Mengetahui masa subur wanita sangat penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Bila Ibu dan Ayah ingin memiliki anak, maka hubungan intim harus dilakukan secara rutin pada masa subur. Sedangkan bila Ibu dan Ayah ingin menunda kehamilan, maka alat kontrasepsi seperti kondom harus digunakan pada hubungan intim yang dilakukan saat masa subur. Tapi bagaimana cara Ibu mengetahui kapan masa subur Ibu?

Pada dasarnya masa subur wanita bisa dilihat dalam skala besar ataupun kecil. Masa subur wanita pada skala besar berarti masa subur berdasarkan umur wanita. Seorang wanita berada dalam keadaan paling subur pada umur 20 – 24 tahun. Sedangkan pada saat berumur 40 tahun, peluang wanita untuk hamil menurun dari 90% menjadi 67%. Jadi, peluang kehamilan akan terus menurun seiring dengan bertambahnya umur wanita, walaupun hal tersebut bukannya membuat kehamilan menjadi hal yang mustahil.

Sedangkan masa subur wanita pada skala kecil adalah masa subur wanita berdasarkan siklus bulanannya. Wanita umumnya berada dalam keadaan paling subur dalam hari-hari menjelang dan selama ovulasi, yaitu di tengah siklus datang bulan wanita. Itu sebabnya bila Ibu dan Ayah sedang merencanakan kehamilan, peluang akan meningkat dengan perencanaan yang baik yang dilakukan demi mengetahui masa subur Ibu.

Masa subur Ibu bisa diketahui dengan beberapa cara, di antaranya adalah:

  1. Mengamati perubahan fisik menjelang masa subur
    Masa menjelang ovulasi memang tidak sejelas masa menjelang menstruasi. Tapi bila Ibu mengamati tubuh Ibu dengan seksama, Ibu bisa mengetahui ketika tubuh Ibu sedang mendekati proses ovulasi. Beberapa gejala menjelang ovulasi di antaranya adalah keluarnya sedikit bercak coklat, sedikit rasa sakit di salah satu sisi tubuh Ibu, dan meningkatnya gairah seksual Ibu.
     
  2. Menghitung siklus bulanan Ibu
    Ovulasi biasanya terjadi di tengah siklus bulanan Ibu, yaitu antara hari 11 dan 21 pada siklus datang bulan Ibu. Untuk menentukan masa ini, hitunglah hari pertama dari siklus terakhir datang bulan Ibu. Ada banyak kalkulator ovulasi di dunia maya yang bisa membantu Ibu melakukan penghitungan ini.
     
  3. Mengukur suhu tubuh basal
    Saat berovulasi, tubuh Ibu memproduksi hormon progesterone yang mempertebal lapisan rahim dan sedikit menaikkan suhu tubuh Ibu. Selama beberapa bulan, ukur suhu tubuh Ibu setiap pagi sebelum bangun dari tempat tidur dengan thermometer basal yang bisa Ibu dapatkan di sebagian besar apotik. Hal ini akan membantu untuk menentukan pola perubahan suhu tubuh Ibu selama masa subur. Biasanya Ibu subur sehari sebelum suhu tubuh turun dan sehari setelah suhu tubuh naik.
     
  4. Mendeteksi hormon leutinisasi (leuteinizing hormone / LH)
    Hormon ini adalah hormon yang bertanggung jawab melepaskan telur pada masa ovulasi. Deteksi ini bisa dilakukan dengan alat pendeteksi ovulasi yang bisa Anda dapatkan di apotik.  
     
  5. Mengamati cairan leher vagina
    Produksi cairan leher vagina berfungsi membantu melancarkan jalan sperma menuju telur. Seiring perkembangan siklus bulanan, maka cairan leher vagina akan mengalami perubahan. Setelah menstruasi, cairan leher vagina sangat sedikit. Ketika mendekati masa subur, cairan leher vagina akan bertambah banyak, jernih, dan elastis. Bentuk dan tekstur cairan leher vagina pada masa ini sedikit mirip putih telur mentah. Tapi ketika masa subur telah lewat dan kesuburan berkurang, maka cairan leher vagina akan berubah menjadi berwarna keabu-abuan, lengket, dan kental.

Setelah mengetahui cara untuk menentukan masa subur atau masa ovulasi Ibu, maka Ibu dan Ayah harus mengambil keuntungan dari pengetahuan ini. Kebanyakan dokter kandungan akan menyarankan Ibu dan Ayah untuk berhubungan intim setiap hari atau setiap 2 hari sekali dimulai sejak 5 hari sebelum masa ovulasi dan berlanjut sampai sehari setelah masa ovulasi telah lewat. Karena walaupun sperma dapat bertahan hidup dalam sistem reproduksi wanita sampai selama 3 hari, tapi telur Ibu hanya siap dibuahi selama 12-24 jam saja. Dengan melakukan hubungan intim sebelum, saat, dan sehari sesudah masa ovulasi, maka Ibu akan mengoptimalkan peluang Ibu untuk hamil.

 

Sumber:

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+