Search logo Menu logo

Live Chat Bersama Ahli

Anna Surti Ariani

Baby Blues vs Post Partum Depression

Anna Surti Ariani Ahli Psikologi Anak
Live Chat

Hai Mama, Live Chat kali ini sudah ditutup ya. Terima kasih bagi Mama yang sudah berpartisipasi. Bagi Mama yang pertanyaannya belum dijawab harap ditunggu, akan segera dijawab oleh Anna Surti Ariani. Ditunggu juga pengumuman 10 pemenang yang akan mendapatkan paket eksklusif dari Lactamil.

Sejarah Live Chat Member Lainnya
  • runti yunita
    runti yunita
    Selamat siang mama Anna

    Kelahiran anak pertama, saya tidak mengalamai Baby Blues maupun Post Partum Depression, saat ini saya hamil lagi sedangkan si Calon kakak baru umur 1 tahun.

    Mama Bagaimana cara agar terhindar dari Baby Blues maupun Post Partum Depression, kalaupun mengalaminya bagaimana solusinya mama,



    Terima Kasih Mama
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Runti Yunita, terima kasih pertanyaannya.



      Ma, memang tak semua orang mengalami Baby Blues atau Post Partum Depression. Walaupun begitu, benar sekali bahwa kita perlu tahu cara menghindarinya agar tak sampai mengalaminya.



      Mama yang lebih rentan mengalami Baby Blues adalah mama yang kelelahan sekali setelah melahirkan. Ini terjadi karena proses melahirkan cukup berat, dan hormon dalam tubuh mama masih menyesuaikan diri. Oleh karena itu, mama perlu menjaga diri agar lebih sehat dan fit. Caranya adalah dengan mengusahakan cukup istirahat. Agar lebih berenergi, mama bisa menyantap makanan dan minuman yang bernutrisi, tak asal makan minum. Mama perlu minta bantuan papa dan keluarga atau asisten untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan menyiapkan makanan minuman sehat untuk mama terutama di minggu-minggu pertama setelah si kecil lahir.



      Secara khusus, karena ini adalah anak kedua, maka mama perlu meminta bantuan orang lain untuk tinggal bersama mama di bulan-bulan pertama setelah adik lahir. Perlu tetap ada yang merawat dan mengasuh si kakak walaupun mama sibuk. Tentunya mama juga perlu tetap mengasuh si kakak nantinya, namun perlu bantuan, agar tak terlalu lelah. Hindari berusaha menjadi supermom di awal-awal melahirkan.



      Semoga menjawab Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • sunengsih
    sunengsih
    Selamat pagi menjelang siang MamaAnna...

    Saya belum punya anak. Penasran

    1. Bagaimana mengetahui / mengenal ciri-ciri kalau kita terkena Baby Blues?

    2. Cara mengatisipasinya bagaimana?

    3. Seberaba besar efek bahaya Baby Blues bagi si Mama, bayi, dan keluarga sekitar.



    Penjelasan dari Mama dinantikan, terimakasih... )
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Sunengsih, terima kasih pertanyaannya. Senang sekali lho ada wanita yang belum punya anak tapi sudah mempersiapkan diri. Moga-moga nanti jadi tak kaget lagi, dan bahkan bisa menghindari mengalami ini. Saya jawab satu per satu ya.



      1. Gejala Baby Blues misalnya mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami Post Partum Depression, namun ada beberapa tambahan. Mama yang Post Partum Depression bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      Biasanya Baby Blues dialami beberapa hari setelah melahirkan, sampai sekitar 2 minggu. Sementara Post Partum Depression kadang muncul setelahnya (tak selalu harus mengalami Baby Blues) namun dapat bertahan beberapa bulan.



      2. Supaya tak sampai mengalami Baby Blues, usahakan agar menyelesaikan segala persiapan melahirkan sebelum si kecil lahir. Usahakan memiliki banyak sistem pendukung, misalnya ada keluarga yang ikut membantu dan juga mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan suami.



