Search logo Menu logo

Live Chat Bersama Ahli

Anna Surti Ariani

Siap Mental Merencanakan Kehamilan Kedua

Anna Surti Ariani Ahli Psikologi Anak
Live Chat

Hai Mama, Live Chat kali ini sudah ditutup ya. Terima kasih bagi Mama yang sudah berpartisipasi. Bagi Mama yang pertanyaannya belum dijawab harap ditunggu, akan segera dijawab oleh Anna Surti Ariani. Ditunggu juga pengumuman 10 pemenang yang akan mendapatkan paket eksklusif dari Lactamil.

Sejarah Live Chat Member Lainnya
  • rahel
    rahel
    Ma, saya sedang hamil anak kedua namun saya masih bimbang dan mau tanya persiapan apa yang harus saya penuhi dimana si kecil yang pertama belum mau mempunyai adik dan masih manja, papa masih suka emosional dalam mengadapi si kecil yang pertama apabila suka nangis. mohon pencerahannya
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Rahel, terima kasih atas pertanyaannya.

      Sayang sekali mama tak menceritakan berapa usia si kecil, dan berapa usia kandungan mama, sehingga jawaban ini akan umum saja ya Ma. Sebetulnya agak sayang mama hamil sebelum betul siap memiliki anak kedua, walaupun demikian kehamilan tersebut tetap perlu diterima sebagai anugerah Tuhan, dan oleh karenanya perlu disikapi lebih bijaksana. Karena mama sudah hamil, maka persiapannya perlu lebih intensif, namun tetap perlu tenang dan tak membuat panik siapapun.



      Pertama untuk papa, mama perlu memperbaiki komunikasi dan kerja sama dengan papa. Usahakan meningkatkan kemesraan dengan papa, agar mengurangi ketegangan papa, dan membuat papa jadi papa yang lebih baik. Jika sulit, maka minta bantuan dari orang yang mama dan papa percaya, agar mampu mengomunikasikan kepada papa dan memperbaiki hubungan mama dan papa.



      Kedua, untuk kakak. Carikan sebanyak mungkin orang yang bisa mama percaya, dan yang bisa mengajak kakak bermain dan ajaklah bekerja sama. Awalnya tentu mama perlu menemani dulu agar anak akrab dengan orang tersebut, lalu berpamitanlah secara terbuka. Walaupun kakak menangis, tetap tinggalkan ia bermain dengan orang tersebut. Lakukan berulangkali sampai anak cukup akrab dengan beberapa orang. Dengan demikian pada saat mama melahirkan nanti, mama tak perlu terlalu khawatir dengan kondisi si kakak. Begitu pula kelak ketika adik sudah lahir, mama tetap membutuhkan bala bantuan dari mereka, sehingga anak tetap mendapat perhatian dan kasih sayang walaupun mama sibuk mengurus adik. Tetaplah mencari waktu untuk berduaan saja dengan kakak tanpa adiknya, agar kakak tetap merasa disayang.



      Selamat bersiap, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • mahana
    mahana
    Selamat siang ,Saya punya pengalaman yang kurang baik dalam hal menjaga ketenangan pikiran pada saat menjalani kehamilan yang pertama dulu. Mungkin karena dulu usia saya masih muda, pengantin baru, belum punya

    rumah dan masih ikut bersama mertua jadi banyak hal yang kemudian membuat saya jadi gampang stres. Kondisi stres ini juga makin bertambah saat saya harus diinduksi karena proses bukaan persalinan yang berjalan lambat, akhirnya berdampak pada ASI yang tidak bisa keluar dengan lancar.

    Saat ingin merencanakan kehamilan kedua ini say masih kadang teringat saat kehamilan pertama sehingga saya takut untuk hamil lagi , mohon nasehatnya bu Anna
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Mahana, terima kasih atas pertanyaannya.

      Baik sekali mama sudah menyadari sumber masalah mama di kehamilan pertama. Sepertinya sekarang berbagai masalah tersebut sudah berhasil diatasi ya. Kalau memang sudah, dan masih merasa cemas, mungkin ada hal lain yang menimbulkan kekhawatiran. Coba mama renungkan kembali, hal apa yang masih mencemaskan. Apakah takut akan rasa sakit, apakah khawatir tak bisa berbagi cinta dengan anak pertama, apakah masih bermasalah dengan mertua, dll. Jika mama sudah berhasil mendeteksi sumber stres sebenarnya, maka akan lebih mudah untuk mengantisipasinya. Jika mama berkonsultasi dengan psikolog klinis dewasa, mama akan dibantu untuk mengecek sumber stres sesungguhnya (kadang bukan hal yang terkait dengan kehamilan atau persalinan, namun dipicu oleh itu), juga dibantu untuk mampu menghadapinya dengan lebih tangguh.



