Search logo Menu logo

Live Chat Bersama Ahli

Anna Surti Ariani

Mengontrol Emosi Ketika Mual Muntah Saat Mengurus Sang Kakak

Anna Surti Ariani Ahli Psikologi Anak
Live Chat

Hai Mama, Live Chat kali ini sudah ditutup ya. Terima kasih bagi Mama yang sudah berpartisipasi. Bagi Mama yang pertanyaannya belum dijawab harap ditunggu, akan segera dijawab oleh Anna Surti Ariani. Ditunggu juga pengumuman 10 pemenang yang akan mendapatkan paket eksklusif dari Lactamil.

Sejarah Live Chat Member Lainnya
  • Yulia Sugiharti
    Yulia Sugiharti
    Siang mama Ana



    Saya ibu dari 3 anak mama, ketika hamil anak ke 3 dari awal hamil bawaan tuh mual, lemas serba malas. Pengennya itu tidur mulu atau santai2, sementara 2 kakaknya masih belum mandiri. Usianya 7 tahun dan 5 tahun. Sebelum hamil saya sangat perhatian mulai dari memandikannya, menyuapi, menemaninya mengerjakaan PR atau menemani ketika bermain dan mengantar jemput sekolah. Itu saya lakukan dengan senang hati. Namun begitu hamil berubah semu, saya jadi malas banget melakukan apapun pada akhirnya saya sering marah-marah kepada kedua kakaknya. Saya menuntut mereka supaya lebih mandiri, segala sesuatunya harus sendiri. Namun bukannya mandiri yang ada ketika makan tidak pernah habis, disuruh mandi susah bgt. Efeknya saya jadi banyak ngoceh yang pada akhirnya emosi kadang suka saya marahi. Kalo inget saya jadi kasian mau punya adik malah kedua kakaknya menjadi telantar. Mohon masukannya mama apa yangharus saya lakukan? Bgaimana supaya emosi ibu hamil bisa terkontrol, karena sedikit aja yang tidak sesuai dengan hati saya mudah sekali emosi? Ditunggu jawabannya ya mama. Terima kasih.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Yulia Sugiharti, terima kasih pertanyaannya ya.



      Ma, perlu disadari penuh bahwa kondisi emosi memang terkait dengan kondisi fisik. Dengan hormon yang naik dan turun, serta kondisi tubuh yang tak fit, dapat dipahami bahwa mama jadi sulit mengontrol emosi.



      Mama betul kok, memang idealnya anak 5 dan 7 tahun sudah lebih mandiri. Namun sesungguhnya yang disebut mandiri bagi mereka itu bukan berarti sama sekali lepas dari orangtua, namun masih dalam pengawasan, juga masih wajar jika mendapat sedikit bantuan. Jika selama ini mama sungguh membatu mereka, namun sejak hamil menuntut untuk mandiri, mereka bisa saja berpikir bahwa adik yang membuat gara-gara. Ini bisa menimbulkan kecemburuan mereka pada adik lho Ma.



      Oleh karena itu Ma, sesuaikan atau turunkan standar mama untuk kemandirian kakak. Usahakan lebih banyak memuji usaha yang sudah oke, dan mengabaikan usaha mereka yang agak mengganggu namun tak membahayakan. Sampaikan bahwa mama bangga karena mereka sekarang jadi anak yang oke, dan mereka akan menjadi kakak yang baik untuk calon adiknya.



      Jika memang sulit mengasuh anak sendirian, minta bantuan dari orang lain. Bisa asisten rumah tangga, keluarga, ataupun tetangga. Bantuan bisa dalam bentuk mengurus rumah, atau untuk menemani kakak-kakak. Mama juga bisa bekerja sama dengan tetangga yang memiliki anak seusia anak-anak mama, agar bisa mengajak kakak-kakak ikut beraktivitas bersama mereka. Hal ini untuk mengalihkan kakak-kakak, memberi mereka stimulasi, sekaligus memungkinkan mama beristirahat.