      3. Jika keluarga mendukung, sesungguhnya Baby Blues tak terlalu buruk efeknya kepada anak. Namun jika mama sendirian saja, tak ada yang membantu, maka bayi bisa terabaikan pengasuhan dan perawatannya. Hubungan dengan suami kadang juga jadi bermasalah ketika mama mengalami Baby Blues, apalagi kalau suami tak terlalu mengerti bahwa istrinya mengalami hal ini.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Uendd Taufik Sanjaya
    Uendd Taufik Sanjaya
    Selamat siang mama Anna ..

    Senang sekali rasanya live chat kali ini membahas baby blues vs post partum. karena ini kehamilan pertama saya, saya kurang pengetahuan tentang hal itu .



    Yang ingin saya tanyakan adalah :



    1. Apa perbedaan baby blues dan post partum depression ?



    2. Gejala apa yg di timbulkan dari baby blues dan post partum tersebut ?



    3. Adakah dampak negatif jika kita mengalami baby blues maupun post partum, jika ada apa dampak negatif nya ?



    4. Bagai mana cara mengatasi ketika kita mengalami gejala tersebut agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan pada si ibu dan calon buah hatinya ?



    5. Dan apakah berpengaruh pada Asi yg nanti akan di berikan pada calon buah hati ? Jika iya bagaimana solusinya ?



    Terimakasih mama Anna ..

    Mohon pencerahaannya karena saya sedang mengandung anak pertama dan agak awam dengan hal2 tersebut ..
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Uendd Taufik Sanjaya, terima kasih pertanyaannya. Selamat atas kehamilannya. Baik sekali lho mempersiapkan diri, antara lain untuk mencegah Baby Blues dan Post Partum Depression (PPD). Saya jawab satu per satu ya.



      1. Baby Blues berbeda dari PPD. Pertama dari kemunculannya, Baby Blues muncul beberapa hari setelah melahirkan dan selesai dalam sekitar 2 minggu. PPD muncul setelahnya (entah didahului Baby Blues atau tidak), yaitu beberapa minggu setelah melahirkan, dialami minimal selama 2 minggu dan bisa dialami bahkan berbulan-bulan. Kedua dari beratnya masalah. Baby Blues memang tidak

      menyenangkan, namun relatif ringan dan tak terlalu mengganggu. Sementara PPD lebih berat, dapat berpengaruh pada kondisi tubuh (misalnya fisik jadi lebih lemah) dan performanya (misalnya menjadi sulit berkonsentrasi atau jadi malas mengasuh anak), dan lebih mengganggu diri sendiri, mengganggu pasangan, maupun pengasuhan anak. Ketiga dari penanganannya. Baby Blues dapat ditangani dengan memperbanyak istirahat dan memperbaiki asupan makanan dan minuman. PPD tak cukup dengan itu, harus ada banyak hal yang diubah mama dan keluarganya, bahkan mungkin membutuhkan bantuan intensif dari psikiater dan psikolog.



      2. Gejala Baby Blues misalnya mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami PPD, namun ada beberapa tambahan. Mama yang PPD bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      3. Dampak negatif Baby Blues, anak mungkin kurang terurus, dan hubungan dengan pasangan juga jadi bermasalah. Namun dengan usaha mama dan dukungan papa serta keluarga, ini bisa saja tak terjadi. Selain itu, efeknya masih bisa diminimalisir sehingga tak terlalu negatif.



      Sementara itu pada PPD, efek negatif yang sama bisa terjadi, bahkan dalam bentuk lebih parah. Contohnya, jika mama malas mengurus bayi selama beberapa hari, bayi bisa mengalami kurang gizi bahkan rentan sakit. Stimulasinya pun kurang optimal sehingga kecerdasannya tak berkembang optimal.