      Mengenai rasa sakit, bagaimanapun itu adalah salah satu proses yang perlu dihadapi untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu tambahan momongan. Jika mama takut menghadapinya, maka dapat terasa lebih sakit. Sementara jika mama mengikhlaskannya, rasa sakitnya akan tetap terasa namun jauh lebih ringan.



      Semoga membantu.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • nita pujiastuti
    nita pujiastuti
    Saat ini saya sedang hamil anak kedua, tetapi kadang merasa khawatir tentang proses kelahiran nanti dan bagaimana keadaan anak pertama saya saat saya melahirkan dan setelah melahirkan, Bagaimana tips untuk menguatkan mental dan menghilangkan pikiran negatif-negatif saat menanti kelahiran anak kedua? terimakasih
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Nita Pujiastuti, terima kasih pertanyaannya!

      Ma, salah satu cara mengurangi pikiran negatif adalah dengan menelaahnya dan kemudian melakukan antisipasi terhadap apa yang dikhawatirkan. Berikut saya berikan beberapa contohnya. Kekhawatiran tentang proses kelahiran perlu mama cermati lagi, apakah mama khawatir akan sakitnya, tentang siapa yang menemani, tentang biaya, atau tentang apanya. Jika masalahnya biaya, tentunya sekarang harus segera disiapkan. Cek berapa paket biaya untuk melahirkan normal dan operasi, termasuk operasi mendadak. Sisihkan dana setidaknya sejumlah biaya terbesar yang mungkin dikeluarkan, agar kalau ada hal di luar rencana, tetap aman. Tentang sakitnya melahirkan, bagaimanapun itu bagian dari prosesnya. Ikhlaskan diri untuk menjalaninya, tentunya sakit akan terasa lebih ringan.



      Anak yang baru mendapat adik biasanya memang mengalami beberapa perubahan. Oleh karena itu, untuk membantunya menghadapi kehadiran adiknya, sebaiknya mama mempersiapkan bala bantuan dari orang-orang yang mama percaya, agar dapat ikut mengasuh si kakak. Mereka akan sangat dibutuhkan ketika mama dalam kehamilan (agar mama dapat beristirahat), dalam proses persalinan (karena mama akan menginap), juga setelah adik lahir (sesekali mama perlu mengasuh adik sementara kakak tetap perlu bermain dan diasuh juga).



      Jika ini semua sudah disiapkan, dan ternyata masih ada masalah? Wajar saja, Ma. Bukankah masalah berarti kesempatan buat kita untuk meningkatkan kemampuan kita?



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • heptawan
    heptawan
    Assalamualaikum bu Anna , mohon solusinya bu , saat sang kakak sangat dekat sekali dengan ibunya usianya 3 tahun ++ saat hamil sang kakak istri saya kondisinya lemah jadi lebih banyak istrihatnya, seandainya sang kakak akan dikasih adik dalam tahun ini dan mengingat kondisi istri saya yang lemah saat hamil pertama ,apa yang bisa saya lakukan bu sebagai ayah dan suami jika kondiai ini terjadi pada saat istri hamil kedua nanti.saat ini saya sudah berusaha intens agar dekat dgn sang kakak namun itu bisa saya lakukan hanya di hari minggu saja.karena hari kerja saydi tinggal di asrama kantor . terimakasih bu sebelum dan sesudahnya
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Assalamualaikum Papa Heptawan, senang sekali papa ikut bertanya di sini.

      Kalau kondisi mama lemah saat hamil, anak mungkin jadi merasa kekurangan perhatian, padahal di usia 3 tahun ini ia masih sangat membutuhkan banyak perhatian. Jika usia mama saat ini masih di bawah 30 tahun, kemungkinan masih cukup aman, Pa, untuk menunda kehamilan. Konsultasikan dengan dokter kandungan untuk memastikannya. Namun kalau usia mama sudah di atas 30, atau karena alasan lain ingin segera menambah momongan, memang akan lebih baik sudah direncanakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penanganan tambahan kepada calon kakak agar ia tetap mendapatkan masa kanak-kanak cerianya.