      Kalau emosi mama serasa ingin meledak, tarik napas dalam berulangkali sampai lebih tenang. Boleh juga sambil berdoa sambil menyebut nama Tuhan. Jika masih sulit, maka artinya emosi itu perlu diekspresikan dengan lebih sehat. Contohnya adalah dengan berteriak di dalam kamar mandi yang air kerannya mengalir, meninju bantal, meremas adonan atau lilin malam, menangis, curhat ke teman, atau cara apapun yang bisa mengeluarkan kemarahan mama dengan aman. Apapun yang dirasakan jangan sekalipun melakukan kekerasan dengan anak, dan usahakan bicara dengan nada rendah.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Ajeng Nur Eskawati
    Ajeng Nur Eskawati
    Selamat siang Mama Anna. Saya mau bertanya sedikit keluar dr topik krn sy sdh melewati ms kehamilan. Sy ibu dr dua anak berusia 31 bulan dan 1 bulan. Saya tinggal jauh dr suami dan orang tua. Saat hamil, anak pertama sy cukup antusias menunggu kelahiran adiknya sehingga emosi sy cukup stabil. Tetapi stlh adiknya lahir banyak sekali tingkahnya yg membuat sy emosi. Sy selalu mencoba bersabar krn mngingat usianya msh sgt kecil. Skrg sy bersama suami dan orang tua sehingga sy dibantu mereka mengasuh kedua anak sy. Tp sy khawatir jika cuti sy hbs dan sy hrs mengurus kedua anak sy sendiri bagaimana saya mengendalikan emosi jika anak pertama sikapnya msh spt skrng smntra anak kedua msh sangat butuh perhatian dan sy jg bekerja. Pengasuh hny membantu saat sy prg bekerja. Sy tinggal hny brsama anak anak saya. Mohon saran terbaik dr mama Anna.... Terima ksh sblmnya.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Ajeng Nur Eskawati, terima kasih pertanyaannya.



      Pertama, perlu disadari penuh bahwa memiliki batita memang penuh tantangan, apalagi batita dan bayi. Oleh karena itu mama perlu menyiapkan energi sebesar-besarnya, juga seefektif mungkin mengatur waktu. Mungkin setelah masuk kantor kembali, mama perlu mengurangi beberapa kegiatan dan kesenangan, dan lebih fokus mengasuh anak.



      Jika mama dan papa memilih untuk tak punya asisten di sore dan malam hari, maka mama dan papa sungguh harus bekerja sama untuk mengurus rumah dan mengurus kedua anak. Agar dapat bekerja sama, mama dan papa perlu saling percaya dan sungguh mau saling berkorban. Perbaiki komunikasi antara mama dan papa sehingga meminimalkan salah tangkap satu sama lain. Mama dan papa perlu sama dekatnya dengan kakak maupun adik, dan sungguh terlibat dalam pengasuhan kedua anak. Memang berat, namun percayalah, jika bisa dilakukan maka ini menjadi periode terpenting dan terindah dari keluarga mama dan papa.



      Dalam bekerja sama, sadari bahwa sesekali salah satu akan lelah, dan sesekali baik mama dan papa keduanya sama-sama lelah. Dengan demikian akan sangat mungkin timbul ledakan emosi. Oleh karena itu, usahakan saling bergantian saat sedang lelah. Sepakati ‘kode’ apa yang bisa diberikan satu sama lain jika sungguh lelah dan tak sanggup mengasuh. ‘Kode’ bisa berupa kata tertentu atau gerak tubuh tertentu. Jika salah satu memberikan ‘kode’ tersebut, maka yang lain harus segera tanggap dan mengambil alih pengasuhan kedua anak sekaligus, sementara yang lelah segera menenangkan diri. Setelah tenang, segeralah kembali mengasuh.



