Search logo Menu logo

Live Chat Bersama Ahli

Anna Surti Ariani

Merencanakan Kehamilan Minim Stress

Anna Surti Ariani Ahli Psikologi Anak
Live Chat

Hai Mama, Live Chat kali ini sudah ditutup ya. Terima kasih bagi Mama yang sudah berpartisipasi. Bagi Mama yang pertanyaannya belum dijawab harap ditunggu, akan segera dijawab oleh Anna Surti Ariani. Ditunggu juga pengumuman 10 pemenang yang akan mendapatkan paket eksklusif dari Lactamil.

Sejarah Live Chat Member Lainnya
  • Mama Care Lactamil
    Mama Care Lactamil

    Selamat bagi 10 Mama terpilih pada Live Chat 29 Oktober 2015 bersama Ahli Psikologi Anak & Keluarga Lactamil Mama Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi. Segera kirim data diri ke inbox Facebook Fanpage Mama Care (nama lengkap, alamat, no. telepon dan email) serta harap sebutkan Mama sebagai pemenang Live Chat 29 Oktober 2015
    Terima kasih untuk Mama yang sudah berpartisipasi, sampai bertemu di Live Chat berikutnya dengan tema menarik lainnya.

    Percakapan
    • Live Chat sudah selesai.

  • Mama Care Lactamil
    Mama Care Lactamil

    Mama, Live Chat kali ini sudah ditutup ya. Terima kasih bagi Mama yang sudah berpartisipasi. Bagi Mama yang pertanyaannya belum dijawab harap ditunggu, akan segera dijawab oleh Mama Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi.

    Ditunggu juga pengumuman 10 pemenang yang akan mendapatkan paket eksklusif dari Lactamil

    Percakapan
    • Live Chat sudah selesai.

  • vebby melia
    vebby melia
    Selamat pagi menjelang siang dok..
    Seberapa besar pengaruh stres terhadap perencanaan kehamilan dok?bagaimana cara mengatasi stres saat program kehamilan yg gagal berbulan2 bahkan bertahun2?apa saja yg harus diperhatikan dan tips terbaik untuk pasangan yg dalam program kehamilan dok?sekian pertanyaan saya, terimakasih :)
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Vebby, saya psikolog nih bukan dokter, hehehehe.

      Ma, para ahli masih berpolemik tentang hubungan antara stres dengan perencanaan kehamilan. Memang banyak ahli yang membuktikan bahwa stres memperlambat ovulasi sehingga menyulitkan penghitungan masa subur, namun banyak ahli lain yang mengatakan bahwa mereka yang stres pun punya kesempatan hamil. Yang banyak dibicarakan para psikolog tentang pengaruh stres adalah karena dapat mengubah perilaku menjadi hal-hal yang menghambat kehamilan. Contohnya mereka yang stres kadang jadi enggan makan atau memaksa diri sampai terlalu lelah, dan akhirnya jadi mengalami kesulitan hamil.

      Salah satu tips yang banyak dipertentangkan namun banyak memberikan keberhasilan adalah menikmati proses kehamilan. Artinya mama dan papa perlu seiya dan sekata dalam menjalani program kehamilan, dan menikmati semua prosesnya. Jika masih sulit untuk menikmatinya, maka perlu menyerahkan segala proses ini kepada Tuhan, sebagai sumber dari segala kehidupan.

      Jika sungguh kesulitan, ada kemungkinan sebetulnya ada masalah-masalah lain yang dianggap lebih berat. Untuk itu lebih baik Mama membuat janji konsultasi dengan psikolog klinis dewasa.

       

      Semoga bermanfaat,

      Salam

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • risna gusnita
    risna gusnita
    Slmat siang mama anna,,
    Saya saat ini sedang hamil 6bln ma sblum nya saya smpet punya riwat keguguran dan prematur.. sblum nya saya smpet kerja krna faktor kecapean dan setres,kehamilan ku yg skrng kehamilan ketiga setelah jarak 4bln setelah lahiran saya hamil lgi dan bagai mana ma cara ngatasin supaya saat kehamilan yg skrng gk setres,dan apa akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dlm perut cara ngatasin nya seperti apa ya ma,biar kehamilan skrng baik2 aja dan gak terganggu sma faktor setres...
    Trima kasih ma :-)
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Risna, terimakasih atas pertanyaannya ya.

