Menjadi seorang Ibu berikut dengan embel-embel melahirkan, menyusui, melangsingkan badan, semua adalah ilmu yang aku dapatkan ‘learning by doing’. Kiblatku tentu saja adalah Ibu sendiri, dan berhubung Ibu adalah tipe yang sangat dekat dan mandiri mengurus anak (padahal Ibu adalah wanita karier lho, masih bekerja hingga kini), aku selalu termotivasi ingin seperti beliau.

Motivasi dari Ibu biasanya berupa ‘tantangan’, seperti : “Ibu bisa melahirkan normal, kamu pasti bisa!”, “Ibu tidak pakai suster, kamu pasti bisa!”, dan yang ingin aku sharing adalah ‘tantangan’ “Ibu menyusui anak-anak Ibu hingga dua tahun, kamu pasti bisa!”.

‘Doktrin-doktrin’ tersebut kerap aku dengar bahkan semenjak gadis, jadi di benakku, “aku pasti bisa”. Mungkin berawal dari mind frame positif dan lingkungan yang sangat mendukung, Alhamdulillah tidak mengalami kesulitan dalam menyusui.

Nadine, kini hampir 6 tahun, menyusu hingga 23 bulan (nyebelin ya, kenapa tidak digenapin ke 2 tahun saja?), dan Nuala, 28 bulan, menyusui hingga… kini! Aku bukan tipe yang berpikiran semakin lama menyusui semakin baik lho, aku setuju dengan program ASI eksklusif 6 bulan, kemudian teruskan sesuai ‘kesepakatan’ masing-masing Ibu dan anak. Kebetulan ‘kesepakatan’ku dengan Nadine dan Nuala adalah “terserah”.

Aku tidak tega (dan tidak mau direpotkan) dengan proses menyapih. Anyway, aku ‘addicted’ dengan momen bonding setiap saling bertatapan mata saat menyusu. Toh kalau sudah besar akan malu sendiri (seperti Nadine yang waktu itu tiba-tiba saja menunjuk ke payudaraku dan tertawa.

She has officially grown up). Mungkin satu-satunya yang merasa ‘dirugikan’ dari ini adalah suami, hi, hi, hi. Suami pernah membuat perjanjian dengan Nuala “kalau sudah 2 tahun berhenti ya”, tapi tentu saja tidak diindahkan. Malah, ia meminta izin pada daddy-nya terlebih dahulu “Daddy, can Nuala have ‘ndeh’ please?” Oiya, Nuala menyebutnya sebagai ndeh, dan Nadine dulu menyebut ‘minij’. Dapat darimana?

Entahlah. Jadi bagi Ibu yang hamil atau menyusui, klise memang, tetapi ‘mind over matter’. Jika sungguh-sungguh percaya, Insya Allah tubuh akan mengikuti sinyal dari otak. Sayangnya memang ada kasus dimana seorang Ibu secara fisik tidak mampu menyusui.

Aku memiliki beberapa teman seperti itu padahal sudah mencoba segala macam cara. Please don’t feel bad. Itu tidak membuat Anda menjadi Ibu yang buruk. Yang penting kasih sayang dan perhatian tercurah penuh kepada anak. Demikian sharing sedikit pengalamanku.

Bagi Ibu yang membaca ini dan mencari tahu aneka ilmu mengenai menyusui, jempol untuk kamu! Beruntung sekali anak-anak memiliki Ibu seperti Anda yang mengupayakan segala cara demi memberi yang terbaik bagi buah hati. Berikutnya, aku akan membahas mengenai manajemen laktasi.

Stay tuned yaa.

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+