      4. Jika mengalami Baby Blues, maka mama perlu mengatur diri agar cukup beristirahat. Perbanyak mengonsumsi makanan dan minuman bernutrisi, bukan hanya asal makan dan minum saja. Penanganan PPD sesungguhnya tergantung kondisi yang dialami, karena bisa berbeda tiap kasusnya. Usahakan meningkatkan komunikasi dan kerjasama dengan papa. Jika dibutuhkan, maka berkonsultasilah dengan psikolog klinis dewasa dan psikiater.



      5. Jika mama terlalu lelah dan sangat malas menyusui, kondisi ini dapat berpengaruh pada produksi ASI. Sebetulnya proses menyusui bisa membantu mama untuk menenangkan diri, dan justru memperbaiki kondisi mama. Jadi sebaiknya walaupun malas, tetaplah banyak menyusui dan memerah ASI, tanpa terlalu terpaku pada berapa ml produksinya.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Desi Purwanti
    Desi Purwanti
    Selamat Siang Ahli Psikologi Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi.

    Perkenalkan saya ibu muda,sedang mengalami permasalahan dengan topik diatas mohon kiranya dijawab

    1.) Baby Blues vs Post Partum apakah berbeda? Kalau berbeda apa saja perbedaannya?

    2.) Bagaimana cara menangani baby blues / post partum apabila sudah terlanjur mengalaminya?

    3.) Mengapa baby blues maupun post partum bisa terjadi? Bagaimana pencegahannya agar pada kehamilan berikutnya tidak terulang!

    Terimakasih
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Desi Purwanti, terima kasih pertanyaannya. Saya jawab satu per satu ya.



      1. Baby Blues berbeda dari Post Partum Depression (PPD). Baby blues dapat dialami sekitar 80% mama, muncul beberapa hari setelah melahirkan, dan biasanya hilang sendiri jika mama cukup istirahat dan mengasup nutrisi yang baik dalam sekitar 2 minggu. Sementara PPD hanya dialami sekitar 5-25% mama, muncul beberapa minggu setelah melahirkan, dapat berlangsung sampai sekitar 1 tahun, biasanya terjadi pada mama yang sejak sebelum hamil punya banyak riwayat masalah fisik atau psikis. Ada pula Post Partum Psychosis yang lebih berat, biasanya dialami jika PPD tidak tertangani dan kondisinya semakin berat.



      Tanda-tanda untuk Baby Blues dan PPD ada miripnya. Mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami PPD, namun ada beberapa tambahan. Mama yang PPD bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      2. Baby Blues dapat ditangani sendiri, yaitu mama perlu mengatur diri agar cukup istirahat dan mengonsumsi makanan bernutrisi. Dalam sekitar 2 minggu akan hilang. Sementara PPD perlu ditangani lebih intensif dan serius, misalnya dengan mengubah beberapa kebiasaan keluarga sehingga komunikasi dan kerja sama papa dan mama berjalan lebih lancar. Jika tak hilang juga, mungkin dibutuhkan bantuan psikolog dan psikiater.



      3. Baby Blues dapat dikatakan normal, lebih rentan terjadi pada mama yang kelelahan setelah proses melahirkan. Apalagi mama mengalami perubahan hormonal kembali ke awal setelah kehamilan. Supaya tak sampai alami Baby Blues, usahakan agar segala persiapan untuk proses melahirkan dituntaskan sebelum si kecil lahir.



      Post Partum Depression lebih rentan terjadi pada mereka yang banyak mengalami masalah fisik yang berat, misalnya sering sakit; juga mereka yang banyak mengalami masalah psikis berat. Masalah psikis di sini bukan berarti gila, melainkan segala hal yang membuat stress berlebihan. Contohnya jika mama dan papa sering bertengkar, atau adanya tuntutan dari keluarga besar yang sulit dipenuhi. Untuk mencegah kita mengalami ini, maka usahakan mengatasi segala masalah fisik dan psikis sebelum melahirkan. Selain itu, bagaimanapun mama mesti lebih tangguh lagi untuk menghadapi segala masalah yang mungkin terjadi. Yakinlah bahwa segala masalah justru harus terjadi, agar ada perubahan lebih baik untuk keluarga mama.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • saodah
    saodah
    Selamat pagi dok, saya pernah mengalami Baby blues saat melahirkan anak pertama saya, rasanya hidup serasa merana senditi,sedih,bahkan sampai nangis sesegukan,bahkan sempet ngalamin panas dingin, mungkin ini yang namanya Baby blues,

    ada kekhawatiran sekarang ini takut juga ngalamin Baby blues lagi, saat ini sedang hamil usia kehamilan 5bulan, bagaimana cara terbaik supaya saya tidak mengalami hal itu lagi??