      Baik sekali papa mau terlibat di hari Minggu untuk mengasuh anak. Itu tetap perlu dilakukan. Di hari-hari lain, usahakan mama mendapatkan bantuan untuk mengasuh calon kakak. Bantuan bisa didapat dari kakek-nenek yang tinggal bersama (atau kalau rumah tak terlalu jauh, kakak bisa lebih sering bermain di rumah mereka). Bisa dari pengasuh anak, bisa dari asisten rumah tangga untuk membantu membereskan urusan rumah. Bantuan juga bisa didapat dari sekolah, jadi anak disekolahkan agar tetap terstimulasi dan mendapatkan teman, sementara mama bisa beristirahat dulu demi kesehatan janin. Jika guru-guru di sekolah sayang anak dan mampu menstimulasi sesuai usia, maka sekolah di usia dini tak membahayakan anak kok.



      Semoga menjawab, Pa!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Herlina Santi
    Herlina Santi
    Selamat Siang Ibu Anna,

    Saya mempunyai seorang putri usia 3 tahun. Saat ini sedang merencanakan kehamilan kedua , tetapi ada yang membuat saya galau ,

    1. Saya merasa takut kalau nanti saya hamil anak ke2, kan pasti capek , gelisah , dll. Saya kuatir anak saya akan jd korban amarah saya. Karena dari beberapa saudara saya , saat mereka sedang hamil anak ke2 , biasanya cepat sekali emosinya tersulut , dan lagi-lagi anak pertama yang menjadi korban amarahnya.



    2. Ibu saya mengatakan bahwa sebaiknya kehamilan ke-2 direncanakan setelah anak pertama kami usianya min 6 tahun, agar dia tidak kehilangan moment kanak.kanaknya

    Sebaiknya berapa jarak yang tepat antara anak pertama dan kedua, agar mama tidak terlalu stress ?

    Terima kasih Ibu Anna atas pencerahannya , semoga sukses selalu
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Herlina, terima kasih pertanyaannya. Saya coba jawab ya.

      1. Memang sih kehamilan membutuhkan banyak energi, sehingga kita lebih mudah lelah. Walaupun demikian, selelah apapun kita, ketika kita menjadi orang tua, maka kita tetap bertanggung jawab memberikan pengasuhan terbaik buat anak kita. Artinya, kita perlu berusaha mengatur emosi kita agar tak sampai merugikan anak. Lebih baik menjauh sementara dari anak ketika sedang marah, daripada melampiaskan kemarahan kepada anak. Jika mama khawatir tak dapat menjaga emosi, maka mama perlu bekerja sama dengan orang-orang lain untuk ikut membantu mengasuh calon kakak. Dengan begitu mama dapat beristirahat jika diperlukan, sementara anak tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Yang pasti sih Ma, kalaupun nanti mama marah kepada anak saat sedang hamil adiknya, jangan sampai menyebut mama lelah karena ada adik di perut, karena akan membuat kakak menganggap adik adalah sumber masalah (dan ini bisa membuat kakak marah terhadap adik). Jadi kalau mama ingin beristirahat, sampaikan saja bahwa mama lelah.



      2. Sesungguhnya tak ada yang disebut usia ideal sebagai jarak usia antara kakak dan adik. Akan tergantung pada banyak aspek, antara lain usia mama. Contohnya kalau mama sudah di atas 30 tahun, akan lebih baik menyegerakan program hamil ketika cukup siap. Jika kakak berusia kurang dari 3 tahun pada saat adiknya lahir, maka ada kemungkinan pembentukan attachment-nya belum jadi, padahal attachment adalah dasar dari kepercayaan diri dan berbagai perkembangan emosi lain. Sementara kalau kakak berusia lebih dari 7 tahun saat adik lahir, menurut para ahli mama akan dikatakan memiliki 2 anak tunggal, karena kedua anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda jauh. Oleh karena itu kebanyakan ahli menyarankan jarak usia antara kakak dengan adik antara 3-7 tahun, namun jarak ini tak mutlak, masih harus mempertimbangkan aspek usia mama dan kesiapan lain ya.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • saodah
    saodah
    Selamat siang dok, saya sekarang sedang hamil anak ke-2 usia kehamilan saat ini 14 minggu, di kehamilan kedua ini saya merasa jauh lebih siap. Tapi tetap saja ada perasaan yang membuat saya takut, apakah nanti proses persalinannya bisa secara normal lagi, bagimana solusi yang baik agar saya tidak di bayang bayangi terlalu besar,tentang proses persalinan yang akan saya jalani nanti, masih berharap bisa melakukan dengan normal lagi??
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Saodah, saya psikolog nih, bukan dokter :D

      Selamat ya atas kehamilan keduanya.