      Walaupun sudah melakukan ini semua, tetap mungkin kok ada ledakan-ledakan emosional dari mama dan papa karena kelelahan. Ingat, apapun yang dirasakan dan dialami, jangan pernah melakukan kekerasan kepada anak. Ketika sedang sama-sama marah, menjauhlah, jangan sampai anak mendengar atau melihat pertengkaran mama dan papa.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Novianto Hadi Saputra
    Novianto Hadi Saputra
    Selamat siang dokter.

    ayah seorang ayah yang berkerja diluar kota.

    anak saya baru satu .

    yang mau saya tanyakan bagaimana cara mengatasi istri saya jika mengalami mual muntah dan masih harus mengurus anak saya sendirian ?

    dulu saja waktu hamil anak pertama emosinya selalu tidak terkontrol.

    dan bagaimana peran seorang suami ketika sang istri sedang hamil anak kedua ?
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Papa Novianto Hadi Saputra, senang sekali papa ikut bergabung dalam live chat kali ini. Saya psikolog, bukan dokter :).



      Pa, kondisi emosi terkait dengan kondisi tubuh. Jika tubuh kita sehat dan fit, maka kita lebih mudah mengendalikan emosi. Emosi lebih sulit terkontrol ketika mama mengalami mual dan muntah. Apalagi jika ada ‘tekanan eksternal’, contohnya anak yang rewel. Jika pada hamil pertama emosi mama sering tak terkontrol, maka ia beresiko lebih besar untuk memiliki emosi yang tak terkontrol di kehamilan kedua, walaupun tak selalu demikian.



      Banyak mama yang sungguh kesulitan mengasuh anak sendirian ketika sedang hamil. Namun tak semua mama menyampaikan kesulitannya kepada papa. Bisa karena tak ingin menyusahkan papa, atau karena tak yakin papa akan mengerti kesulitannya. Jadi sensitiflah kepada mama, tangkaplah keluhan di balik keluhan yang dikatakannya.



      Untuk membantu mama, papa bisa mencarikan orang lain untuk membantu mengasuh anak dan mengurus rumah ketika mama hamil. Walaupun bekerja di luar kota, papa bisa sering-sering menghubungi mama dan menceritakan apa yang dilakukan papa, papa ada di mana. Ini mungkin sederhana, namun sering bisa menenangkan mama. Sampaikan ucapan terima kasih papa kepada mama karena ia mau berkorban dan bekerja keras demi buah cinta papa dan mama. Katakan sambil membelai atau memeluk mama. Tiap kali pulang, usahakan papa sebanyak mungkin bercengkrama juga dengan anak sehingga mama bisa istirahat.



      Semoga menjawab, Pa.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Desi lestari
    Desi lestari
    Siang mama anna,

    Saya mau tanya mam,saya sedang hamil anak kedua usia 36 w sedangkan si kaka umur 4 thn awal kehamilan sich baik2 saja tp usia 36 w ni saya mual muntah dan si kaka sekarang susah dibilangin baik2 malah si kaka klo dibilangin marah2 bagaimanya y mam cara mengontrol emosinya disaat mual muntah tp si kaka dapat mengerti keadaan bundanya dan tidak perlu cara kekerasan atau dg emosi memberi tahu sang kaka dengan baik ?

    Trims mam mohon pencerahannya y mam
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Desi Lestari, selamat atas kehamilan keduanya, dan terima kasih pertanyaannya.



      Ma, kakak mungkin sudah mulai mengerti bahwa ada adik di dalam perut mama. Walaupun begitu, yang paling penting untuknya adalah mama ada buat dirinya. Berapa banyakpun anak mama kelak, mama tetap satu-satunya mama untuknya, bukan?



      Usia 4 tahun, kemampuan kognitifnya berkembang pesat dan normal sekali kalau anak jadi lebih pembangkang. Semakin mama ‘melawan’ anak, baik dengan perilaku maupun dengan kemarahan, justru anak akan semakin bertingkah. Tidak efektif kan. Dengan demikian, apapun yang dirasakan mama, jangan pernah melakukan kekerasan apapun jenisnya kepada anak.



      Lalu apa yang bisa dilakukan ketika emosi memuncak? Ekspresikan dengan cara yang aman. Daripada memukul anak, lebih baik memukul bantal. Daripada meneriaki anak, lebih baik bernyanyi keras-keras atau berteriak di dalam kamar mandi dengan air keran mengalir kencang. Daripada membanting kursi, lebih baik membanting adonan roti yang semakin empuk ketika dibanting. Jalin juga hubungan yang lebih mesra dengan papa, sehingga papa bisa membantu mama menenangkan diri dan mengasuh anak.