    dan apakah yang di maksud post partum Depresion?? Apakah ini suatu depresi yang sangat fatal pasca melahirkan??

    terima kasih atas jawabannya :-)
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Saodah, terima kasih pertanyaannya. Saya psikolog nih, bukan dokter, hehehe.



      Baik sekali Mama sudah menyadari perlunya persiapan agar tak kembali mengalami Baby Blues setelah kelahiran anak kedua. Inilah beberapa hal yang perlu Mama lakukan:

      - Persiapkan anak pertama untuk menjadi kakak. Cari pula bala bantuan untuk dapat mengajak kakak bermain kelak ketika adiknya lahir.

      - Siapkan segala fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan adik (dan kakak), usahakan persiapan selesai sebelum adik lahir.

      - Jangan terlalu berharap bahwa kakak akan langsung menyayangi adiknya. Sebaliknya bersiaplah kalau-kalau kakak jadi lebih rewel dan sulit diatur, dalam proses belajar menyayangi adiknya.

      - Beberapa minggu sebelum melahirkan, minta bantuan dari keluarga atau orang lain untuk ikut mengurus rumah dan menemani kakak.

      - Atur waktu istirahat, dan perbanyak mengonsumsi makanan dan minuman bernutrisi.



      Post Partum Depression adalah depresi yang muncul setelah mama melahirkan, biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan dan dapat dialami sampai bulanan. Kondisi ini lebih berat dibandingkan Baby Blues, karena berpengaruh terhadap fisik maupun performa mama. Penanganannya pun harus lebih intensif dan serius, bahkan mungkin perlu bantuan psikolog dan psikiater. Jika berat kondisinya, dapat berakibat negatif pada anak, misalnya anak jadi terabaikan, kurang gizi, dan kecerdasannya tak optimal.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Nindy Ardiyanto
    Nindy Ardiyanto
    Selamat pagi Ma..

    Saya ingin bertanya..

    1. Bagaimana cara membedakan Baby Blues dengan Post Partum Depression?

    2. Apa yang menyebabkan terjadinya Baby Blues?

    3. Apakah Baby Blues bisa sembuh dengan sendirinya? Atau kah harus melalui pengobatan?

    4. Bagaimana cara menghindari agar Baby Blues tidak terjadi pasca persalinan?

    Mohon penjelasannya ya Ma..

    Terima kasih
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Nindy Ardiyanto, terima kasih pertanyaannya. Saya jawab satu per satu ya.



      1. Pertama dari kemunculannya, Baby Blues muncul beberapa hari setelah melahirkan dan selesai dalam sekitar 2 minggu. Post Partum Depression muncul setelahnya (entah didahului Baby Blues atau tidak), yaitu beberapa minggu setelah melahirkan, dialami minimal selama 2 minggu dan bisa dialami bahkan berbulan-bulan. Kedua dari beratnya masalah. Baby Blues memang tidak menyenangkan, namun relatif ringan dan tak terlalu mengganggu. Sementara Post Partum Depression lebih berat, dapat berpengaruh pada kondisi tubuh (misalnya fisik jadi lebih lemah) dan performanya (misalnya menjadi sulit berkonsentrasi atau jadi malas mengasuh anak), dan lebih mengganggu diri sendiri, mengganggu pasangan, maupun pengasuhan anak. Ketiga dari penanganannya. Baby Blues dapat ditangani dengan memperbanyak istirahat dan memperbaiki asupan makanan dan minuman. Post Partum Depression tak cukup dengan itu, harus ada banyak hal yang diubah mama dan keluarganya, bahkan mungkin membutuhkan bantuan intensif dari psikiater dan psikolog.



