Saat bersalin adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh tiap Ibu hamil, menegangkan sekaligus membahagiakan karena tak lama lagi sang buah hati akan hadir ke dalam dunia.

Umumnya anggota keluarga akan menjaga sang Ibu dan mengawasi perkembangannya apalagi jika sudah mendekati hari perkiraan lahir. Tapi bagaimana jika saat harinya tiba, air ketuban pecah dan Ibu seorang diri tanpa ada orang lain untuk membantu? Simak beberapa tipsnya di sini.

  1. Tetaplah tenang dan jangan panik. Ingatlah, meski ini persalinan pertama Ibu dan mungkin Ibu tidak tahu bagaimana prosesnya, tubuh seorang ibu dan bayinya secara alami dapat melakukan tugasnya sendiri.
  2. Hubungi seseorang melalui telepon dan minta mereka untuk memanggilkan dokter atau bidan, ada baiknya jika Ibu menyimpan nomor telepon Rumah Sakit atau dokter pada speed dial telepon genggam atau telepon rumah Ibu.
  3. Ibu harus mulai menarik nafas pendek dan cepat untuk menghindari tekanan?

Petunjuk untuk orang yang membantu persalinan.

Pertolongan dari orang lain jika dokter atau bidan belum datang membantu.

  1. Cuci daerah vagina Ibu hamil dan tangan pembantu persalinan dengan air dan sabun.
  2. Tempatkan Ibu hamil di tempat tidur atau meja sedemikian rupa hingga bagian pantatnya agak menggantung, tangan berada di bawah paha untuk menjaga agar paha tetap terangkat. Letakkan dua kursi untuk mendukung kakinya.
  3. Bila tidak ada waktu untuk memindahkan Ibu hamil ke tempat tidur, tempatkan kain atau handuk bersih untuk dilipat di bagian bawah pantat Ibu hamil untuk meninggikannya sehingga ada ruang untuk bahu bayi.
  4. Lindungi permukaan persalinan, bila mungkin dengan taplak plastik, seprai, handuk atau sejenisnya. Sebuah baskom dan panic bisa digunakan untuk menampung cairan ketuban dan darah.
  5. Ketika puncak kepala bayi mulai muncul, perintahkan sang Ibu untuk menarik nafas cepat dan pendek atau meniup (tidak mendorong), berikan tekanan lawan pada kepala agar ia tidak keluar tiba-tiba. Biarkan kepala muncul secara bertahap dan JANGAN menariknya keluar. Bila terdapat lilitan tali pusar pada leher janin, kaitkan jari padanya dan angkat hati-hati melewati kepala bayi.
  6. Bila kepala telah keluar, dengan hati-hati urut bagian sisi hidung kea rah bawah, leher dan bagian bawah dagu ke arah atas untuk membantu mengeluarkan lendir dan cairan ketuban dari hidung dan mulut bayi.
  7. Selanjutnya, pegang kepala dengan dua tangan dan tekan sedikit ke arah bawah (jangan menarik), pada saat yang bersamaan mintalah sang Ibu untuk mendorong atau mengejan untuk mengeluarkan pundak bagian depan. Ketika lengan bagian atas muncul, angkat kepala dengan hati-hati, perhatikan pundak bagian belakang muncul. Sekali pundak telah keluar, maka bagian lain dari bayi akan keluar dengan mudah.
  8. Segera bungkus bayi dengan selimut, handuk atau apa saja yang ada, pilih bahan yang bersih, bahan yang baru disetrika biasanya relatif steril. Letakkan bayi pada perut sang Ibu, atau bila tali pusar cukup panjang (jangan menariknya) bayi bisa diletakkan pada dada sang Ibu.
  9. Jangan mencoba menarik plasenta keluar, tapi jika ia keluar dengan sendirinya sebelum dokter/ambulans tiba, bungkuslah dengan handuk atau koran dan jika memungkinkan tempatkan lebih atas dari letka bayi. Tidak perlu mencoba memotong tali pusar.
  10. Usahakan agar sang Ibu dan bayi tetap hangat hingga bantuan dokter/ambulans tiba.

 

Sumber: Kehamilan: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan (Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, Sandee E, Hathaway B.S N)  

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+