      Jenis persalinan seperti apa yang mama jalankan kelak dapat diperkirakan oleh dokter kandungan atau bidan. Perkiraan tersebut akan lebih tepat ketika usia kandungan lebih besar nanti. Dari sisi medis, coba tanyakan kepada dokter apa yang perlu disiapkan agar dapat menjalani persalinan normal lagi. Bagaimana dari sisi psikologis? Tenang, Ma, ada yang bisa mama siapkan kok.



      Coba mama renungkan, apa yang mengkhawatirkan dari proses persalinan. Apakah tentang rasa sakitnya? Apakah tentang siapa yang menemani? Apakah tentang pembiayaan? Apakah tentang dokter? Jika mama sudah lebih mampu menjelaskan sumber kecemasan mama, maka mama bisa mengambil langkah untuk mengantisipasi kecemasan tersebut. Contohnya jika mama cemas tentang pembiayaan, maka mama bisa mengecek berapa biaya persalinan normal dan operasi, termasuk operasi mendadak. Siapkan jumlah terbesar, agar kalaupun ternyata ada perubahan rencana, keuangan tetap siap.



      Mengenai rasa sakit, sebetulnya rasa sakit adalah bagian alamiah dari proses melahirkan. Jika mama takut, maka sakitnya akan semakin terasa. Sebaliknya, kalau mama mengikhlaskannya, sebagai bagian dari proses bertemu dengan si kecil dalam kandungan, sakit masih terasa, namun tak terlalu mengganggu.



      Semoga membantu.



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • inda sundari
    inda sundari
    Selamat Siang Ibu Anna :)

    Dalam banyak hal Saya cocok2 aja dengan suami, hanya saja beberapa hal yang masih ada perbedaan. Anakku masih kecil, tapi Saya sudah hamil lagi. Inilah awal persoalan Kami Saya merasa sedih dan sangat bersalah kepada Anak yang masih kecil ini. Mungkin suami saya kurang mengerti jadi merasa biasa saja. Karena memang suami saya ingin punya banyak Anak.. namun adakah risiko jika kelahiran dengan jarak terlalu dekat dari kesehatan atau masalah psikologis Saya ? Terima kasih Ibu Anna semoga ada penjelasannya :)
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Inda Sundari, terima kasih pertanyaannya.



      Sayang mama tak menyebutkan berapa usia si calon kakak saat ini, dan berapa usia kandungan mama. Coba konsultasikan dengan dokter kandungan agar mendapat saran yang lebih tepat sesuai kondisi kehamilan mama. Masalah psikologis bisa dialami atau tidak, tergantung dari banyak kondisi. Jika pada saat ini mama merasa tak nyaman dengan kehamilan, efeknya bisa kepada janin di dalam kandungan, juga dalam jangka panjang terhadap keharmonisan perkawinan. Padahal perkawinan bahagia adalah pondasi terbaik dari pengasuhan anak lho Ma.



      Ma, kalau papa belum mengerti, sepertinya mama perlu lebih jelas dalam menyampaikan kegalauan ini. Minta waktu bicara berdua saja, dan usahakan pada saat itu sama-sama tak menggunakan gadget (dan katakan dengan jelas bahwa mama minta waktu bicara tanpa gadget). Sampaikan bahwa mama cemas tak bisa membagi perhatian kepada kedua anak. Sampaikan apa yang mama harapkan dari papa dengan jelas. Apakah mama ingin papa hanya mendengarkan, atau ingin papa memeluk, atau ingin papa lebih banyak bermain dengan si kakak (dan boleh sebutkan permainan apa saja yang bisa dimainkan berdua antara anak dan papa). Mama juga bisa menyampaikan lewat surat atau email, sehingga papa bisa membaca secara lengkap sebelum menanggapi. Jika papa belum juga mengerti, minta tolong orang lain yang dihormati oleh papa; bisa kakek atau nenek, kakak ipar, pemuka agama, atau siapapun yang mama dan papa percayai. Biarkan si orang yang dihormati ini yang menyampaikan kepada papa.



      Jika sulit, ajak papa bersama konsultasi ke psikolog perkawinan atau psikolog keluarga ya Ma. Bilang bahwa mama butuh bantuan papa untuk menyelesaikan masalah mama, dengan papa ikut berkonsultasi.