      Semoga menjawab.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Nurida Putri
    Nurida Putri
    Selamat siang mama....

    Saya IRT dan sekarang saya sedang mengandung anak kedua kami .usia kehamilan saya 15 mggu .kdg kala memang msh merasakan mual dan suka lemes,,.anak pertama saya umur 8 tahun mei ini,,,semenjak tahu bahwa saya hamil,!anak saya selalu uring2an terlebih jika di tinggal keluar kota oleh ayahnya ...kdg semperti marah2 teriak2 pgn ayahnya cepet pulang...nah saat makanpun jg begitu mam apalagi kalau lauk pauknya didampingi dengan sayur yang memang dia kurang suka pasti deh ngambek makannnya ...

    1.yang jadi pertanyaan saya bagaimana cara agar anak tdk mudah uring-uringan

    2.dan bagaimana cara agar saya bs mengontrol emosi saya dengan sifat anak yg aktif

    3.langkah yang seperti apa yang baik saya ambil,agar emosi saya tidak terluapkan ke anak jika kdg mual sudah melanda

    Itu saja mam yang saya tanyakan ,,terimakasih ,,,,,terimakasih juga lactamil
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Nurida Putri, selamat atas kehamilan keduanya dan terima kasih pertanyaannya. Saya jawab satu per satu ya.



      Pertanyaan 1. Adanya perubahan pada mama sesungguhnya juga menjadi sumber stress buat anak. Mama yang biasa ceria tapi sekarang mual dan lemes terus, terasa mengganggu anak. Jika aktivitas si 8 tahun hanya dengan mama saja, semakin terasa perubahannya. Berbeda kalau ia punya banyak teman di sekeliling rumah. Oleh karena itu salah satu cara membantu kakak adalah dengan mencarikan aktivitas seru bersama teman di sekitar rumah. Minta bantuan tetangga, khususnya orang tua teman anak, untuk sesekali menitipkan anak ke rumahnya. Sampaikan bahwa mama sedang hamil kedua dan sering mual dan lemes sehingga butuh bantuan anaknya untuk menemani kakak.



      Di saat kakak bermain keluar rumah, mama bisa gunakan kesempatan itu untuk tambahan istirahat. Dengan demikian, ketika kakak pulang, mama sudah lebih siap untuk mengasuhnya kembali. Tambahan tip untuk makan, tenang saja kalau dia mengambek. Katakan saja dengan tenang, ia boleh mengambek, dan setelahnya bisa makan lagi dengan makanan yang disediakan.



      Pertanyaan 2. Jika ada bala bantuan untuk mengasuh anak juga mengurus rumah tangga, mama jadi punya waktu tambahan untuk beristirahat. Ditambah dengan asupan yang bernutrisi, maka maka cenderung lebih sehat, dan akhirnya dapat lebih mengendalikan emosi. Tiap kali emosi meledak, usahakan menenangkan diri, bisa dengan mengambil napas dalam berulangkali, minum air putih, atau menjauh dari anak. Selalu yakini bahwa anak yang aktif adalah anak yang sehat dan cerdas, dan justru itu yang baik dan positif untuk diri anak. Dengan demikian, bagaimana kita bisa marah pada sesuatu yang positif? Tertawa saja untuk segala kenakalannya.



      Pertanyaan 3. Apapun yang mama rasakan, jangan pernah memukul atau menyakiti anak dengan cara apapun. Menjauhlah dari anak. Mama harus segera meluapkan kemarahan dengan cara yang aman, misalnya meninju bantal, berteriak di kamar mandi yang air kerannya menyala, mengunyah permen karet, bernyanyi, curhat kepada teman, menangis, dll. Carilah cara yang paling dirasa pas untuk meredakan ledakan emosi. Sadari penuh bahwa ini mama yang marah dan bukan anak yang salah, oleh karena itu mama yang bertanggung jawab untuk meredakan emosi, bukan anak yang bertanggung jawab untuk menenangkan mama.