      2. Penyebab Baby Blues adalah adanya perubahan hormonal dalam tubuh mama, juga kelelahan yang dialami setelah proses melahirkan. Kadang juga karena tak mendapat bantuan untuk mengurus anak dan rumah, sekaligus punya ekspektansi tinggi untuk menjadi supermom.



      3. Baby Blues bisa sembuh sendiri. Tentunya perlu dibantu dengan usaha mama dan dukungan dari seluruh keluarga. Usaha mama adalah dengan mengatur waktu agar cukup istirahat, dan mau mengonsumsi makanan dan minuman bergizi. Dukungan keluarga dapat berupa bantuan untuk mengasuh kakak, mengurus urusan rumah tangga, juga menyiapkan makanan dan minuman bernutrisi.



      4. Untuk menghindari Baby Blues, usahakan segala persiapan melahirkan sudah tuntas sebelum melahirkan. Cari pula dukungan dari keluarga sehingga terutama dalam bulan-bulan pertama setelah melahirkan mendapat bantuan.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Layla Fadillah Bilqis
    Layla Fadillah Bilqis
    Siang Dokter...



    Ada sepupu sy yg baru saja melahirkan. Tetapi sayang bayi mengalami cacat pd kedua kakiny. Sepupu sy mengalami depresi berat. Apakah sepupu saya tsb sedang mengalami Post Partum Depression??? Dukungan seperti apa yg baik untuk mengembalikan keadaan agar sepupu sy terlepas dari post partum depression???



    Apakah ibu hamil anak pertama lebih beresiko tinggi mengalami baby blues???

    Sy sedang hamil anak ke 3 memasuki 21 mgg. Terkadang sy sering khawatir apakah sy mampu mengurus bayi sekaligus 2 anak sendiri karna pengalaman anak pertama dan ke2 suami yg sangat cuek walaupun sy tau dia sangat menyayangi istri n anak2ny, kmi juga tdk mampu untuk menggunakan jasa pembantu. apalagi sekarang kmi sudah tinggal jauh dari org tua kmi. Bagai mana cara menghapus kekhawatiran dan ketakutan itu dok???



    Terimakasih dokter...
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Selamat siang Mama Layla Fadillah Bilqis, terima kasih pertanyaannya. Saya psikolog nih, Ma, bukan dokter, hehehe.



      Ma, biasanya Baby Blues atau Post Partum Depression terutama terjadi akibat kondisi si ibu, misalnya kelelahan mengasuh si kecil. Adapun mereka yang memiliki bayi cacat lebih beresiko depresi, entah setelah melahirkan atau tidak (artinya ayah, bahkan nenek dan kakek, juga beresiko mengalami depresi). Bisa saja sepupu Mama mengalami Post Partum Depression, namun bisa pula depresi murni.



      Dukungan yang terbaik adalah dengan banyak membantu sepupu dalam mengasuh anaknya. Bisa mengasuh secara langsung, misalnya ikut memandikan atau mengurus si kecil. Bisa pula mengasuh secara tak langsung, misalnya dengan menemani sepupu ketika mengasuh, mengajaknya mengobrol, dan mendengarkan segala ungkapan kesedihannya (agar stresnya berkurang dan ia bisa mengasuh si kecil lebih baik). Mama juga bisa membantu mencarikan informasi tentang dokter atau klinik yang dianggap tepat buat keponakan, juga tentang cara mengasuh si kecil yang kakinya kurang sempurna. Ajak keluarganya untuk sembahyang bersama, dan tentunya doakan mereka.



      Baby Blues lebih beresiko pada mama yang mengalami kelelahan luar biasa setelah melahirkan. Bisa setelah melahirkan anak pertama ataupun bukan anak pertama. Dengan pengalaman kerjasama Mama dan papa selama ini, dan adanya 2 kakak, tanpa adanya asisten, maka Mama cukup beresiko mengalami Baby Blues, walaupun bisa juga tak mengalaminya.



