Dalam kebudayaan mana pun, berhutang adalah hal yang kerap dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Mereka yang berhutang sering dianggap sebagai seseorang yang tidak bisa mengatur keuangan dengan baik.

Hutang timbul karena adanya kesenjangan antara kebutuhan dana dan ketersediaan dana tunai yang dimiliki saat ini. Pada kehidupan masa kini, kadang kita tidak bisa benar-benar menghindari kondisi berhutang.

Tapi tidak selamanya, berhutang itu adalah sesuatu yang buruk. Banyak kebutuhan primer seperti rumah atau mobil hanya bisa dipenuhi dengan bantuan fasilitas hutang yaitu kredit kepemilikan rumah atau mobil. Hal ini karena keterbatasan penghasilan dan jumlah tabungan.

Memiliki hutang bukan lagi hal yang buruk, jika kita bisa bijak mengelola hutang tersebut. Hal ini sangat penting untuk dipelajari dan diterapkan, karena jika tidak hutang yang tidak segera lunas akan membuat kehidupan Ibu dan keluarga lebih sengsara.

Simak beberapa tips berikut untuk memanfaatkan hutang dengan baik:

  1. Pastikan hutang ditujukan untuk tujuan yang produktif dan bukan untuk hal yang konsumtif. Pada hutang produktif, dana hutang digunakan untuk hal-hal yang membawa nilai ekonomis, seperti hutang untuk membeli rumah, tanah, kendaraan untuk usaha atau untuk modal awal sebuah usaha. Hutang konsumtif sebaliknya, tidak memberi nilai ekonomis, seperti: berhutang untuk pesta pernikahan, berbelanja produk fashion terbaru, makan di restaurant, dan lain sebagainya.
  2. Pastikan penghasilan Ibu atau Ayah cukup untuk memiliki hutang. Batas maksimal untuk cicilan hutang adalah 30% dari penghasilan bulanan, atau pastikan penghasilan Ibu atau Ayah minimum 3 kali lipat dari total cicilan yang harus dibayar tiap bulan.
  3. Pastikan bahwa besarnya penghasilan bulanan setelah dikurangi cicilan bulanan masih dalam batas kewajaran untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarga.
  4. Miliki asuransi jiwa dengan pertanggungan sebesar total hutang yang ada. Ini bertujuan untuk berjaga-jaga agar tidak membebani keluarga dan ahli waris dengan hutang jika terjadi kematian.
  5. Upayakan besar total hutang tidak melebihi total asset kekayaan Ibu dan Ayah. Dengan begitu, dalam kondisi terburuk pun, Ibu/Ayah tetap bisa menjual asset untuk melunasi hutang-hutang tersebut.

Ingat, hutang itu bagaikan pisau bermata dua. Bisa bermanfaat, tapi juga bisa mencelakakan jika kita tidak bijak dan berhati-hati menggunakannya.

 

Sumber: 50 Financial Wisdom oleh Eko.P Pratomo, Kontan Publishing

Yuk Mama, Share artikel ini ke :
Facebook Twitter Google+