      Semoga membantu, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Desi Purwanti
    Desi Purwanti
    Selamat siang Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi kehamilan kedua saya mempunya beberapa kendala nih Bu,mohon kiranya bantu dijawab

    1. Bagaimana sih mengatasi mengatasi mental pada saat hamil kedua dengan kondisi keuangan yang pas - pasan

    2. Bagaimana cara membagi kasih sayang kepada kedua buah hati agar tidak timbul kecemburuan?

    Terimakasih
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Desi Purwanti, terima kasih pertanyaannya! Saya coba jawab ya.

      1. Mengatasi mental? Maksudnya mengalami stres akibat kondisi keuangan? Memang sih kondisi keuangan pas-pasan agak mendebarkan. Apa lagi mama dan papa perlu menyiapkan banyak hal, mulai dari biaya perawatan kehamilan, persalinan, sampai kelak membesarkan kedua anak. Walaupun begitu, jangan menyerah ya Ma. Yakinlah bahwa segala kesulitan akan membuat kita jadi makhluk yang lebih tangguh. Saat ini, coba deh dievaluasi lagi pengeluaran rumah tangga. Kurangi pengeluaran konsumtif (jajan, rokok, dll). Berapapun penghasilan keluarga, sisihkan dulu untuk persiapan melahirkan, dan usahakan hidup dari jumlah uang yang terbatas tersebut. Perbanyak sembahyang sehingga mendapatkan kekuatan. Tetap usahakan hubungan harmonis dengan papa dalam kondisi sulit ini, jangan saling menyalahkan. Jika mama dan papa saling mendukung, tentunya kesulitan bersama menjadikan keluarga ini semakin kuat.



      2. Sejak saat ini, usahakan kakak sering mengelus perut mama sambil dikatakan kakak sayang adik. Mulailah belajar tidur terpisah dari mama, boleh tidur terpisah kasur ataupun terpisah kamar. Jangan katakan itu karena adik akan lahir, namun katakan bahwa kakak tidur terpisah karena sudah besar dan sudah butuh tempat lebih luas. Mintalah bantuan dari nenek-kakek atau bahkan tetangga, untuk ikut memperhatikan dan mengajak main kakak, terutama ketika mama sedang sibuk mengurus si adik. Dengan demikian, kakak tetap mendapatkan kasih sayang.



      Selamat bersiap, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Shanti Adhityo
    Shanti Adhityo
    Selamat siang dokter, saat ini saya sedang mengandung anak ke2 sedangkan saya baru memiliki 1 anak yang sekarang berusia 14bulan. Memang saya sengaja merencanakan kehamilan ke 2 ini sebelum saya berusia 30thn dan saat ini saya berusia 29thn. Menurut dokter apakah keputusan saya benar untuk mengandung lagi? Bagaimana cara mengajarkan anak saya esok saat adiknya lahir? Usia anak saya saat ini saya mengerti bahwa masih butuh kasih sayang dari keluarganya, bagaimana caranya agar anak pertama saya tidak di nomor dua kan nantinya?
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Shanti Adhityo, saya psikolog nih bukan dokter :D



      Ma, dari sisi usia mama, oke kok untuk mengandung dalam jarak berdekatan. Selain itu, karena sudah mengandung, ya memang mau tak mau harus diterima kan. Yang perlu disadari saat ini adalah si kakak kemungkinan belum betul-betul mampu mengerti tentang adik (karena perkembangan kognitifnya masih terbatas), dan attachment (dasar dari kepercayaan diri dan berbagai perkembangan emosional lain) mungkin belum betul-betul terbentuk. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu mama lakukan untuk menyiapkan diri dan si calon kakak.



      Dari sisi mama dan papa, pastikan perkawinan berjalan lebih menyenangkan. Jika masih bermasalah, segeralah perbaiki komunikasi dan kerja sama mama dan papa. Bagaimanapun anak-anak membutuhkan kehangatan kedua orangtua, sebagai pondasi utama dari perkembangan mereka. Mama dan papa juga perlu menyiapkan fasilitas dan dana yang dibutuhkan mulai dari fase kehamilan sampai kelak membesarkan kedua anak. Segeralah menyiapkan ‘sistem pendukung’ (siapapun yang bisa membantu, bisa kakek-nenek, asisten, pengasuh, tetangga, dll) untuk dapat ikut membantu mengasuh bayi dan batita ini.