      Ma, mohon maaf nih, saya kurang menangkap kondisi Mama lewat cerita ini, karena kalimat-kalimat Mama agak tumpang tindih. Saya usahakan sebaik-baiknya menjawab ya.

      Stres itu bisa muncul dari luar diri kita (misalnya macet di jalan, atau tetangga yang berisik), ataupun dari dalam diri kita (misalnya tuntutan diri sendiri untuk menjadi mama yang sempurna). Namun ini semua bisa tak terasa kalau diri kita tangguh dalam menghadapi stres. Pada sumber stres yang bisa dihindari, boleh kok dihindari. Dan tentunya lebih baik kalau bisa mencari solusinya. Namun jika sumber stres tak mungkin dihindari, maka yang mungkin dilakukan adalah beradaptasi dengan sumber stres tersebut, atau menerima bahwa sumber stres tersebut adalah bagian dari hidup Mama.

      Jika Mama kurang tangguh atau kurang mampu mengelola stres, dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin nih Ma. Jadi kalau sangat kebingungan memikirkan berbagai masalah yang Mama hadapi, mungkin Mama bisa meminta bantuan seorang psikolog klinis dewasa di rumah sakit besar terdekat.

       

      Selamat mengatasi stres, Ma!

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • eva musthofatul bariyah
    eva musthofatul bariyah
    Selamat pagi Mama Anna,
    Saya sudah memiliki 3 anak.
    Ke3nya laki-laki dan lahir lewat SC.

    Apabila saya ingin hamil lagi (karena mendambakan anak perempuan), hal- hal apa saja yang harus diperhatikan agar meminimalisir stres yg mungkin terjadi mengingat umur saya sdh 36 th, sangat mendambakan bayi berjenis kelamin tertentu dan keinginan utk melahirkn secara normal yang smp saat ini blm pupus, ditambah repotnya mengurus 3 jagoan di rmh, terlebih saya adalah ibu yg bekerja.

    Terimakasi. Ditunggu jawabannya Mama Anna.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Eva, terimakasih atas pertanyaannya ya!

      Ma, yakinkah bahwa Mama memang harus memiliki anak perempuan lagi? Bagaimana kalau ternyata kehamilan keempat juga anak laki-laki? Nanti kalau jumlah anak menjadi empat, lalu Mama jadi semakin repot plus tak bisa meninggalkan pekerjaan, bukankah Mama jadi semakin stres? Mengingat usia Mama sudah di atas 35 tahun, artinya Mama lebih beresiko memiliki anak Down Syndrome ataupun masalah lain, siapkah Mama?

      Sangat mungkin nih Ma, yang perlu dipikirkan saat ini adalah kesiapan Mama dalam memiliki anak lagi. Kalau memang sudah siap lahir batin, termasuk siap menanggung segala resiko untuk diri sendiri maupun untuk anggota keluarga lain (jangan lupa, ada pula resiko untuk ketiga jagoan jika mereka memiliki adik lagi, ‘jatah’ kasih sayang dapat berkurang kan), maka Mama tinggal mengonsultasikan kepada dokter tentang kehamilan di usia ini setelah 3 kali SC.

      Dengan segala potensi masalah yang Mama miliki, ada kemungkinan nih Ma, kehamilan berikut tidak bisa minim stres. Namun kalau Mama adalah wanita tangguh dan mendapatkan banyak dukungan dari lingkungan terdekat, bukan tak mungkin kehamilan berikut juga jadi sumber kebahagiaan buat keseluruhan keluarga. Bagaimanapun nanti akhirnya, Mama perlu siap mental dan mempertimbangkan segalanya ya.

       

      Selamat menimbang-nimbang.

