Apapun yang dilakukan orang tua, anak lah yang akan menentukan apa yang ia suka.

Banyak orang tua yang ingin mencoba membentuk selera musik anaknya. Tetapi apakah usaha tersebut akan berhasil, atau mungkin malah membuat anak tersebut benci musik yang orang tuanya dengarkan, dan malah menyukai musik yang orang tuanya benci? 

Pernahkah Ayah bertanya-tanya akan hal yang sama di atas? Ilustrasi yang tepat mungkin seperti ini. Kakek buyut menyukai musik klasik (Mahler), kakek nenek suka jazz (Ellington), orang tua suka rock (Queen), dan anak-anak menyukai Gangnam Style.

Setiap generasi memiliki selera musiknya sendiri. Sebagai orang tua, pasti ingin sekali mempunyai kesamaan dalam selera musik, setidaknya dalam 4-5 jam perjalanan di dalam mobil. Hal ini wajar seperti halnya setiap Ayah ingin anaknya juga menggemari klub bola yang sama seperti dirinya.

Tetapi jaman sudah berubah. Jenis musik yang trendi di masa orang tua, biasanya sudah tidak menarik lagi untuk di dengar bagi seorang anak dis aat umurnya sama.

Tom, salah seorang Ayah mencoba untuk menularkan selera musiknya terhadap anak laki-lakinya yang berumur 12 tahun. Dia sadar betul bahwa usahanya mempunyai resiko anaknya justru akan membenci musik tersebut. Pada awalnya Tom, istrinya dan anak mereka mengikuti les piano bersama. Pada saat yang sama ternyata anak mereka malah menyukai ukulele dan memainkan secara terus-menerus di rumah. Tetapi dia secara perlahan dan konsisten mencoba membentuk selera anaknya.

Terkadang sambil mengendarai mobil, dia menanyakan apakah anak laki-lakinya mengetahui album pertama Red Hot Chilli Peppers, tidak lama kemudian anaknya akan memutar album tersebut. Beberapa saat lalu dia mendengar anaknya memainkan bass line God Save The Queen versi Sex Pistols, dan Tom merasa puas akan hal itu, dia berpikir “that’s my boy”  kata Tom yang pada masa kuliahnya pernah bermain dalam sebuah band Punk.

Tapi ada pula contoh pemain biola Julian, dia berpendapat bahwa Ayah tidak bisa memaksakan selera musik Ayah, tetapi dapat membimbingnya. Ayah cenderung ingin mengenalkan si kecil pada musik yang menurut Ayah baik. Seperti saat anaknya berumur 8 tahun, Julian mengajaknya untuk menonton resital biola dan itu merupakan pengalaman yang spesial bagi anaknya dan akan diingat seumur hidupnya.

Tetapi tidak semua usaha yang dilakukan orang tua mempunyai hasil yang diharapkan. Karena pada dasarnya ada jenis anak-anak yang menikmati hidup dibayang-bayang orang tuanya dan ada pula anak-anak yang justru kebalikannya, ingin berbeda dari orang tuanya. Jika orang tuanya menikmati musik klasik seperti Mahler, maka anaknya bisa jadi mendengarkan Super Junior. Kuncinya adalah mengenali psikologi anak.

Jika ternyata anak Ayah mempunyai tendensi memberontak, dan Ayah ingin si kecil menyukai jenis musik Ayah, mungkin Ayah justru perlu mencoba untuk melarang jenis musik tersebut untuk diputar di rumah (psikologi terbalik). Kemungkinan, Ayah akan melihat anak akan mulai mencoba alat-alat musik klasik dan mendengarkannya secara diam-diam di kamar. Lingkungan musik di rumah sepertinya tidak menentukan pengaruh selera musik anak.

Sebagai contoh, Vicky tumbuh dan besar di lingkungan musik klasik, dan dia membenci musik tersebut. Dia mengingat-ingat pada masa kecilnya sering dibelikan dan diputarkan musik-musik klasik, tetapi dia sama sekali tidak tertarik. Pada masa itu dia hanya bisa menikmati musik yang sederhana dan keras seperti rock’n’roll, sampai otaknya mengalami perkembangan di usia yang matang. Berhati-hatilah juga para orang tua yang ingin anaknya menyukai jenis-jenis musik yang sangat berbeda dari masa sekarang, seperti musik klasik misalnya. Ayah berpotensi untuk menjauhkan anak Anda dari pergaulan teman sebaya mereka di sekolah.

Tom juga menyadari hal itu, dia tipe orang tua yang mungkin membawa anaknya ke konser band rock favoritnya, tapi dia merasa ada yang salah jika Ayah dan anak menjadi fans sebuah band yang sama. Tom memilih untuk lebih bijaksana dalam hal ini. Pada dasarnya keinginan untuk menularkan selera musik orang tua ke anaknya adalah hal yang positif, karena itu adalah bentuk sharing sesuatu yang disukai, itu merupakan hal yang wajar.

Jika orang tua percaya bahwa musik adalah sebuah refleksi akan jiwa dan juga memberikan pengaruh baik pada sikap ataupun merupakan bagian penting dalam pendidikan, maka itu adalah alasan yang kuat untuk menularkan sebuah jenis musik tertentu pada anak.

Memainkan alat musik yang paling sederhana dan bermain bersama orang lain adalah awal yang cukup untuk perkembangan musik anak. Apa pun yang orang tua lakukan, pada akhirnya anak tersebut yang akan menentukan apa yang dia suka. Yang dibutuhkan sebagai orang tua adalah membuka pintu untuk mengenalkan anaknya pada musik, biarkan mereka mengeksplorasi dan menentukannya sendiri.

Source: http://www.bbc.co.uk/news/magazine-20324299  

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+