      Anak mungkin belum terlalu paham, tapi sudah bisa diperkenalkan adanya bayi-bayi di sekitarnya. Ajak ia bermain dengan bayi-bayi, dan katakan bahwa nanti adik di dalam perut mama akan seperti bayi-bayi itu. Anak juga bisa diajak menyiapkan tempat tidur dan berbagai perlengkapan bayi lain. Jika ada barangnya yang akan digunakan untuk adik, katakan bahwa barang tersebut sudah tak digunakan lagi oleh kakak, dan akan dipakai oleh adik. Karena usianya berdekatan, janganlah kakak nanti selalu diminta mengalah atau harus memberi contoh, namun anggaplah keduanya sebagai teman. Kakak juga perlu belajar tidur tak bersama mama. Boleh bersama papa, nenek / kakek, ataupun pengasuhnya, karena nanti ia akan ditinggal beberapa hari untuk melahirkan.



      Bagaimanapun anak masih sangat membutuhkan perhatian, jadi jangan mengandalkan diri sendiri saja, namun carilah sebanyak mungkin orang yang bisa ikut memperhatikan kedua anak.



      Semoga segera bersiap menyambut tambahan momongan!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.

  • Ika Namaku
    Ika Namaku
    Selamat Siang Ibu Anna,

    Usia saya saat ini 29 thn, sedangkan usia anak pertama saya saat ini adalah 22bulan dan saat ini anaknya sedang belajar bicara dan memang sangat manja. Yang ingin saya tanyakan adalah

    1. Diusia berapa idealnya anak pertamanya memiliki adik?

    2. Bagaimana cara mengenalkan/memberitahukan anak pertama saya bahwa dia akan punya adik?

    3. Apa yang kita lakukan sebagai orangtua, jika anak pertama kami merasa dicuekan dengan akan hadirnya calon adiknya?

    4. Pengalaman saya dikehamilan pertama, saya mengalami perdarahan sehingga harus bedrest diusia kehamilan 24w kemudian bayi lahir SC diusia 38w (merasakan pembukaan 3) dgn BB 4290g. Hasil SC terkadang sampai saat ini masih saya rasakan dan membuat saya agak sedikit trauma. Persiapan mental seperti apa yang harus saya siapkan untuk dikehamilan selanjutnya?

    Terima kasih Ibu
    Percakapan
    • Anna Surti Ariani
      Anna Surti Ariani
      Hai Mama Ike, terima kasih pertanyaannya. Dijawab di bawah satu per satu ya.

      1. Sebetulnya tak ada usia ideal yang pasti, karena akan sangat tergantung dengan masing-masing kondisi keluarga. Pada saat ini, kalau anak pertama sudah bisa berpisah dari mama tanpa menangis berlebihan, dan sudah lebih bisa bermain dengan anak lebih kecil dari dirinya, ia sudah lebih siap punya adik. Bantu untuk lebih mandiri lagi, misalnya dengan mengajarinya makan sendiri tanpa disuapi, dengan duduk di kursi makannya. Tambahkan juga berbagai ketrampilan mandiri, misalnya untuk pipis di toilet dan tidur terpisah (boleh di kamar sendiri, boleh juga di satu kamar tapi kasur terpisah).



      2. Kepada si 22 bulan, ia dapat dikenalkan dengan teman-teman mama yang sedang hamil (dan ditunjukkan bahwa kelak mama akan hamil seperti tante itu). Anak juga dapat dikenalkan dengan bayi-bayi di lingkungannya dan diajak bermain. Katakan bahwa ia akan menjadi kakak yang hebat buat adik bayinya.



      3. Selalu sampaikan hal positif tentang adik, jangan sampai menyebutkan bahwa nanti mama dan papa akan lebih sayang kepada adik. Mama dan papa secara bersama-sama ataupun secara bergantian memberikan waktu bermain dengan kakak, tanpa kehadiran adiknya. Berdayakan juga ‘sistem pendukung’ (kakek-nenek, asisten rumah tangga, pengasuh, tetangga, sekolah, dll) untuk juga memberikan waktu bermain bersama si kakak, sehingga dapat terus terpenuhi kebutuhan akan perhatiannya.



      4. Kalau efek operasi masih terasa, sebaiknya mama berkonsultasi dengan dokter kandungan. Kalau dikatakan tak masalah, mungkin rasa sakitnya bersifat psikologis. Untuk itu, mama perlu berkonsultasi dengan psikolog klinis dewasa atau psikolog keluarga agar dapat menangani trauma persalinan. Saat berkonsultasi, anak bisa dititipkan dulu, sehingga mama lebih fokus menjalani konseling.



      Semoga menjawab, Ma!



      Salam,

      @AnnaSurtiNina
    • Live Chat sudah selesai.