Ibu tidak perlu khawatir bila anaknya punya kebiasaan menghisap jempol. Kebiasaan tersebut sangat alamiah karena semua bayi yang lahir memiliki naluri dan reflek untuk menghisap. Karena dengan cara itulah mereka makan dan minum. Untuk menguji reflek itu cobalah untuk meletakkan tangan dibibirnya, maka bayi akan berusaha mencari tangan Ibu dan mulutnya melakukan gerakan menghisap. Refleks tersebut akan menghilang pada saat bayi berumur empat bulan.  

Namun beberapa bayi ada yang dilahirkan sebagai penghisap jempol. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa hasil foto USG yang memperlihatkan janin sedang menghisap jempol. Menurut beberapa ahli, janin yang berusia 15 minggu sudah bisa menghisap jempol dalam kandungan.  

Menurut Dr. Bill Sears, salah satu dokter anak Amerika ternama yang juga penulis 40-an judul buku tentang pengasuhan anak, mengatakan bahwa kemampuan bayi untuk menggunakan salah satu bagian tubuh mereka dalam menemukan kenyamanan bukan merupakan gangguan psikologis.

Pada bayi yang mendapatkan ASI, selain mendapatkan susu yang terbaik, keuntungan lainnya adalah mendapatkan banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan menghisapnya tanpa harus mengisi perutnya secara berlebihan. Sedangkan pada bayi yang minum susu dari botol, mereka tidak mendapatkan waktu menghisap yang cukup. Oleh karena itu kebiasaan menghisap jempol lebih banyak ditemukan pada anak yang minum dari botol.  

Selain kebiasaan sejak masih janin, bayi juga membutuhkan kelembutan untuk mendapatkan rasa aman. Kadar kebutuhan kelembutan ini antara bayi yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda. Kelembutan untuk memenuhi rasa nyaman tersebut bisa didapat dengan cara menghisap puting, jempol, ujung bantal, selimut, atau mengelus, memelintir-lintir sesuatu yang lembut di antara ibu jari dan jari telunjuknya.  

Sigmund Freud, tokoh psikologi perkembangan yang kondang, dalam salah satu teorinya mengatakan bahwa menghisap atau fase oral merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia untuk perkembangan pribadinya. Fase oral, dimulai dari usia 0-18 bulan. Karena bayi lahir dalam keadaan tidak berdaya –tidak mandiri dan tidak bisa mencari makan sendiri- maka dia membutuhkan waktu untuk bisa percaya kepada dunia sekitarnya. Kepercayaan itu tumbuh dan berkembang dari rasa nyaman yang dia dapatkan. Dari keterangan di atas, maka Ibu tidak perlu risau dengan anak yang mengisap jempol.

Wajar, normal, bahkan dibutuhkan untuk memenuhi fase perkembangan psikologinya. Akan tetapi, kerisauan tersebut pantas muncul jika kebiasaan menghisap jempol berkepanjangan atau sampai di atas 5 tahun. Kebiasan menghisap jempol yang berkepanjangan akan menyebabkan maloklusi (gigi dan rahang dalam posisi yang tidak normal).

Jika dibiarkan terus maka gigi anak dapat menjadi maju, atau dapat terjadi juga open bite yaitu saat rahang dikatupkan gigi belakang atas dan bawah sudah berkontak namun gigi depan atas dan bawah tetap terbuka.

Ibu juga harus risau jika dokter anak dan dokter gigi menyatakan kekhawatirannya pada kebiasaan menghisap jempol.

Nah, sekarang ketika berhadapan dengan kenyataan dan pertanyaan tentang kebiasaan menghisap Jempol, seharunya Ibu tidak perlu risau karena sudah bisa membedakan mana menghisap yang wajar, dan mana yang kebablasan.

Dr Bill Sears, yang juga Profesor Klinis Associate Pediatrics di University of California, Irvine School of Medicine mengingatkan dan menekankan bahwa saat bayi menghisap puting artinya lebih dari sekedar makan.

Dengan mengisap mereka juga belajar bahwa kenyamanan yang didapatkan akan membuatnya tubuhnya tenang dan santai.

Sumber:

  1. http://www.whattoexpect.com/first-year/ask-heidi/thumb-sucking-baby.aspx
  2. http://www.datehookup.com/content-sigmund-freuds-psychosexual-development-theory.htm
  3. http://www.askdrsears.com/topics/discipline-behavior/bothersome-behaviors/thumbsucking
Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+