      Bagaimana kalau Mama minta bantuan dari keluarga untuk ikut tinggal bersama setidaknya beberapa bulan setelah si kecil lahir? Ia bisa membantu urusan rumah tangga, ataupun mengajak kakak-kakak bermain ketika Mama mengurus si kecil. Jika sulit, Mama mungkin perlu bekerja sama dengan tetangga, sehingga mengurangi beban Mama. Cara lain adalah Mama tinggal di rumah orangtua, atau di tempat lain yang bisa mendapat bantuan. Cara apapun yang dipilih, terserah Mama dan papa. Namun penting sekali Mama mendapat bantuan di bulan-bulan pertama setelah si kecil lahir untuk mengurangi resiko anak-anak jadi kurang terawat.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Betty Yuliani Silalahi
    Betty Yuliani Silalahi
    Selamat pagi Mama Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi. Saya pernah mengalami keguguran di kehamilan pertama. Akhirnya di kehamilan berikutnya saya dikarunia seorang putri yang sekarang sudah berusia 30 bulan. Setelah melahirkan si kecil, saya merasa sangat lelah, capek sekali mengurus bayi tanpa bantuan asisten rumah tangga atau baby sitter dan saya suka menangis sendiri, saya merasa masih kurang pantas menjadi seorang ibu, tapi dibalik semua yang saya rasakan, saya sangat mencintai putri kecil saya. Kondisi fisik saya sempat drop, tekanan darah saya rendah sekali dan suka mengalami fertigo. Kebetulan suami bekerja/tugasnya memang di luar kota, sekitar 3 mingguan bertugas, dan 2 hari tugas di kantor pusat (Jakarta). Alhasil semua tugas rumah tangga, saya yang handle. Yang menjadi pertanyaan saya :

    1. Apakah yang saya alami : sering menangis karena merasa lelah fisik dan psikis dapat dikatakan saya mengalami "Baby Blues"? Dan faktor penyebab terjadinya "baby blues" dipengaruhi oleh apa saja?

    2. Apakah "baby blues" selalu di alami oleh setiap wanita yang baru melahirkan?

    3. Umumnya, "baby blues" terjadi pada wanita setelah melahirkan sampai jangka waktu berapa lama?

    4. Bagaimana cara penanganan yang cepat, tepat dan menyenangkan bagi yang mengalami "baby blues"?

    5. Bagaimana caranya agar terhindar/tidak lagi mengalami "baby blues" pasca melahirkan anak berikutnya?

    6. Apa yang dimaksud dengan "Post Partum Depression"

    7. Apakah ada hubungannya antara "Baby Blues" dan "Post Partum Depression"?

    Terimakasih banyak Mama Anna Surti Ariani
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Betty Yuliani Silalahi, terima kasih pertanyaannya. Saya jawab satu per satu ya.

      1. Jika Mama mengalami itu semua dalam kurun waktu beberapa hari setelah melahirkan, dan hilang dalam 2 minggu setelahnya, mungkin yang Mama alami adalah Baby Blues Syndrome. Namun jika dialami beberapa minggu setelah melahirkan, dialami lebih dari 2 minggu atau bahkan berbulan-bulan, terasa lebih berat, mungkin itu Post Partum Depression (PPD).



      Selain yang saya sebutkan tadi, ada pula perbedaan gejala keduanya. Gejala Baby Blues misalnya mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami PPD, namun ada beberapa tambahan. Mama yang PPD bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      Penyebab keduanya karena secara hormonal, tubuh mama masih menyesuaikan diri setelah proses kehamilan. Mama juga kelelahan dalam proses melahirkan dan mengasuh si kecil. Semakin banyak masalah fisik dan psikis yang belum tuntas pada saat melahirkan (misalnya banyak pertengkaran rumah tangga atau dalam keluarga besar), maka makin rentan mama mengalami PPD.



