatian, dan kasih sayang dari orangtua dan guru, anak akan bangkit dan mulai merasa aman untuk mengambil resiko dalam belajar sesuatu yang baru. Anak yang mengalami kesulitan membutuhkan kerjasama dan dukungan terus menerus dari keluarga dan gurunya agar mampu meraih keberhasilan dan menjadi gemar belajar.

 

Kesimpulan

Belajar pada anak adalah seperti membangun rumah, harsu dimulai dari bahwa dengan pondasi kasih sayang, rasa aman, dan pengalaman dasar yang “kaya”di lingkungan keluarga, sebelum diteruskan dengan membangun belajar yang formal di sekolah. Apabila dasarnya tidak kuat (belum matang di sekolah) keterampilan baru belum dapat diserap dengan baik. Diharapkan orangtua tidak mendorong anak terlalu keras dan terlalu cepat, karena dapat berakibat anak kehilangan gairah untuk belajar.

Happy Parenting!

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+