      Semoga menjawab, Ma.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Desi Purwanti
    Desi Purwanti
    Selamat Ahli Psikologi Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi



    Perkenalkan nama saya Desi Purwanti yang sedang mengalami masalah pada tema diatas,mohon solusinya:



    1.) Dok, anak pertama saya sudah terlalu nyaman dengan tanpanya ade,nah gimana sih cara membicarakan hal ini pada si kakak kalau dia mau punya ade,soalnya si kakak sering banget berucap aku ga mau ade baru ma,nanti mama ga sayang sama aku, mohon solusinya

    2.) Dok,bagaimana tips mengontrol emosi saat menasehati si kakak yang kadang suka bikin jengkel,bahkan bikin perut sakit, apakah itu berpengaruh bagi janin saya ?

    Terimakasih Selamat Siang.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Desi Purwanti, terima kasih pertanyaannya. Salam kenal juga ya. Saya psikolog, bukan dokter :). Sayang sekali mama tak menyebutkan usia kakak, padahal beda usia bisa beda saran, jadi mungkin saran berikut kurang tepat.



      Pertanyaan 1. Tak usah dilawan apa perkataannya, sebaliknya bisa lakukan validasi emosi, yaitu mengungkapkan emosi yang dialaminya dengan empatik. Misalnya, “Jadi sekarang kamu nggak mau punya adik ya? Kamu mengira mama nggak sayang kamu lagi. Kamu takut nggak disayang?” Katakan tiap kalimat dengan jeda untuk menunggu responnya, agar ia bisa berpikir. Jadi jangan beberapa kalimat sekaligus. Setelah ia mengiyakan, barulah sampaikan dengan tenang bahwa ia adalah anak yang sungguh mama sayang. Walaupun adiknya lahir, mama akan tetap menyayanginya, walaupun caranya mungkin akan berbeda dengan kakak. Contohnya, untuk menyayangi adik, mama menyusui, namun untuk menyayangi kakak tak dengan menyusui tapi dengan menemaninya bermain. Sampaikan kalimat-kalimat tersebut sambil membelai atau memeluknya, sehingga anak sungguh merasa disayang. Katakan juga bahwa ia akan jadi kakak yang baik, dan bahwa adiknya akan sangat bangga kepadanya.



      Pertanyaan 2. Jika mama sedang sangat jengkel tak terbendung, menjauhlah dari kakak, tempatkan ia di area yang ramah anak. Artinya ia bisa jumpalitan di sana sendirian tanpa bahaya. Baru setelah mama tenang, hampiri ia kembali. Apapun yang terjadi, jangan pernah memukul atau menyakiti anak. Usahakan bicara dengan nada biasa atau nada rendah, bukan nada tinggi seperti membentak. Jika sangat sulit, mungkin mama butuh bantuan mengasuh dari orang dewasa lain yang bisa mama percaya.



      Ya Ma, jika emosi meledak-ledak, dapat berpengaruh pada janin. Hormon kortisol yang muncul dapat menghambat aliran oksigen ke dalam rahim sehingga tumbuh kembang janin terganggu, terutama kalau ini sering terjadi. Oleh karena itu mama perlu menjaga emosi diri agar tak sampai meledak-ledak apalagi kalau sering.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • FITRI PURWASIH
    FITRI PURWASIH
    Siang bu Anna, saya mama dengan satu anak perempuan usia 3th dan sekarang saya sedang hamil anak ke2 8minggu, semenjak kehamilan anak saya malah mjd manja dan srg sakit. Saya jg bekerja di kantor swasta, setiap hari anak saya pertama saya titipkan di eyangnya. Saya butuh solusi, setiap hari kalo saya telp tanya keadaan anak, eyangnya bilang aktif main maem dll seperti biasa, tp kalau dirumah setelah saya jemput wah nangis trus minta apa smua salah. Padahal mual yg saya alami dikehamilan ini tjd tidak tentu kadang pagi, siang dikantor, sore atau malam dirumah. Kalau saat mual dan pusing itu menyerang dan anak saya sdg tantrum saya cuma diam n tambah pusing krn saya sendiri sudah lemes. Oia papanya kerja jg sbg marketing, jadwal pulangnya tidak mesti jd saya tidak bs mt bantuan papanya klo sore sampai si papa pulang. Kadang merasa sedih dan kasihan thd sikakak tp saya sendiri lemes. Terimakasih atas solusinya
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Fitri Purwasih, selamat atas kehamilan keduanya, dan terima kasih pertanyaannya.



