Hak semua bayi adalah mendapatkan ASI eksklusif sejak ia lahir ke dunia hingga 6 bulan, dan meneruskannya hingga usia lebih dari 2 tahun, jika produksi ASI masih tetap aktif. Lazimnya, ada 3 cara melakukan ASI eksklusif, memberikan ASI secara langsung dari Ibu, melalui donor ASI, dan dengan susu formula. Namun ada beberapa hal saat bayi tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif, biasanya karena produksi ASI Ibu sangat kurang atau ada alasan medis lainnya. Untuk kendala yang satu ini, Ibu tidak perlu khawatir, karena saat ini ada solusi yang terbaik yaitu dengan cara kedua, donor ASI. Pada umumnya orang-orang lebih sering terdengar menjadi donor darah, donor ASI masih terdengar asing dan rumit. Apakah benar ASI bisa didonorkan?

Konsep awal donor ASI adalah first in first out, yaitu tanggal yang lebih lama harus digunakan lebih dulu/dikeluarkan. Setelah ASI dipompa oleh pendonor, ASI disimpan dalam botol dan plastik khusus penyimpanan ASI, jangan lupa untuk memberikan label tanggal dan waktu hasil produksi ASI agar kualitas ASI dapat terjaga hingga saat dibutuhkan oleh si kecil. Sebagai donor ASI, Ibu harus sehat, bebas dari segala penyakit, baik menular atau alergi sedikit pun. Biasanya antara pemberi donor dan penerima donor hanya berdasarkan kepercayaan, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai calon pemberi donor ASI.

Penuhi langkah di bawah ini jika Ibu ingin menjadi donor ASI :

  • Menghubungi pusat layanan laktasi.
    Untuk menjalankan prosedur sebagai donor ASI, Ibu dapat langsung menghubungi  pusat layanan laktasi, agar Ibu dapat langsung menjalin kedekatan personal antara Ibu sebagai donor ASI dan penerima donor ASI.
     
  • Wawancara
    Hal ini dilakukan agar penerima donor mengetahui riwayat kesehatan, asal usul dan jati diri Ibu sebagai donor ASI. Ibu dapat bertemu langsung dengan calon penerima donor ASI ataupun melalui telepon. Donor ASI harus dipastikan bersih dan sehat, jauh dari penyakit yang terdeteksi ataupun belum terdeteksi. Sayangnya, Indonesia belum memiliki fasilitas pasteurisasi yang sebenarnya bisa membantu meminimalisasi kontaminasi penyakit.

     
  • Mengisi formulir donor ASI
    Untuk mengisi formulir, Ibu dapat langsung menghubungi pusat layanan laktasi ataupun melalui e-mail. Kesepakatan donor dan fasilitator ini memudahkan proses pencatatan data donor dan kepada siapa ASI akan diberikan.
    Info Pusat Layanan Laktasi : Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

     
  • Konsultasi penyimpanan ASI
    Penting bagi donor ASI untuk mengetahui kaidah penyimpanan ASI secara tepat, karena donor akan menyimpan ASI secara pribadi. Pemberian tanggal dan media penyimpanan sangat penting, jadi jika pusat layanan laktasi menghubungi Ibu akan kebutuhan donor ASI, maka ASI dapat langsung diberikan.

 

Sumber: http://aimi-asi.org/ dan Buku Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan Modern (Dr. Miriam Stoppard)

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+