Ayah ASI pasti mengerti bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi. Selain itu, ASI tidak hanya menguntungkan untuk Ibu dan si kecil, tapi juga untuk Ayah ASI. Banyak Ayah ASI yang sudah berpengelaman mengatakan bahwa bayi yang menyusui tidak terlalu lama bangun di malam hari, karena kemudahan dan kenyamanan ASI membuat si kecil bisa langsung disusui tanpa harus menangis terlalu lama, sehingga tidur Ayah dan Ibu juga tidak terlalu terganggu.

ASI juga membuat bayi menjadi lebih sehat dan bahagia. Selain itu, ASI jelas lebih hemat dari susu formula. Tapi bahkan setelah Ayah ASI mengetahui keuntungan-keuntungan itu pun, Ayah ASI tetap bisa mengalami dilema saat si kecil hadir. Ikatan antara Ibu dan si kecil, terutama yang Ibu dan si kecil dapat dari proses menyusui, bisa membuat Ayah ASI merasa terkucilkan.

Proses menyusui melanjutkan hubungan eksklusif yang telah Ibu dan si kecil jalin selama kehamilan.

Jadi untuk para Ayah ASI yang masih menyesuaikan diri dengan kedatangan si kecil, sangatlah normal untuk merasakan hal-hal berikut:

  1. Khawatir bahwa Ayah ASI akan sulit mengembangkan hubungan dengan si kecil seperti Ibu
  2. Merasa tidak cukup, dan berpikir bahwa apapun yang Ayah lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang Ibu lakukan
  3. Cemburu dengan si kecil yang mendapatkan perhatian penuh dari Ibu
  4. Percaya bahwa karena Ibu menyusui maka Ibu memiliki pengetahuan dan kemampuan yang secara otomatis membuat Ibu menjadi orang tua yang lebih baik.

Perasaan ini adalah normal karena Ayah masih beradaptasi dengan perubahan besar dalam wujud si kecil yang hadir di keluarga Ayah. Lama kelamaan semua perasaan ini pada akhirnya akan hilang dengan semakin dekatnya Ayah dengan si kecil.

Ayah ASI juga harus mengingat bahwa peran Ayah ASI sangat dibutuhkan untuk mendukung lancarnya proses menyusui Ibu.

Bahkan penelitian menunjukkan bahwa semakin supportif seorang suami, semakin lama pula seorang istri menyusui sang anak dan semakin tinggi rasa percaya diri sang istri untuk menyusui sang anak.

Jadi, tunjukkan dukungan Ayah ASI kepada Ibu dengan cara berikut ini:

  1. Bersikap mendukung dan penuh perhatian. Menyusui mungkin tampak mudah, tapi sebenernya proses ini melelahkan dan membutuhkan kerja keras. Jadi bantu Ibu mengerjakan pekerjaan sehari-hari semampu Ayah. Saat Ibu menyusui, bawakan dia bantal atau segelas air.
  2. Sering menyentuh si kecil. Berpelukan, memandikan, dan membacakan cerita sampai si kecil tertidur adalah cara-cara membangun hubungan dengan si kecil. Hal-hal ini memberi Ayah kesempatan untuk dekat satu sama lain dengan cara yang sama seperti proses menyusui mendekatkan Ibu dengan si kecil
  3. Melewatkan waktu bersama si kecil. Jalan-jalan sore bersama, membawa dia pergi belanja, atau bermain bersama bisa jadi pilihan. Berikan waktu untuk Ayah melewatkan waktu berdua saja dengan si kecil. Semakin banyak waktu yang Ayah lewati dengan si kecil, maka Ayah akan semakin yakin akan kemampuan Ayah sebagai orang tua
  4. Memberikan si kecil ASI dari botol. Saat si kecil lapar, susui dia dengan ASI melalui botol. Hal ini bisa dimulai sejak si kecil berumur sekitar 3-4 minggu atau saat si kecil sudah terbiasa menyusui langsung dari payudara Ibu. Jangan sedih kalau si kecil tampak kurang tertarik menyusu dari botol, mungkin dia belum terbiasa.
  5. Bersabarlah bila Ibu tampak belum tertarik untuk berhubungan intim dengan Ayah. Bisa jadi Ibu sudah terlalu lelah menyusui, atau belum pulih benar sejak melahirkan si kecil.

Peran Ayah ASI untuk mendukung proses menyusui sama pentingnya dengan peran Ayah ASI dalam proses penyapihan. Saat Ibu dan si kecil sudah siap untuk berpisah dari proses menyusui, peran Ayah ASI sebagai pengalih perhatian si kecil dari payudara Ibu akan sangat membantu mempermudah proses penyapihan.

Jadi, tunjukkan dukungan Ayah terhadap proses menyusui Ibu. Dukungan Ayah ASI terhadap proses menyusui Ibu pun pada akhirnya akan berbuah manis: kedekatan Ayah ASI dengan si kecil.

Sumber: http://www.babyzone.com/mom_dad/fatherhood/article/breastfeeding-and-dad-pg3#bm20 http://www.babycenter.com/0_dads-and-breastfeeding_8252.bc    

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+