      Ma, kondisi emosi memang terkait dengan kondisi tubuh. Ketika kita sehat dan fit, kita lebih bisa mengontrol emosi, namun jadi lebih sulit ketika sedang lemas dan mual. Oleh karena itu jadi wajar kalau mama kesulitan mengasuh kakak dengan kondisi saat ini.



      Mengapa kakak lebih rewel dibandingkan biasanya? Bisa saja ia sudah lelah seharian beraktivitas di rumah eyang. Ia juga merindukan mamanya yang biasanya memenuhi kebutuhan kasih sayang dan perhatiannya. Walaupun begitu, dengan kondisi mama sekarang, mau tak mau kena imbas kepada si kakak kan.



      Bagaimana kalau mama minta bala bantuan untuk mengasuh kakak? Bantuan itu terutama dibutuhkan setelah mama pulang kantor sampai papa pulang. Bagaimanapun mama butuh istirahat demi kehamilan kedua, dan anak butuh perhatian dan kasih sayang sebesar-besarnya. Hal lain yang dapat dilakukan adalah membuat ruang yang ramah anak, sehingga anak bisa dibiarkan saja beraktivitas tanpa ditemani di sana. Ketika mama sedang lemas sekali, anak bisa diajak ke sana. Tak apa ia tantrum dulu di situ, untuk bisa mengekspresikan marahnya. Kalau ia sudah tenang, mama bisa memeluknya kembali.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Aliyatus Shofa
    Aliyatus Shofa
    Selamat siang ma..

    Saya ibu dari 2 anak yang masih kecil, dan sekarang sedang hamil anak ketiga. Si kakak pertama umur 7 tahun, perempuan dan sudah mandiri. Anak kedua masih umur 4 thn, laki-laki dan super aktif! Anak kedua ini yang begitu menguras emosi saya. Beberapa kali saya coba utk bersabar dengan cara mendiamkannya ketika mulai berulah, tapi seringnya malah gagal dan berteriaklah saya!! Mohon solusinya ma... Bagaimana kiat jitu menjelaskan ke si adik bahwa sebentar lagi ia akan jadi kakak?? Bagaimana juga menjelaskan ke si adik yang swsuai dengan kapasitas pengetahuannya
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Aliyatus Shofa, terima kasih pertanyaannya!



      Pemahaman kakak kedua tentu berbeda dengan kakak pertama, karena tingkat perkembangan kognitif dan emosionalnya berbeda. Oleh karena itu, teknik parenting yang sukses buat kakak pertama mungkin tak berhasil buat kakak kedua.



      Ada banyak cara mengasuh kakak kedua, misalnya teknik jam dinding ataupun teknik pengabaian. Namun jika semua cara sudah digunakan, sesungguhnya sudah lebih aman buat kakak kedua mengalami kemarahan mama. Artinya kemarahan mama tak menjadikan kakak kedua trauma berlebihan. Tentunya kalau marahnya juga tak berlebihan ya, Ma. Kalau sampai ada kekerasan, semua usia akan trauma. Supaya mengurangi efek negatif, usahakan mama punya waktu-waktu berduaan saja dengan kakak kedua ketika mama tak sedang mual berlebihan.