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • Mei Frida
    Mei Frida
    Pagi Mama Anna,,,,,

    Ma, saya sekarang sedang merencanakan kehamilan untuk anak kedua,,,Putri pertama kami saat ini berumur 3 thn 5 bln. Putri kami saat ini manja banget sama saya, dan maunya hanya sama saya saja, dan sangat suka tidur diatas perut saya.
    Nach,, kalau manjanya sudah kambuh, saya bawaannya langsung puyeng n stress...dan untuk hamil saya sering kepikiran, gimana nanti kalau-kalau saya hamil dan bawaannya marah trus dan stress,,, saya sering jadi ketakutan sendiri Ma.....
    Ma, bagaimana ya tips2 untuk mengurangi perasaan stress dan takut itu ya Ma??
    karena saya orangnya agak gampang stress dan kepikiran kalau ada sedikit masalah.

    Terima Kasih sebelumnya Mamacare dan Mama Anna atas waktunya.
    Salam.
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Dear Mama Mei Frida, terimakasih atas pertanyaannya. Ya.

      Ma, ada beberapa trik buat si kecil nih. Ketika Mama berpisah dari sang putri, usahakan jangan diam-diam pergi ya Ma, karena itu hanya membuat dia kehilangan kepercayaan terhadap Mama, dan pada akhirnya maunya menempel saja kepada Mama. Biarkan anak melihat Mama melambaikan tangan, bahkan menangis, tapi Mama tetap pergi. Mama juga perlu mendekatkan si kecil dengan orang lain, mulai dari Papa, nenek, kakek, ataupun teman-teman seusianya. Mulailah dengan bermain bareng dengan Papa (atau orang lain yang dianggap baik), lalu setelah anak akrab, pamitlah. Lagi-lagi tak diam-diam pergi ya.

      Mengenai tidur di atas perut, justru sebelum hamil, biasakan si putri tak lagi tidur di atas perut. Kalau sudah terlanjur hamil, dia akan merasa bahwa penolakan Mama untuk dia meneruskan kebiasaan itu adalah gara-gara adik, dan dia justru akan semakin cemburu kepada adiknya. Jadi mulai sekarang, bilang saja bahwa ia sudah semakin besar, dan perut Mama keberatan (ingat, yang keberatan adalah Mama, bukan adik). Boleh juga lakukan teknik kalender, yaitu memperkenalkan cara kerja kalender, lalu menentukan sebuah hari untuk dia tak lagi tidur di atas perut Mama. Sebelum hari H, ingatkan terus perjanjiannya, dan pada hari H lakukan kesepakatan tersebut walaupun ia menangis. Tenang Ma, si kakak sudah cukup besar kok. Cara ini tak akan membuat trauma berlebihan.

      Kalau Mama meyakini bahwa diri Mama ini orang yang mudah stres, tentu saja Mama akan mudah stres. Bukankah keyakinan yang dikatakan kepada orang lain adalah doa? Artinya doa Mama dikabulkan lho. Jadi mulai sekarang, yakini bahwa Mama adalah orang yang lebih tangguh daripada kemarin, bahwa Mama memang stres namun bisa mengatasinya. Nikmati segala kebersamaan dengan si kakak, apapun yang kakak lakukan. Saat-saat ini nggak bakal berulang lho.

       

      Selamat merencanakan kehamilan minim stres.

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • Dian indarti
    Dian indarti
    Selamat siang mbak, Kakak saya sudah lama pengen hamil anak ke 2 tapi tak kunjung hamil hingga saat ini. Masalahnya usianya sudah semakin bertambah, dia masih sibuk menjahit. Apakah kelelahan dan stress juga memicu ketidaksuburan seorang wanita mbak? Saya pernah menyarankan untuk mengkonsumsi susu hamil meski belum hamil dengan tujuan agar lebih sehat dan subur, apakah saran saya ini sudah tepat mbak? Terimakasih..
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Qisma, terimakasih atas pertanyaannya ya. Baik hati sekali deh, mau mengonsultasikan kakak.

      Memang sih kelelahan dan stres bisa mempersulit seseorang untuk hamil. Walaupun demikian, belum tentu apa yang ia alami selama ini murni karena kelelahan dan stres. Apabila ia memang sudah sangat menginginkan anak kedua, tentunya ia akan mencoba melakukan berbagai cara, termasuk memeriksakan diri ke dokter dan menjalankan segala saran yang diberikan. Namun bisa saja ia belum merasa siap memiliki anak lagi, dan ini bisa karena alasan apapun.

