Belakangan ini semakin banyak informasi yang diterima calon Ibu dan Ayah baru tentang Post-Partum Depression (PPD), yaitu depresi berkepanjangan yang dialami Ibu baru setelah melahirkan, Tapi ternyata tidak hanya Ibu yang beresiko mengalami depresi.

Ayah baru juga bisa mengalami Paternal Postnatal Depression PPND). Pada 2010, Journal of The American Medical Association mengalanalisa lebih dari 28.000 Ayah baru dan menemukan bahwa 14% dari Ayah baru di Amerika Serikat mengalami depresi setelah kelahiran anak mereka. Angka itu meningkat sampai 25% dalam periode 3-6 bulan setelah kelahiran si kecil.

PPND adalah kondisi yang cukup sering dialami Ayah setelah kelahiran si kecil. Sampai 1 dari 4 Ayah mengalami PPND, dan hal ini bisa dimulai selama tahun pertama kelahiran si kecil. Penelitian dari University of Michigan menemukan bahwa Ayah yang mengalami depresi lebih mungkin memukul anak mereka yang berumur 1 tahun, dan kurang dari separuh Ayah yang mengalami depresi akan membacakan cerita untuk si kecil.

Karena komunikasi dan hukuman terhadap si kecil sangat mempengaruhi perkembangan psikologis, sosial, dan tingkah laku si kecil, maka bila Ayah yang depresi tidak mendapatkan perawatan yang layak, PPND bisa memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap diri Ayah, si kecil, dan keluarga Ayah sebagai kesatuan.  

Gejala PPND di antaranya adalah:

  • Mudah marah dan berseteru dengan orang lain
  • Lebih sering mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan lainnya
  • Frustrasi
  • Perilaku kasar
  • Turun berat badan
  • Terisolasi dari keluarga dan sahabat dekat
  • Mudah tertekan
  • Impulsif dan mengambil resiko, seperti mengemudi ugal-ugalan atau berselingkuh. Pengambilan keputusan secara impulsif adalah salah satu cara pria menghadapi depresi.
  • Merasa berkecil hati
  • Semakin sering mengeluh tentang masalah fisik
  • Gejala fisik yang berkelanjutan, seperti sakit kepala, masalah pencernaan, atau rasa sakit
  • Bermasalah dengan konsentrasi dan motivasi
  • Kehilangan minat dalam pekerjaan, hobi, dan hubungan intim
  • Bekerja terus menerus
  • Penyalahgunaan obat-obatan dengan resep
  • Khawatir berlebihan tentang produktivitas di kantor
  • Kelelahan
  • Terpikir untuk bunuh diri

Seorang Ayah yang depresi mungkin hanya mengalami beberapa gejala di atas. Tingkat keseriusan gejala-gejala ini berbeda-beda di setiap orang. Masalahnya adalah biasanya pria lebih cenderung menyembunyikan perasaan dan rasa depresi mereka.

Jadi ada baiknya untuk waspada atas perubahan sikap di luar kebiasaan. Selain itu, banyak Ayah yang tidak menyadari bahwa gejala yang mereka alami adalah PPND, karena kebanyakan penderita merasa malu atas perasaan mereka. Akibatnya adalah penyangkalan yang berujung pada masalah depresi yang tidak diatasi dengan layak. Penyebab PPND adalah berbagai macam faktor baru yang hadir pada saat si kecil lahir.

Hal-hal yang meningkatkan resiko PPND adalah:

  • Kurang tidur
  • Perubahan hormon. Setelah si kecil lahir, Ayah juga mengalami perubahan hormon: hormon testosterone menurun, estrogen meningkat, dan hormon prolactin (sering diasosiasikan dengan proses menyusui pada Ibu) juga meningkat
  • Riwayat kesehatan depresi
  • Hubungan yang buruk dengan pasangan
  • Hubungan yang buruk dengan salah satu atau kedua orang tua
  • Tekanan hubungan dengan pasangan atau mertua
  • Stres berlebih akibat menjadi orang tua
  • Keluarga yang berbeda (misalnya menjadi orang tua tunggal atau ayah tiri)
  • Fungsi sosial yang kurang
  • Kurang mendapat dukungan dari orang lain
  • Masalah ekonomi atau kurang pendapatan
  • Merasa terkucil dari hubungan antara Ibu dan si kecil
  • Ibu mengalami Post-Partum Depression. Separuh pria yang mengalami PPND juga memiliki pasangan yang mengalami Post-Partum Depression

Ada hal-hal yang bisa Ayah lakukan untuk mengatasi PPND, yaitu:

  1. Mencari bantuan, terutama dari psikolog.
  2. Berbicara dan berbagi perasaan. Bercerita kepada seseorang tentang masalah yang Ayah hadapi, baik itu psikolog, teman, ataupun kepada pasangan, bisa sangat membantu agar Ayah menyadari bahwa dia tidak mengalami hal ini sendirian, sehingga stress Ayah akan sangat berkurang
  3. Tidur yang cukup. Kurang tidur bisa dibilang adalah salah satu faktor terbesar penyebab PPND. Jadi tingkatkanlah kualitas tidur Ayah.
  4. Melakukan pencegahan sejak masa kehamilan. Bila Ayah memiliki sejarah depresi, Ayah sebaiknya menemui psikolog sebelum si kecil lahir untuk mengantisipasi kemungkinan PPND. Kalau Ayah dan Ibu sudah mengalami masalah dalam rumah tangga sejak kehamilan, ikuti terapi pasangan sebelum si kecil lahir. Kalau Ayah gugup atas kelahiran si kecil, ikuti kelas parenting yang sering tersedia di rumah sakit. Dan kalau Ayah khawatir tidak mampu menyokong keluarganya secara ekonomi, segera siapkan budget.

Masalah terbesar dari PPND adalah pria terbiasa menyimpan masalahnya sendiri, karena merasa bahwa pria seharusnya kuat dan mereka bisa mengatasi depresinya sendiri. Tapi demi mencegah masalah yang lebih besar, bila Ayah merasa mengalami gejala-gejala PPND, segeralah berbicara dengan pasangan, dan bertemu dengan psikolog.

Sumber http://www.postpartummen.com/ http://blogs.menshealth.com/health-headlines/can-men-get-post-partum-depression/2011/03/27 http://www.thedailybeast.com/newsweek/2009/04/06/understanding-male-post-partum-depression.html

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+