Setelah menikmati proses melahirkan sang buah hati, Ibu dan Ayah tentunya menyambut antusias kehadiran bayi di kehidupannya. Memiliki bayi yang sehat dengan berat lahir minimal 2,5 kg, tidak pucat, tidak biru, gerakannya aktif, menyusui dengan kuat, adalah dambaan Ibu dan Ayah.

Bagaimana jika bayi yang dilahirkan Ibu berat badannya kurang dari 2,5 kg ketika dilahirkan? Ibu dan Ayah jangan patah semangat, karena kemajuan teknologi kedokteran dan didukung kemauan keras orangtua, bayi yang memiliki BBLR dapat bertahan hidup.

Berat badan ideal bayi yang baru dilahirkan adalah 3,5 kg dengan panjang ideal 50 cm. Sementara bayi yang memiliki berat kurang dari 2,5 kg dinamakan Bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan bisa dikategorikan bayi prematur.

Pada saat persalinan, BBLR mempunyai risiko kurang menyenangkan, yaitu asfiksia atau gagal untuk bernapas secara spontan dan teratur saat atau beberapa menit setelah lahir. Hal itu diakibatkan faktor paru yang belum matang. Risiko lainnya adalah hiptermia (suhu tubuh 6,5 167 C). Karena itu, perhatian dan pelayanan atau perawatan BBLR dimulai sejak lahir.

BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

  1. Faktor Ibu (penyakit yang diderita misalnya toksemia dan diabetes mellitus)
  2. Usia Ibu (kurang dari 16 tahun, atau lebih dari 35 tahun)
  3. Ibu yang perokok, peminum alkohol, pecandu narkotik.
  4. Faktor janin (Hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom)
  5. Faktor lingkungan (daerah radiasi, atau terkena zat-zat beracun).

BBLR terdiri atas BBLR kurang bulan, BBLR cukup bulan dan BBLR lebih bulan.

  • BBLR kurang bulan, khususnya BBLR dengan kehamilan kurang dari 35 minggu, umumnya mengalami penyulit seperti gangguan napas, ikterus, infeksi dan lain sebagainya, yang apabila tidak dikelola sesuai dengan standar pelayanan medis akan berakibat fatal.
  • BBLR cukup bulan atau lebih bulan umumnya memiliki organ tubuh mature sehingga perawatannya tidak terlalu bermasalah. Mereka hanya membutuhkan kehangatan, nutrisi dan pencegahan infeksi.

Merawat Bayi BBLR

  • Bayi dengan BBLR sangat rentan terjadinya hiportemia, karena tipisnya cadangan lemak di bawah kulit dan masih belum matangnya pusat pengatur panas di otak. Untuk itu, harus selalu dijaga kehangatan tubuhnya.
  • Untuk bayi prematur sangat disarankan untuk meminum ASI langsung dari ibunya. Pemberian ASI peras yang disendokkan ke mulut atau dengan pipa lambung, bila sangat terpaksa melakukannya.
  • Kekurangan minum pada BBLR akan mengakibatkan ikterus (bayi kuning)
  • BBLR sangat rentan terhadap terjadinya infeksi sesudah lahir. Karena itu, tangan harus dicuci bersih sebelum dan sesudah memegang bayi.
  • Segera membersihkan bayi bila kencing atau buang air besar
  • Pemberian imunisasi sesuai dengan jadwal.
  • Untuk tumbuh, BBLR harus mendapat asupan nutrien berupa minuman mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin yang lebih dari bayi bukan BBLR
  • Biasanya BBLR dapat mengejar ketinggalannya paling lambat dalam enam bulan pertama.

Ideal atau tidaknya berat bayi saat dilahirkan, berkaitan erat dengan pola makan yang dikonsumsi calon Ibu. Bila calon Ibu cenderung sulit makan atau sering muntah, sehingga terjadi penurunan berat badan, maka kemungkinan jabang bayi yang dikandungnya juga akan memiliki berat badan yang rendah.

Tips agar bayi tidak BBLR:

  • Periksakan kehamilan secara rutin ke tenaga medis. Konsultasikan tentang faktor-faktor penyakit yang mengganggu kehamilan, termasuk berat badan yang kurang.
  • Makan makanan bergizi yang memenuhi syarat makanan dengan gizi seimbang
  • Hentikan kebiasaan buruk yang dapat menganggu kesehatan janin, seperti merokok, minum alkohol, minum obat-obatan yang tidak perlu.
  • Istirahat yang cukup.
  • Usahakan untuk tidak menjadi perokok pasif, jadi lebih baik mengalah dan menghindar
  • Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan USG untuk memantau kondisi janin.
  • Jika ada keluhan segeralah berkonsultasi pada tenaga medis, dokter atau bidan yang biasa calon Ibu didatangi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan
  • Rajinlah untuk selalu mencatat dan mengamati hasil pemeriksaan kehamilan bulanan untuk mengetahui pertambahan berat dan tinggi janin.

 

Sumber :

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+