      Untuk mengenalkan adanya calon adik, mama bisa mengenalkan adik-adik bayi di sekelilingnya dan mencoba berinteraksi bersama mereka. Sampaikan bahwa di dalam perut mama sedang ada adik bayi semacam itu, yang nanti akan sayang sekali kepadanya sebagai kakak. Ajak kakak untuk memilihkan baju-baju yang akan digunakan adiknya kelak, juga berbagai barang lain yang nanti akan diberikan kepada si adik. Sampaikan bahwa adik sungguh senang karena memiliki kakak yang baik hati seperti dia. Sampaikan juga tanggal perkiraan mama melahirkan, sehingga kakak bersiap diri menyambut adik. Beri tahu juga apa saja yang perlu dilakukan kakak-kakak nanti ketika mama akan melahirkan adik, misalnya anak-anak akan menginap di rumah nenek.



      Selalu ingatkan bahwa mama sayang adik, juga sayang kepada kakak pertama maupun kedua. Ingatkan juga bahwa dengan usia mereka yang berbeda, sesekali mama akan membedakan perlakuan, namun itu karena sayang. Contohnya, kasih sayang ke adik kelak dengan menyusuinya sementara tentunya mama tak lagi menyusui si kakak yang sudah besar.



      Semoga menjawab ya Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Mellyida Fudin Pradana
    Mellyida Fudin Pradana
    Selamat siang dokter anna,, senang bisa chat langsung dengan anda. Wah temanya bagus dok,, saya ingin menanyakan bagaimana cara mengontrol emosi kita ketika mual padahal masih mengurus sang kakak yang masih juga balita. sekarang ini saya sedang hamil 2 bulan dok. sedangkan saya juga punya baby berusia 4,5 bulan. sampai saat ini saya masih memberi baby saya ASI saja. saya sering ribut dengan suami saya yang kerepotan harus mengurus sang kakak sendirian, karena terkadang saya males buat menyusui bayi saya karna saya merasakan mual yang sangat luar biasa. saya juga khawatir jika baby saya terus menyusu bagaimana dengan calon adik yang ada dikandungan saya, apakah dia tidak kehabisan nutrisi??? belum lagi mood saya juga terkadang naik turun. ditambah pula anak pertama saya melahirkan secara cesar apakah boleh dok untuk melahirkan kembali dengan jarak yang belum genap 2 tahun??? mohon dijelaskan dok terima kasih.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Mellyida Fudin Pradana, terima kasih pertanyaannya. Saya psikolog nih bukan dokter :).



      Ada beberapa pertanyaan mama yang harus ditanyakan kepada dokter kandungan yang memeriksa, contohnya kesiapan melahirkan lewat proses operasi saat belum genap 2 tahun, dan kondisi kehamilan ketika terus menyusu. Yang bisa saya sampaikan dalam hal itu adalah janin tak akan kehabisan nutrisi gara-gara mama menyusui, namun terkadang menyusui menimbulkan kontraksi rahim sehingga mama yang kehamilannya lemah perlu dicek lebih lanjut.



      Jika mama mual luar biasa, sangat dipahami mama jadi malas merawat kakak. Walaupun begitu, perlu mama ingat nih, si kakak kan masih sangat kecil. Ia masih amat sangat membutuhkan pengasuhan dan perawatan penuh. Ia punya hak untuk itu, itulah hak asasinya. Jika hak tersebut terampas oleh apapun, termasuk oleh kehadiran adiknya, maka menjadi tak adil baginya. Oleh karena itu bagaimanapun kondisinya, mama perlu sungguh menyadari bahwa kakak membutuhkan mama sebagai mamanya, sebagai sumber hidupnya. Apapun yang mama rasakan, mama perlu menguatkan diri untuk dapat memenuhi kebutuhannya.



      Mengenai keributan dengan suami, ayo ajak suami untuk ikut menanyakan kepada dokter kandungan tentang kondisi kehamilan dengan tetap menyusui, juga bagaimana mengatasi mual dan muntah yang berlebihan. Mungkin suami juga butuh bala bantuan untuk mengasuh si kecil, daripada terus memaksakan diri untuk mengasuh sambil bekerja (sambil mengkhawatirkan istri yang mual berlebihan).



      Semoga menjawab ya Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Febi Reiski Yusyani
    Febi Reiski Yusyani
    Selamat siang mama anna surti ariani, S.Psi, M.Si, Psi semoga kabarnya selalu sehat ya ma..