      2. Tidak juga sih Ma. Sekitar 20% mama sama sekali tak mengalaminya.



      3. Biasanya Baby Blues ‘sembuh’ sendiri dalam 2 minggu, bisa dibantu dengan pengaturan waktu istirahat dan pola makan yang bernutrisi. Jika terjadi terus-menerus dan terasa semakin berat, jangan-jangan itu sudah menjadi PPD.



      4. Usahakan banyak beristirahat dan mengonsumsi makanan dan minuman bernutrisi. Minta bantuan dari papa ataupun dari orang-orang lain untuk ikut mengurus si kecil dan mengurus rumah agar mama tak terlalu lelah. Usahakan melakukan hal-hal yang cukup menyenangkan mama, namun cukup aman bagi si kecil. Contohnya, mama yang hobi menyanyi bisa menyanyi sambil menidurkan si kecil.



      5. Agar terhindar dari Baby Blues, maka usahakan segala persiapan untuk kelahiran si kecil sudah tuntas sebelum melahirkan. Calon kakak juga perlu dipersiapkan bukan? Tuntaskan semuanya sebelum si adik lahir. Agar sekaligus terhindari dari PPD, maka tuntaskan sebanyak mungkin masalah fisik dan psikis yang dialami.



      6. Sudah dijawab di nomor 1 ya.



      7. Baby Blues dan PPD sebetulnya sama-sama kondisi depresi setelah melahirkan. Hanya Baby Blues lebih ringan dan dapat hilang sendiri dibandingkan PPD. Baby Blues bisa berlanjut dengan PPD, bisa pula tidak. Sebaliknya, PPD bisa diawali Baby Blues, bisa pula tidak.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Ratih fatmawati ( ratih d'fira setiawan )
    Ratih fatmawati ( ratih d'fira setiawan )
    Selamat pagi bunda anna.. ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan..karena di kehamilan pertama saya tidak mengalami bbs atau ppd. Belum tau untuk kehamilan kedua..

    1. Apa gejala yang membedakan antara bbs dan ppd?

    2. Bagaimana cara mengatasi apabila kita mengalami bbs atau ppd?

    3. Apakah kita bisa mencegah terjadinya bbs/ppd sebelum kelahiran?

    4. Jika kita mengalami bbs atau ppd apakah dapat mempengaruhi ASI? jika iya bagaimana solusinya bunda..

    Terimakasih
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Ratih Fatmawati, terima kasih pertanyaannya.



      Betul sekali Ma, Baby Blues maupun PPD biasanya tidak berkaitan. Bisa saja dialami setelah melahirkan anak pertama namun tak lagi di anak kedua, atau sebaliknya. Bisa pula mama sama sekali tak pernah mengalami keduanya, atau bahkan selalu mengalami keduanya. Berikut ini dijawab satu per satu ya Ma.



      1. Gejala Baby Blues dan PPD ada miripnya. Mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami PPD, namun ada beberapa tambahan. Mama yang PPD bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      2. Untuk mengatasi Baby Blues, yang penting tubuh mama cukup fit. Supaya lebih fit, maka mama perlu cukup banyak beristirahat. Tugas-tugas rumah tangga dapat didelegasikan dulu kepada papa atau orang lain yang mau membantu. Mama juga perlu mengasup makanan dan minuman bernutrisi. PPD lebih kompleks, sehingga penanganannya perlu lebih intensif, diutamakan agar mama dapat merasa dirinya (moodnya) lebih baik lagi. Apa yang dilakukan untuk mengatasi Baby Blues harus dilakukan untuk mengatasi PPD, dan dibutuhkan kerja sama yang lebih baik dengan papa dan sistem pendukung lain. Jika masih sulit ditangani, maka disarankan mama berkonsultasi beberapa kali dengan psikiater dan psikolog.



