Siapa sih yang tak ingin bayinya sehat? Semua mama tentu mengharapkan si kecil sehat dan cerdas. Salah satu yang membantu si kecil agar mendapatkan kesehatan dan kecerdasan prima adalah ASI. Faktanya, untuk bisa menyusui lancar ternyata banyak sekali tantangannya. Bayi yang masih belum ahli menyusu, mertua yang langsung ingin memberikan MPASI saat si kecil belum 6 bulan, mama yang kembali bekerja, dll. Semua ini membuat mama jadi stres. Padahal stres bisa mengurangi produksi ASI mama, dan beresiko mengurangi keberhasilan mama menyusui lho (Rudzik, 2010). Stres berlevel sedang dan berat bahkan bisa menghambat munculnya hormon oksitosin yang berperan penting dalam produksi ASI (Powers, 2005).

Apa yang Membuat Ibu Stres? Apa Efeknya?

Ada banyak hal yang bisa membuat mama stres. Stres ringan bisa disebabkan oleh kemacetan jalan, lapar, tenggat waktu pekerjaan yang tinggal sebentar lagi, dll. Stres level sedang antara lain disebabkan oleh atasan atau rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama, pertengkaran dengan papa, ataupun adanya kecelakaan atau bencana. Sementara stres level berat dapat disumbang antara lain oleh tuntutan berlebihan oleh keluarga, berbagai trauma dari masa lalu yang muncul kembali, ataupun adanya perubahan sangat besar yang harus dihadapi.

Stres yang ringan bisa berefek baik, misalnya kemampuan memperhatikan jadi meningkat dan kerja jadi lebih cepat. Namun apabila stres berlangsung lebih lama dan intensitasnya lebih berat, dapat berpengaruh pada kondisi tubuh. Efek mulai dari cepat lelah, mudah sakit, depresi, dan banyak lagi. Salah satu efek yang sering dirasakan mama menyusui adalah turunnya produksi ASI. 

Bagaimana Agar Bebas Stres?

Ada dua cara utama agar mama bebas stress, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused copingProblem-focused coping perlu dilakukan lebih dulu, jika tak bisa barulah lakukan emotion-focused coping. Apa itu?

Problem-focused coping adalah cara bebas stres dengan cara mengubah situasinya. Ada 2 cara utama: ‘Hindari’ dan ‘Cari alternatif’. Apabila penyebab stres masih bisa dihindari, sebaiknya dihindari. Contohnya dengan menghindar dari jalan yang selalu macet, atau membatasi waktu bersama orang yang terus menyampaikan mitos tak benar tentang perkembangan bayi. Jika penyebab stres tak bisa dihindari, misalnya mertua terus datang ke rumah dan memaksa mama memberikan MPASI (atau hal lain yang tak bisa dihindari), maka kondisinya harus diubah, artinya mama harus mencari alternatif solusi lain. Contoh alternatif solusi adalah menyampaikan secara hormat kepada mertua bahwa si kecil lebih sehat jika hanya menyantap ASI di 6 bulan pertama hidupnya sambil memberikan artikel tentang pentingnya menyusui.

Tak semua sumber stres dapat dihindari atau dicari solusinya. Kadang ada yang mau tak mau dihadapi. Jika ini terjadi pada mama, maka mama perlu mengubah cara mama dalam menghadapi stres. Ini yang disebut emotion-focused coping. Ada 2 cara utama: ‘Beradaptasi’ dan ‘Menerima apa adanya’. Beradaptasi dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan standar, jangan terlalu perfeksionis. Contohnya mama stres karena hasil perahan ASI tak sebanyak teman mama. Maka mama bisa menentukan target lebih rendah dibanding target teman tersebut, meyakini bahwa produksi tersebut cukup buat si kecil. Ibu juga bisa menerima saja berapapun hasil perahan ASI, yang penting tetap rajin memerah ASI. Fokus saja pada apa yang bisa mama hasilkan daripada terus kesal karena tak bisa mencapai target yang diharapkan.

Semoga trik tadi bisa membantu mama agar berkurang stresnya dan bisa lebih lancar menyusui. Selamat mencoba!

 

Sumber:

  • Powers, Nancy G. (2005). Low Intake in the Breastfeed Infant: Maternal and Infant Consideration. Di dalam Riordan, J. (editor). Breastfeeding and Human Lactation, 3rd ed, (hal 277-307). Massachusetts: Jones & Bartlett Publisher, Inc.
  • Rudzik, Alanna. (2010). Breastfeeding and the Individual: The Impact of Everyday Stressful Experience and Hormonal Change on Breastfeeding Duration Among Women in Sao Paulo, Brazil. (Dissertation). University of Massachusets: Department of Anthropology.
Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+