    Saya ibu dari satu anak, kebetulan saat ini usia anak saya 17 bulan, kemarin itu saya periksa ke bidan dan ternyata positif hamil anak kedua, seneng deh perasaan hati ini karena sebelum tahu akan kondisi ini saya sudah merasakan hal2 kehamilan seperti mual muntah, emosi kepada si kakak, lebih banyak ngemil, mudah capek, suka ngerasa pusing..

    Akibatnya saya ga bisa mengontrol emosi saya pada si kakak karena si kakak cenderung lebih manja dan tingkahnya itu lebih nakal di saat kondisi saya saat ini yg sedang mual muntah karena sebelum saya hamil si kakak tuh cuek sama saya dan lebih manja sama ayahnya, bagaimana ya ma cara saya bisa mengontrol emosi saya di depan si kakak agar si kakak tidak saya bentak2 dan marahin di saat keadaan saya yg sedang mual tapi masih bisa mengurus si kakak, karena jujur beberapa hari ini saya di buat jengkel dengan tingkah si kakak yg kadang pada saat hujan dia ke luar mainan air hujan, malam hari selalu membangunkan saya minta susu yg sblmnya itu tidak pernah di lakukan si kakak, tidak mau di gendong ayahnya, neneknya atau tetangga jadi hanya mau bersama saya, sebelum saya tahu saya hamil pun si kakak pernah memukul perut saya, saya takut ma saat hamil ini emosi saya tidak bisa di kontrol akibatnya si kakak menjadi sasaran pukulan saya, saya bentak2 si kakak karena saya tidak mau si kakak saya marahin salah atau tidak salah dari kelakuannya, mohon di jawab ma..

    Terima kasih mama Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi..

    Terima kasih lactamil..
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Febi Reiski Yusyani, terima kasih pertanyaannya. Selamat atas kehamilan keduanya. Semoga selalu sehat juga ya Ma.



      Memang sih ma, sulit sekali mengatur emosi kita ketika kita sedang merasakan mual, lemas, ditambah si kakak yang sulit diatur. Padahal kakak yang 17 bulan sesungguhnya belum betul-betul paham tentang adik. Perkembangan kognitifnya masih terbatas pada apa yang sungguh-sungguh ia lihat dan rasakan. Ia masih kesulitan memahami bahwa adik berkembang di dalam perut mama, namun ia dapat merasakan dan memahami bahwa mama menjadi kasar atau pemarah. Karena ia belum sepenuhnya paham dan ia masih sangat butuh perhatian dan stimulasi, maka tidak adil baginya jika kebutuhannya itu tak bisa terpenuhi ‘gara-gara adik’.



      Supaya kakak tetap terpenuhi kebutuhannya, sementara mama juga butuh istirahat, maka mau tak mau mama perlu mengandalkan bala bantuan dari sistem pendukung. Sistem pendukung bisa papa, nenek-kakek atau om-tante, asisten rumah tangga, ataupun tetangga. Pada saat kakak butuh ditemani dan mama sedang tak mampu menemani (saya yakin mama bukan tak mau, hanya sesekali memang kesulitan sekali alias tak mampu), maka anak perlu diasuh oleh orang dewasa lain yang dapat dipercaya. Anak mungkin akan rewel dan maunya berdekatan dengan mama, namun ia juga perlu belajar bahwa ada orang lain yang juga dapat membuat dirinya aman dan nyaman, bukan hanya mama.



      Selain mencari bala bantuan, mama dan papa juga perlu menyiapkan ruang yang aman di rumah. Ruang tersebut perlu ramah anak, artinya anak bisa ditinggalkan di situ tanpa pengawasan. Pada saat mama perlu beristirahat atau sedang sangat emosional, maka anak dapat ditempatkan di area tersebut sementara mama memisahkan diri.



      Apapun yang sedang mama rasakan, jangan pernah memukul anak atau menyakitinya dengan cara apapun. Selalu usahakan berkata dengan intonasi rendah dan bukan intonasi tinggi melengking seperti orang membentak. Jika perlu, cobalah sering berlatih di depan kaca, sehingga lebih paham apa yang kita lakukan di depan anak.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.