      Jika ia memang sungguh menginginkan tapi belum juga mendapatkan anak lagi, coba bantu dia agar lebih mampu mengelola pekerjaan dan melakukan manajemen waktu lebih baik. Dengan demikian ia tetap dapat produktif menjahit, namun juga punya banyak waktu untuk melakukan banyak hal lain, termasuk mengatur waktu untuk keluarganya.

      Mengenai asupan nutrisi, silahkan berkonsultasi dengan ahli nutrisi ya.

       

      Selamat membantu kakak!

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • katerina
    katerina
    pagi dok mau bertanya lagi rencana program hamil apakah klo membawa motor atau menaik motor tiap hari apakah kemungkinan berhasil hamilnya dikit ?? mohon info nya tq dok
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Fici, saya psikolog nih bukan dokter, hehehe.

      Mengenai efek naik motor terhadap keberhasilan hamil, silahkan dikonsultasikan dengan dokter kandungan. Yang mungkin berpengaruh antara lain adalah polusi dan panas, juga stres yang Mama alami.

      Memang sih hubungan antara stres dan perencanaan kehamilan masih dipertanyakan oleh para ahli. Ada ahli yang bilang bahwa stres membuat sulit hamil, ada pula yang bilang bahwa stres tak terlalu berpengaruh pada keberhasilan hamil. Walaupun demikian, jika stres yang dialami cukup berat, Mama tak cukup tangguh menghadapi stres, dan pada akhirnya Mama mengalami depresi, sudah tentu jadi lebih sulit untuk hamil. Kalau sampai saat ini Mama masih juga mengalami kesulitan hamil, mungkin bisa diperiksakan lebih lanjut kepada dokter. Ceritakan kondisi Mama, termasuk riwayat menstruasi selama ini dan kelelahan yang dialami, agar dokter dapat memberikan saran yang lebih tepat.

       

      Selamat berkonsultasi lebih lanjut, Ma!

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • heptawan
    heptawan
    Pagi bu , mau tanya .Adakah tanda-tanda yng bisa seorang suami amati dari istri yang sedang hamil bahwa istrinya sedang mengalami depresi /stress karena kehamilannya .sementara sang istri tidak mau terbuka atau bertukar pikiran dengan suami.Hal apa yg jarus dilakukan suami untuk mengetahui psikologis dr sa sang istri, mksih bu anna
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Dear Papa Wawan, terimakasih atas pertanyaannya. Senang sekali ada seorang suami yang berusaha membuka hati terhadap masalah istrinya.

      Pertama, stres itu berbeda dari depresi. Stres adalah segala tekanan yang dialami oleh seseorang, bisa positif (eustress, menimbulkan semangat dan gairah berkegiatan) ataupun negatif (distress, menimbulkan berbagai efek buruk di tubuh). Stres bisa bersumber dari luar diri (misalnya kemacetan jalan) bisa juga dari dalam diri (misalnya tuntutan diri untuk menjadi suami / istri idaman). Apabila stres terlalu berat, salah satu efeknya adalah depresi.

      Untuk mencari tahu depresi, Papa bisa mencermati beberapa tanda berikut ini: apakah Mama sering terlihat sedih? Apakah Mama mengalami kesulitan berkonsentrasi, sulit memahami sesuatu, dan mudah lupa? Apakah Mama sering mengalami kesulitan tidur, atau justru maunya tidur terus tapi terlihat tak juga segar? Apakah Mama kehilangan minat untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan yang biasanya diminati? Apakah Mama merasa bersalah atau merasa tak berdaya (misalnya dengan mengatakan, “Nggak perlu ada saya di dunia ini.”)? Apakah Mama jadi tak bernafsu makan termasuk makanan yang disukainya, atau sebaliknya justru maunya terus-terusan makan namun seperti tak juga senang? Jika sebagian besar tanda tadi terjadi pada Mama selama lebih dari dua minggu, maka Papa perlu mencurigai Mama mengalami depresi. Ajak Mama ke psikolog klinis dewasa atau psikolog keluarga agar mendapat penanganan untuk depresinya, karena dapat berpengaruh pada janin.