      3. Untuk mencegah Baby Blues, usahakan urusan-urusan persiapan kelahiran bayi sudah tuntas sebelum melahirkan, sehingga tak terlalu banyak hal melelahkan yang masih harus diurus. Siapkan sistem pendukung, berupa orang-orang yang bisa membantu, juga hal-hal lain misalnya nomor binatu (untuk membantu cuci pakaian) atau nomor pengantar makanan. Jaga tubuh tetap fit. Supaya sekaligus mencegah PPD, maka mama dan papa perlu menyelesaikan sebanyak mungkin masalah diri sendiri, rumah tangga, pekerjaan, dan keluarga, yang mungkin masih mengganggu. Contohnya, apabila masih punya masalah besar dengan rekan kerja, atau keluarga besar, maka lebih rentan terkena PPD, maka selesaikan dulu.



      4. Jika kondisinya berlebihan, ya, bisa berpengaruh terhadap produksi ASI. Walaupun demikian, proses menyusui dapat membantu menenangkan mama, oleh karena itu tetaplah menyusui walaupun kondisi mama tak nyaman. Tak perlu mempedulikan berapa banyak produksi ASI, namun semakin seringlah menyusui dan memerah ASI.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Desi lestari
    Desi lestari
    Siang mama anna,



    Mau tanya mam pengertian baby blues tu apa sich mam dan apa bedanya sama post partum depression,apa aja sich penyebab,gejala,masalah yg timbul akibat baby blues vs post partum depression, dan bagaimana penangannya mohon pencerannya y mam trims...
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Selamat siang Mama Desi Lestari, terima kasih pertanyaannya.



      Baby Blues dan Post Partum Depression (PPD) adalah kondisi depresi yang dialami mama yang baru melahirkan. Namun ada bedanya lho. Baby Blues dapat dialami sampai 80% mama sementara PPD hanya 5-25% mama, dan lebih rentan dialami mereka yang pujnya cukup banyak masalah fisik dan psikis. Baby Blues dapat hilang sendiri dalam sekitar 2 minggu, jika mama cukup istirahat dan mengonsumsi asupan bergizi seimbang. PPD bisa dialami bahkan sampai usia bayi sekitar 1 tahun, dan biasanya butuh penanganan lebih intensif oleh psikiater dan psikolog.



      Gejala Baby Blues dan PPD ada miripnya. Mudah menangis, mood berubah-ubah, jadi pencemas dan sangat sensitif pada kritik, kurang bersemangat, mudah marah, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, merasa kurang terikat pada bayi, mengalami kesulitan tidur, juga mengalami kelelahan yang amat sangat. Tanda-tanda tadi juga dialami mama yang alami PPD, namun ada beberapa tambahan. Mama yang PPD bisa kehilangan minat untuk berbagai hal termasuk untuk mengurus bayi dan melakukan hobinya, nafsu makan dan pola tidur yang berkurang atau berlebihan, merasa tak berharga dan menganggap diri rendah, merasa tak bahagia dengan bayi dan kadang menyalahkan bayi, pada beberapa kasus juga terpikir ingin bunuh diri.



      Penyebab Baby Blues karena kondisi hormonal mama yang memang masih berubah setelah melahirkan dan kelelahan mama. Oleh karena itu mama yang habis melahirkan perlu dibantu untuk mengurus si kecil dan mengurus rumahnya, sehingga mama dapat beristirahat lebih optimal. Sementara itu PPD biasanya terjadi akibat permasalahan fisik dan psikis yang lebih berat, misalnya pertengkaran rumah tangga yang belum terselesaikan lama.



      Jika mama mengalami Baby Blues, mama mungkin sesekali kesal terhadap bayi. Jika kondisi berlebihan, maka mama bisa mengabaikan atau bahkan membahayakan bayi. Dalam kondisi PPD yang lebih berat dibandingkan Baby Blues, pengabaian bayi bisa berlebihan, mengakibatkan bayi kurang terawat, sehingga lebih rentan sakit dan kurang terstimulasi. Bayi juga lebih rentan mengalami depresi, padahal depresi usia dini jauh lebih berbahaya dibanding depresi usia dewasa.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.