      Bagaimana cara mencari tahunya? Pertama tentu dengan mengamati keseharian Mama. Kedua dengan bertanya kepada orang-orang lain yang menjadi tempat curhat Mama, tentang apa yang dirasakan oleh Mama. Ketiga, dengan lebih banyak lagi mendengarkan Mama. Ketika Mama bicara, ataupun ketika Mama diam, tetaplah duduk di sebelahnya sambil membelai atau memeluknya sampai Mama merasa nyaman. Tak perlu bicara, tapi hadirlah di sisinya. Usahakan pada saat itu Papa tidak mengaktifkan gadget sama sekali, fokus saja pada Mama. Moga-moga dengan cara itu Mama jadi mau lebih terbuka dengan Papa, karena merasa lebih didengarkan. Jika nantinya Mama sudah mau bicara, dengarkan saja, jangan terburu-buru mencarikan solusi. Banyak mama yang terbantu hanya dengan diberi kesempatan bicara saja tanpa diberi solusi.

       

      Semoga membantu, Pa!

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.

  • Amalia Fitri
    Amalia Fitri
    Pagiii...mamamama anna ...
    Saya ibu anak 1 berusia 3 th, sy sudah ingin mempunyai anak kedua, suami sy jg mendukung,tp kdg sy masih punya rasa takut. Permasalahannya adalah sy msh tinggal dimertua, dl waktu sy melahirkan anak pertama sy sempat mengalami baby blues, hal ini jg dipicu karena sy merasa ada ketidakcocokan dg mertua yg akhirnya memperparah keadaan. Meskipun begitu mertua ttp ingin kami tinggal bersama dan suami pun blm mau mandiri. Tp sy sekarang msh trauma dg kejadian baby blues yg sy alami ketika anak pertama lahir,smp sy merasa bener2 org paling menderita di dunia ini. Bagaimana sy merencanakan kehamilan dan kelak waktu melahirkan agar sy minim stres krn keadaan sy yg msh trauma dan merasa msh tdk nyaman dg mertua..mohon pencerahannya...trm ksh sblmnya...
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani

      Hai Mama Amalia, terimakasih atas pertanyaannya ya.

      Ma, dari yang Mama tanyakan, sepertinya masih begitu banyak potensi masalah yang Mama miliki ya. Mulai dari ketidakcocokan dengan mertua, dengan suami belum punya kesepakatan hidup mandiri, juga adanya trauma masa lalu. Potensi masalah lain adalah anak pertama yang masih terlalu kecil. Menjadi potensi masalah karena memiliki lebih dari satu anak balita (apalagi lebih dari satu batita!) sungguh membutuhkan kerjasama dan ketangguhan luar biasa dari mama, papa, dan para pendukung rumah tangga termasuk nenek dan kakek.

      Supaya kehamilan dan kelahiran berikut minim stres, tentunya segala sumber stres harus diminimalisir dulu. Artinya berbagai potensi masalah di atas harus segera mendapatkan jalan keluarnya. Kalau tidak ada jalan keluarnya, artinya Mama harus memasuki strategi lebih tinggi dalam menghadapi stres, yaitu beradaptasi dan menerima sumber stres sebagai bagian dari hidup. Beradaptasi artinya mencoba untuk menikmati segala ketidaknyamanan ini dengan menyesuaikan standar Mama dengan kenyataan. Contohnya, Mama mungkin ingin mengendalikan disiplin terhadap si kecil namun jadi sulit karena mertua punya cara disiplin yang berbeda, maka Mama bisa mencoba memahami standar disiplin mertua. Menerima sumber stres dapat berarti mencoba mensyukuri keberadaan di rumah mertua ini, dengan segala keterbatasannya, namun meyakini bahwa inilah yang terbaik saat ini buat keluarga Mama dan Papa.

      Semoga efek buruk dari stres dapat segera berkurang, Ma!

      Salam,

      @AnnaSurtiNina

    • Live Chat sudah selesai.